Follow @luthfintasudar

20 January 2020

[Life] Three Weddings and A Funeral

January 20, 2020 0 Comments

First Wedding
December, 2019

I was in my happiest state since the morning I jumped out my bed and checked out my phone.
As long as I remembered, that was the best notification ever.
He accepted my friend request on Instagram, and he followed me back!
Oh My God! I smiled from ear to ear. I jumped. I sing happily.
I have never been this happy since December came by.

He hated me. I don’t know why.
Ever since our relationship got ruined, like 12 years ago, he refused to be my friend anymore.
I send him thousands of friend requests on every social media, but he just ignored me.
I went to his school, but he didn’t notice me.
I watched him from a far at our local basketball game, but he was busy with his things.
Years later, I found out that he was the boyfriend of my friend.

I couldn’t see the sun when one day, in 2017, I found him in front of my house.
We talked, finally. After long awaited years, I could hear his voice again.
And I could see his eyes. Those beautiful eyes that got me trapped on the magic of first love.
But it was different. Even if I could feel that beat in my heart, but he was different.
We were different. And distant.
That was not the best reunion ever.

For months, when I steped out my terrace, I wish I could have a second chance.
But that second chance never came. And he still didn’t accept any of my friend requests.

I have nothing to lose when I send him another friend request, November 2019.
It was after I reread my old diary. His name was all over that diary. Every page. Every sentence.
I didn’t miss him. I just wanted to know how was his life but he got his Instagram in private.
Weeks later, that happened. Not only he accepted my request, but he followed me back.

It turned out that four days before he welcomed me on his account, he got married.
I was not surprised, even when I didn’t see it’s coming.
From the day I lost that sparkly eyes, I knew that my first love wouldn’t come true.
But at least, we are friends now.
And as a friend, I am happy for him.

Happy wedding, my first love.


---


Second Wedding
December, 2019

My tummy hurt and my hands sweaty when I stepped on the stage to congratulate him and his wife.
Not because I was nervous, but that was my first day of period.
Except for the back pain, stomach ache and the fever, it was not hard to come to the wedding.

Despite months before the event we got really close and I did consider him to be in my life forever.
Despite his parent got my hopes high and I did picture her kindness to fill the emptiness of mine.
But it was really not hard to face him, his wife and his parent.

I was stupid.
I have been his jokes as long as I knew him, I got over it, and I opened another door for him.
I did that just because I was very tired of searching.
He seemed like promising in his down fall.

And that was it, in 2019, I ended up be another joke for him.
It was fine. Though I felt like a fool and shit, but it was really fine.
At least, for that one time, I could laugh for the joke.

Yes, I was a fool, but my heart didn’t break.
Cause yes, I did give him second chance, but I didn’t give my heart again.

I guess I was not that stupid.

As I sit at the back of the room watching him smiling brightly,
I sincerely said my prayer. I sincerely give him my best smile.
I sincerely want him and his little family to be happy.

Cause after all, he loves playing games.
At least he should be happy of his own play.

Happy wedding, my foolish love.


---


Third Wedding
January, 2020

I don’t know where to start. I am still wordless of what had happened days ago.
I have never felt as broken as that.

I was scared. I broke down. I didn’t want to come. Honestly.
Every single thing about him got my eyes teary. I was swollen for days. I can’t help it.

I begged for helps. I went to professional. They told me no to go. And I agreed.

But there I was. Holding my friend’s hands tightly as every step made me want to faint.
Wearing the ‘uniform’ as he wanted me to. Though I refused to be his accessory.
Cause even my heart ruined, I still didn’t want to make any scene.
Cause even I hate myself that I love him so much,
I still respect him of everything he had done to respect me.
At least that was what’s on my mind before I finally met him.

He grabbed my hand and my congratulatory words had touched his ears.
But he refused to laid his eyes on me, even just for a glance.

I can’t describe how that little gesture cut me in pieces.
Cause I pushed myself so hard to get to that moment.
Cause it was already hard even if he did the otherwise.

But then a smile swept away the blue. It was from the bride.
As I whole heartedly said my congratulation to her, I stared at those eyes.
She smiled at me, saying her thank you for my coming.
At that time, I knew I’ve made a right decision to attend the wedding.

People asked me: Why did I come, anyway?

I didn’t come for him.
I didn’t come for the organisation.
I didn’t come for my friends.
Cause I have nothing to prove. I don’t mind if people talk about me behind my back now.

But I did come there for myself
Cause I want everything to end.
Cause I want to feel peace.
Cause maybe that was the closure I really need.

Yes, I shed tears on the wedding.
Yes, I ruined my makeup.
Yes, even if I feel really proud of myself, but I know I’m sad.
But I’m glad I could face him on his big day, seeing that big smile on his face.
Despite whatever respond I got from him.

Cause I want happiness to be with the both of us at this very ending.

Happy wedding, my bitter love.


---


The Funeral
January, 2020

It was actually three jabs straight to my heart.
Since I knew how to love, those were the top three.

And now somehow it dies.
And I know, it just a matter of time till it wakes up again.
It’s like I pressed restart button on my hang computer.

I already buried all the dark sides and prepare to rise from the learnings.
This funeral is what I needed to start a new.
With nothing left behind.

Cause those three weddings killed all the love I’ve ever known.
And its residue.

But not right now.
I can’t run when my feet bleeds.
I can’t love when my heart breaks.

I will take my time.
I will just take my time.



09 January 2020

[Life] Letter to Gemini

January 09, 2020 0 Comments


Dear Gemini,

Aku masih ingat saat terakhir kali kita bertemu. Matamu membesar, bingung melihat kehadiranku yang tidak pernah kamu rencanakan. Tapi mau tidak mau kamu harus menerimaku, karena jika tidak, apa kata dunia terhadap kita nanti?

Aku duduk di sana mendengarkan kamu bercerita tentang dia. Sadarkah kamu? Ini pertama kalinya aku mendengar kamu bercerita begitu detil tentang dia di hadapanku.

Malam itu satu-satunya cara untuk menahan air mataku agar tidak tumpah adalah memasukkan bergelas-gelas air teh ke dalam tubuhku. Jujur, aku belum pernah minum teh sebanyak itu dalam hidupku.

Gemini, percayalah, aku tidak pernah menolak air mata itu. Bahkan, mungkin itu lah alasan dibalik kedatanganku. Dan ya, memang, malam itu telah mengubah segalanya. Malam itu adalah suatu titik balik bagi hidupku.

Aku ingat, beberapa tahun yang lalu, sebelum semua kata hilang di antara kita, kamu pernah bilang, “Aku capek sama tingkahmu yang nggak jelas. Nggak ada apa-apa, aku didiemin tanpa alasan.”

Lalu beberapa waktu kemudian, kamu tahu alasannya: aku cinta sama kamu dan atas segala kedekatan yang kita punya, bahkan setelah beberapa kali kamu memintaku menjadi istrimu dalam pesan-pesan yang kamu tulis, atau kata-kata yang keluar dari mulutmu, toh kita tidak bersama.

Aneh, ya?

Tapi kamu tahu apa yang lebih aneh? Yang lebih aneh adalah bahwa sepertinya sampai saat aku membuat tulisan ini, perasaan itu belum sepenuhnya hilang dari hatiku. Sekarang, ketika hari bahagiamu dapat dihitung jari, perasaan itu menggerogotiku sampai ke seluruh atom di dalam tubuhku.

Gemini, aku sudah berhenti menyalahkan masa lalu. Aku sudah berhenti menelusur dari mana ini semua berawal. Aku sudah berhenti menetapkanmu sebagai tersangka karena, ya, dicintai itu bukan dosa. Membahas masa lalu tidak akan pernah membawaku ke mana-mana kecuali pada ketidakrelaan. Ketidakrelaan bahwa keindahan itu memang pernah ada, tetapi sudah berlalu.

Aku menganggap pelajaran yang Tuhan berikan lewat kamu itu indah, Gemini. Tuhan itu Maha Cinta, dan cinta itu anugerah yang indah.

Dari kamu aku banyak belajar tentang mencintai. Seberapa besar aku mampu bertindak, berkorban, dan memberi. Sampai titik mana aku merasa aku telah berlebihan mencintaimu dan mengorbankan rasa cintaku untuk diriku sendiri. Kapankah perasaan cinta itu lalu berubah menjadi pamrih. Kapan rasa cinta itu berubah menjadi obsesi dan bergeser keluar batas. Bagaimana rasa cinta itu lalu berubah menjadi kata-kata jahat. Bagaimana pengharapan tinggi itu luluh lantak lalu berdiri lagi menjadi benteng kokok penuh amarah dan dijaga oleh prajurit-prajurit berseragamkan harga diri.

Aku belajar banyak, Gemini. Lalu pelajaran itu berpadu dengan energi besar yang bersumber dari amarah, berubah bentuk menjadi karya. Kini, angan-angan masa kecilku untuk melihat namaku ada di rak-rak toko buku telah menjadi nyata. Untuk jasa besarmu itu, aku belum sempat mengucapkan terima kasih.

Gemini, di hari ketika aku memutuskan silaturahmi kita, aku sudah tahu bahwa hari pernikahanmu adalah bom waktu untukku. Tidak pernah kusangka sebelumnya, bahwa bom itu ternyata memiliki kekuatan yang berlipat-lipat lebih dahsyat daripada perkiraanku.

Aku hancur, Gemini. Aku luluh lantak. Kamu membuatnya menjadi jauh lebih sulit daripada yang aku sanggup terima.

Aku tidak memerlukan undanganmu. Aku tidak memerlukan seragam darimu. Aku tidak memerlukan kedatanganmu ke rumahku. Aku tidak memerlukan kebaikanmu meski alasannya adalah demi kebaikan kita berdua. Aku tidak memerlukan semua itu.

Percayalah, semua keanehan yang aku sebabkan ini akarnya karena semua hal yang paling tidak aku perlukan tergeletak di pelupuk mataku. Lalu semua reaksi yang kuberikan ini hanyalah cerminan betapa berantakannya aku saat ini, Gemini.

Namun, aku ingin membereskan semua ini. Aku ingin berdamai. Aku ingin menyelesaikan semuanya tanpa ada yang tersisa lagi. Aku ingin membersihkan isi hati dan kepalaku dari amarah, dendam, ketidak-relaan dan segala emosi negatif lainnya sehingga kata ‘selamat’ bisa mengalir lancar dari bibirku.

Aku tahu aku tidak bisa tidak sedih. Aku tidak bisa berpura-pura baik-baik saja meskipun aku ada dalam kesadaran penuh bahwa yang aku cinta sebenarnya adalah bayanganmu yang ada di kepalaku, bukan sosokmu yang ada hari ini.

Mungkin itu alasannya Tuhan meletakkan perasaan di hati, bukan di kepala. Sebab rasa itu tidak rasional, setidaknya bagiku.

Aku tidak tahu saat ini apa yang aku rasa, mungkin cinta atau bisa juga obsesi. Yang aku tahu, aku menyayangimu, Gemini, tidak peduli peran apapun yang kamu mainkan di hadapanku.

Gemini, rasa sayang itu membuat aku menyadari, bahwa sehancur apapun perasaanku sekarang, setidak ikhlas apapun aku mengucapkan kata ‘selamat’ untukmu nanti, aku tetap ingin kamu berbahagia dengan hidup yang kamu pilih.

Berbahagialah. Pergilah selamanya dari hidupku. Terima kasih sudah bergerak menutup pintu yang ada di antara kita dengan cara terbaik yang bisa kamu pikirkan. Semoga setelah ini, setelah aku selesai dengan segala dukaku, aku benar-benar bisa membuka lembaran yang benar-benar baru.

Yang tersisa ini sudah cukup. Tidak perlu ada kita lagi.

Meski hanya dalam fantasi.





07 January 2020

[Poem] Dear Gemini

January 07, 2020 0 Comments


I always be the weird one
Since I pushed you away
But ready to be your nine-one-one

Can you imagine to be on my side?
I go along the edge of your light
While you walk with her side by side

I desperately want this to end
Gemini, I don't understand
How could we still be friends?




30 December 2019

[Life] A Glimpse of My Decade

December 30, 2019 2 Comments

Tahun 2019 hanya tersisa sehari lagi. Selain akan menyambut tahun baru, kita juga akan menyambut dekade yang baru di 2020 ini. Untuk itulah, karena emang lagi ramai-ramainya orang membahas tentang apa aja yang terjadi pada hidup mereka di dekade ini, aku kan juga jadi terdorong untuk ikut throwback dan introspeksi.

Foto ini diambil pertengahan tahun 2016.
Kenapa aku pakai foto ini? Karena I'm pretty much like this dari awal 2010 sampai sekarang tahun 2019 akhir. (Suka bingung sama hidup sampai ingin berpangku tangan aja tapi mata tetap tajam menatap masa depan)


Jadi, ini dia secercah kisah kilat hidupku di dekade ini:

2010
- Menjadi anak kelas 10 SMA di SMA 2 Yogyakarta
Sungguh adalah tahun terindah sebagai anak SMA. Nggak mikir apa-apa kecuali main, bikin rusuh, bolos, melanggar peraturan, nongkrong, bergaul, dan jatuh cinta. Aku bisa bilang, masa SMAku sangatlah indah, berkesan dan nggak terlupakan karena pada saat itu aku benar-benar living in the moment.
- Form SGRM
One of the best thing in my life! Astri, Arin, Sasa, Rara, dan Dini adalah sahabat sejati yang sampai saat ini masih menjadi SOSku. 
- Move on dari kisah cinta pertama dan masuk pada kisah cinta kedua
Kisah cinta yang ini berlangsung selama aku SMA.
- Suka kirim-kirim puisi ke koran lokal dan mading sekolah
- Di akhir tahun, keluarga kecilku mengalami gonjang-ganjing
Setelah mengalami tahun yang sangat indah, lalu badai besar datang di akhir tahun. Sejak saat itu, hidupku nggak pernah sama lagi.

2011
- Orang tuaku memutuskan bercerai
Tahun 2011 bukan tahun favoritku karena sepanjang tahun itu aku banyak menangis karena proses perceraian orang tuaku. Merupakan tahun yang sangat berat dan menyedihkan.
- Masuk kelas IPS 2
Sebuah keputusan yang akan selalu aku ingat dalam hidupku. Sampai hari ini pun aku bangga pada Finta tahun 2011 yang sudah tahu apa kata hatinya. Finta sudah tahu apa yg dia mau dan nggak mau lakukan, meskipun apa yg dia inginkan itu bukan pilihan mayoritas.
- Sweet 17
Pada tahun 2011 itu bertepatan pada ulang tahunku yang ke-17. Aku menuliskan ini karena momen ini sangat berkesan. Pada saat itu aku di titik terendah dalam hidupku, aku sedang berusaha agar orang tuaku kembali, maka aku mengadakan pesta ulang tahun. Pesta itu berakhir dengan orang tuaku tidak ada yg datang. Hatiku sangat sedih, tapi lalu aku tahu aku punya SGRM dan sahabat-sahabat lainnya yang sangat keren. Mereka memberiku kejutan yang sangat manis pada momen itu :)

2012
- Lulus dari SMA 2 Yogyakarta
Aku mengisi tahun ini dengan belajar dan belajar karena aku harus menghadapi ujian akhir dan mencari kuliah. Walaupun dampak lanjutan dari perceraian orang tuaku masih terasa, aku tetap rajin sekali belajar sehingga pada tahun ini aku berhasil...
- Masuk Manajemen FEB UGM
Jurusan dan fakultas impianku :)

2013
- IKAMMA dan sejuta event di FEB UGM
Aku mengisi masa kuliahku dengan berorganisasi dan mengikuti berbagai macam kegiatan di kampus. Dari pagi hingga pagi lagi. Kerja rodi paling menyenangkan dalam hidupku.
- Move on dari kisah cinta kedua dan masuk pada kisah cinta ketiga
- Mulai nulis cerpen lagi
- Nonton BIGBANG for the first time

2014
- Jadi Manajer Internal IKAMMA dan jadi pejabat sejuta event di FEB UGM
Naik pangkat. Tahun ke-3 ku di FEB UGM semakin sibuk aja dengan tanggung jawab yang lebih besar dari tahun sebelumnya.
- Pertama kali ke luar negeri: Thailand
- Pelihara kucing untuk pertama kalinya
Memelihara kucing nggak pernah ada di dalam bucket listku sebelumnya. Namun setelah momen ini, aku nggak bisa lagi hidup tanpa kucing :")

2015
- KKN di Sabang
- Nonton BIGBANG kedua kalinya
- Masuk pada kisah cinta keempat (yang juga berakhir tahun ini)
- Menulis Reminisensi bab 1
Trivia: Ide Reminisensi didapatkan saat aku KKN di Sabang. Begitu aku mendapatkan idenya, hari itu aku langsung menuliskan bab pertamanya di sana. 
- Magang di Bentang Pustaka
Di sinilah keinginanku untuk masuk dalam dunia perbukuan semakin terpupuk.

2016
- Skripsi dan berusaha untuk lulus
- Menyelesaikan Reminisensi
Kegiatanku tahun ini hanyalah mengerjakan skripsi, sampai pada satu titik aku sangat bosan dan sadar kalau aku punya satu mimpi yang belum terwujud: menulis novel.

2017
- Lulus dari Manajemen FEB UGM
- Belajar menulis dengan serius
- Kenal Mbak Jia dan dapat penerbit
- Pergi UMROH
- Jalan-jalan ke Turki
- Menuliskan naskah kedua yang sampai saat ini belum terbit
Pembaca, doakan ya, semoga naskahku yg ini bisa dapat penerbit :")
- Masuk pada kisah cinta kelima

2018
- Dua kucingku meninggal
- Uti meninggal
- Belajar menulis skrip dan iklan
- Reminisensi terbit
- Terlibat proyek penulisan di sana-sini
Yang membuat aku harus bolak-balik meninggalkan Jogja dan bapakku sendiri di rumah. Perkembangan karir pesat yang menyiksa batinku karena harus jauh dari orang yg paling aku cinta di dunia di saat beliau menua.
- Masuk pada kisah cinta keenam (yang juga berakhir tahun ini)
- Menulis Manakala

2019
- Memutuskan untuk pulang ke Jogja for good
- Kerja di Rumah Warna
- Masuk pada kisah cinta ke-7 (yang juga berakhir tahun ini)
- Masuk pada kisah cinta ke-8 (yang juga berakhir tahun ini)
- Mengerjakan naskah non-fiksi pertamaku
- Menulis Double Tap dan menerbitkannya via Storial
- Menginisiasi Intuisee bersama sahabat
- Kerja di Geluk
- Manakala terbit
- Mengerjakan non-fiksi kedua dan riset novel berikutnya

Ternyata banyak juga ya yang udah terjadi selama 10 tahun. Harus kuakui, menulis tulisan ini membutuhkan waktu 5 jam lho untuk melihat kembali setiap memori dan pelajaran yang sudah aku lewati. Dengan begini aku jadi bisa melihat sejauh apa aku tumbuh dan berkembang dari 10 tahun yang lalu hingga menjadi aku yang hari ini. Sebenarnya, aku masih tetap Finta yang sama, dengan gaya berpakaian yang sama. Namun, Finta yang hari ini pengalamannya lebih banyak. Itu saja. 

Akhir kata, semoga hidup semakin berwarna, hati dan pikiran semakin dewasa dan bijak untuk menghadapi dekade depan.

Have a great life, pals!





27 December 2019

[Life] December, I'm in Love

December 27, 2019 0 Comments


Awalnya, aku kira, aku akan memulai Desember dengan menyusun to-do-list. Lalu selama bulan ini berjalan, aku akan jadi super sibuk menyelesaikan list yang udah aku buat. Rasanya masih banyak sekali yang harus aku lakukan sebelum tahun 2019 bergerak meninggalkanku. Aku masih belum menyelesaikan satu proyek yang udah kurencanakan sejak awal tahun. Aku masih belum bisa nyetir mobil. Aku masih belum ini dan itu. Aneh sekali rasanya ketika aku masih punya banyak checklist yang belum tercentang padahal deadline yang kutentukan tinggal sebentar lagi. 

Jujur aja aku nggak biasa nggak disiplin kaya gini. Tapi mau gimana lagi, ternyata 2019 nggak selancar itu. Makanya, mau nggak mau aku harus membelah fokusku, bahkan kehilangan fokus, dari hal-hal yang semula aku rencanakan untuk diselesaikan tahun ini.

Aku udah mulai kehilangan fokusku dari kuarter terakhir tahun 2019 ini. Bulan Agustus 2019. Saat itu semua terasa baik. Manakala udah mau naik cetak. Aku bahagia dengan pekerjaanku. Double Tap juga berjalan jauh lebih mulus dari bayanganku. Aku juga punya tim Intuisee yang begitu membuka mata dan hatiku. Rasanya tenang dan semua sesuai dengan plan. 

Lalu di tengah ketenangan itu, datanglah September dan badai besarnya. Sebuah badai yang sesungguhnya udah aku perkirakan kehadirannya, tapi nggak dengan kekuatan sebesar ini. Dan lalu porak poranda-lah semuanya. Perlahan tapi pasti.

Kondisiku semakin hari semakin menurun. Aku jadi gampang sakit. Aku nggak bisa tidur. Aku susah fokus. Puncaknya, akhir November 2019, aku sakit. Penyakitnya belum pernah mampir ke tubuhku sebelumnya. Kata dokter, penyebabnya adalah stress. Maka aku memutuskan untuk membawa diriku ke psikolog. 

Itu adalah keputusan yang terpaksa aku buat karena kondisiku saat itu udah nggak karuan. Aku merasa udah kaya zombie. Dan karena aku tahu segala daya dan upaya yang aku lakukan untuk menyembuhkan diri nggak berlangsung dengan baik, maka aku memberanikan diri untuk ditangani oleh professional.

Dan begitulah awal mengapa rencana Desemberku hanya tinggal jadi rencana belaka. Sesuai dengan diskusiku dan sang psikolog, aku mengenyahkan seluruh keharusan yang kubuat sendiri demi kewarasan mentalku. Jadi yang aku lakukan selama Desember ini adalah hidup bebas, tanpa berpikir. 

Ya. Aku menghabiskan Desember ini untuk bersenang-senang, reuni dan jatuh cinta. Semua itu kulakukan bersama seseorang yang sangat spesial sekali dalam hidupku. Seseorang yang selama ini aku kira udah kuperlakukan dengan penuh cinta, tapi ternyata belum. Seseorang yang selama ini berjuang keras demi kebaikanku. Seseorang yang paling pantas aku utamakan dan tinggikan di atas semua yang aku kenal.

Seseorang spesial itu adalah Luthfinta Nurul Dzikrina Sudar a.k.a. diriku sendiri.


Bolehkah aku bertanya, kapan terakhir kali kamu melihat bayanganmu di kaca, menatap dalam kedua bola mata yang menatapmu balik, merasakan setiap rasa yang memancar dari kedua bola mata itu dan sambil tersenyum mengatakan pada bayanganmu sendiri bahwa kamu mencintainya? 

Itu yang aku lakukan. Saat aku selesai melakukan itu, satu hal yang aku tahu, aku merasa jatuh cinta. 
Amat sangat jatuh cinta.

Aku ingin mengenal pemilik kedua bola mata itu lebih jauh. Aku ingin tahu apa yang dia sukai dan tidak. Aku ingin tahu apa yang ingin dia lakukan dan apa yang tidak. Aku ingin membuatnya tertawa. Aku ingin dia merasa aman, nyaman, bahagia. Aku ingin melindunginya dari rasa sakit, dari dunia luar yang kejam. Aku ingin ada. Aku ingin dia merasakan kehangatan. Aku ingin mendengar kejujurannya. Aku ingin dia merasa diterima baik kelebihan maupun kekurangannya. 

Lalu Desember ini aku mulai melakukan pendekatan pada Luthfinta Sudar yang aku kira udah aku kenali seutuhnya. Layaknya orang awam yang melakukan PDKT, aku berkonsultasi pada berbagai sumber yang terpercaya, yang aku yakini dapat melancarkan hubunganku dengan Luthfinta Sudar. Aku membaca banyak buku self-help. Aku belajar apa tu self-love yang sesungguhnya, bagaimana cara mempraktikkannya. 

Berikutnya aku mengajak Luthfinta untuk melakukan kegiatan yang menyenangkan. Yang berkesan. Yang sebelumnya dia nggak pernah lakukan. Memasak, berolahraga, memakan-makanan yang selama ini dia hindari, menonton film yang selama ini dia nggak ingin tonton, menyelesaikan semua hal yang ditunda. Untungnya, Luthfinta suka sekali ditantang. Dia akan sangat bahagia ketika dia merasa bisa mengalahkan dirinya sendiri.

Karena dia udah dalam kondisi nyaman, aku juga jadi lebih mudah mengajak Luthfinta bicara heart-to-heart. Dari pembicaraan itu, kami sering memutuskan hal-hal besar seperti meminta maaf kepada orang yang pernah disakiti, memaafkan orang yang pernah menyakiti, menghapus dan mengunfollow orang-orang yang memberikan efek negative dari sosial media.

Selain itu, aku juga mengajak Luthfinta untuk menikmati setiap detik yang dia punya. Aku nggak ingin dia berpikir terlalu banyak. Aku ingin dia hanya berada pada masa di mana dia berada. Aku ingin dia benar-benar mensyukuri langit jingga yang mengantarnya pulang kantor, aku ingin dia merasakan setiap detil rasa pada makanan yang masuk ke mulutnya, aku ingin dia meresapi betapa segarnya air hujan yang menyentuh kulitnya, aku ingin dia merasakan setiap lirik yang dia nyanyikan saat lagu favoritnya diputar. 

Ada kalanya aku melihat Luthfinta menangis. Jika saat itu datang, yang aku lakukan adalah memeluknya dan mendengarkan keluh kesahnya. Aku nggak menghiburnya. Aku nggak menyuruhnya untuk berhenti sedih. Dia adalah manusia, bukan robot. Luthfinta boleh dan sangat dipersilakan untuk sedih kapan pun dia mau. Yang penting dia tahu aku ada, dan aku menerimanya, bagaimana pun emosi dan keadaannya. 

Yang kurasakan setelah menghabiskan hampir sebulan ini dengan jatuh cinta pada diriku sendiri adalah satu hal: bahagia.

Yang sangat kusadari dari seluruh kejadian ini adalah bahwa pertolongan pertama yang bisa menyelamatkanmu dari segala badai yang menerpa sesungguhnya sangatlah dekat. Meskipun kadang terasa begitu berjarak, tapi nyatanya nggak. 

Dan tentang cinta, kamu nggak akan bisa memberikannya kepada siapapun juga, kalau kamu sendiri nggak memilikinya, bahkan untuk dirimu sendiri.

Jadi, sudahkah kamu jatuh cinta pada dirimu sendiri hari ini? 😊




06 December 2019

[Life] Cerita Tentang Manakala

December 06, 2019 0 Comments

manakala/ma·na·ka·la/ p kata penghubung untuk menandai syarat (waktu)

Tepat tanggal 28 Oktober kemarin, aku merayakan suatu hal yang lebih dari Hari Sumpah Pemuda. Yak, novel kedua-ku, Manakala akhirnya terbit!

Senang dan lega semua bercampur aduk menjadi satu di hatiku. Setelah melewati proses yang lumayan panjang, dari mulai riset, penyusunan plot, pembentukan karakter, penulisan, editing dan segala tetek bengeknya, akhirnya jadi juga. Manakala ini memang mengalami proses ‘persalinan’ yang lebih menantang plus menguras perasaan dibandingkan kakaknya, Reminisensi.

Tentang apakah novel Manakala ini sebenarnya? Dan kenapa judulnya Manakala? Oke akan aku ceritakan secara garis besar melalui postinganku kali ini.

Manakala berkisah tentang dua orang sahabat yaitu Karel dan Auri. Mereka bersahabat sudah sangat lama. Mereka terlalu dekat sampai pada suatu hari persahabatan mereka berada di ujung tanduk dan kehilangan arah saat Karel menyatakan cinta kepada Auri. 

Oke.

Itu adalah sekilas yang bisa diambil dari blurb di belakang bukunya. Faktanya, cerita ini sama sekali nggak cheesy dan nggak kaya cerita friendzone pada umumnya.

Auri baru saja kehilangan pacar sekaligus poros hidupnya, yaitu Elang. Dengan kehilangan Elang, kaki Auri limbung selimbung-limbungnya. Selain dilanda kesedihan, Auri juga jadi mempertanyakan jati dirinya dan tujuan hidupnya.

Di sisi lain Karel, hidup Karel mengalir begitu saja seperti air, tanpa kontrol. Dalam aliran itu, banyak sekali riak-riak yang harus dia lewati. Hati Karel penuh ketidakpuasan, ada banyak luka yang ingin dia sembuhkan tetapi menggunakan obat yang salah. 

Seolah belum cukup rumit, perasaan yang mengendap di hati keduanya terhadap satu sama lain juga memperkeruh suasana.

Dan alasan ini lah yang membuat aku suka dengan kata Manakala untuk menjadi judul dalam novelku kali ini. Karena terlalu banyak syarat dan waktu untuk akhirnya Auri dan Karel bisa menuju kepada ketentraman hati dan hidup masing-masing.

Novel ini diceritakan dari dua sudut pandang yang berbeda antara Auri dan Karel. Pembaca kuajak menyelami labirin-labirin pikiran dan rasa mereka. Bagaimana setiap kejadian terjadi dan keputusan dibuat, semua ada justifikasinya. 

Hal yang menarik lagi dari Manakala adalah latar tempatnya yang banyak, baik di luar atau dalam negeri, lalu rentang waktu yang cukup panjang dan lagu Ed Sheeran di setiap pembuka bab.


Jujur, aku sangat menikmati proses penulisannya. Aku masih ingat malam-malam yang kuhabiskan untuk menonton berbagai macam video di YouTube, atau titik-titik air mata yang mengalir di pipiku saat membaca artikel-artikel tentang kehilangan di website-website psikologi dalam rangka riset.

Membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menyusun plotnya yang rumit. Sumpah, rasanya seperti menyusun puzzle. Membingungkan tapi menyenangkan. Aku juga ingat bagaimana rasanya ketika akhirnya cerita itu sampai pada titik terakhirnya. Perasaan yang aneh. Lega sekali tetapi ada sesuatu yang hilang dalam diriku karena lepas dari suatu cerita yang sangat aku sukai.

Manakala menurutku adalah roller coaster. Di dalamnya ada banyak sekali emosi yang bergejolak. Beraneka ragam. 

Saat menuliskannya, rasa itu lah yang aku nikmati. Dan aku berharap, pembaca juga akan menikmati setiap rasa yang disediakan oleh Manakala.

Selamat membaca :)

20 October 2019

[Life] Double Tap dan Cerita Tentang Mengalahkan Diri Sendiri

October 20, 2019 0 Comments


“Fin, kenapa sih kamu nggak nyoba nulis online?”

Dulu pernah ada masa di mana banyak banget orang yang nanyain aku kenapa aku nggak nyoba nulis di platform online. Dan aku punya daftar jawaban khusus untuk menanganinya. Dari yang takut dicopy-paste secara illegal, nggak ada duitnya, platformnya yang nggak jelas dan lain sebagainya.

Iya, semua hal itu memang beneran ada di dalam kepalaku, tapi sebenarnya kalau boleh jujur, muara dari seluruh jawaban itu adalah bahwa aku takut ceritaku nggak ada yang baca. Aku takut banget. 

Saking mudahnya nulis di platform online, banyak penulis yang bertubi-tubi masuk ke dalam dunia online itu. Aku terlalu takut masuk ke dalam kolam yang begitu banyak orang di dalamnya. Aku takut nggak bisa bergerak dan jadi nggak signifikan.

Ngaku deh, suka takut nggak sih kalau mau mencoba atau berhadapan dengan suatu hal yang beneran baru?

Lalu, tiba-tiba urgensi itu datang begitu aja. Aku harus coba. Aku harus mencoba melawan keminderanku sendiri. Kegagalan yang sebenarnya itu bukan kalau yang baca sedikit, tapi kalau aku nggak pernah mencoba sesuatu yang bisa aku upayakan. Kegagalan yang sebenarnya itu kalau jadi pengecut. 

Dari situ maka lahirlah Double Tap. Novel pertamaku yang aku unggah di situs Storial. 

Aku adalah orang yang selalu punya target atas apa yang aku lakukan. Target awalku menulis Double Tap di platform online adalah hanya sekedar agar aku berani. Breaking my own wall. 

Setelah dijalani ternyata breaking my own wall itu adalah target yang langsung tercapai the minute I press the upload button. Mendadak, target yang itu jadi nggak seru lagi. Jadi aku bikin target yang baru: seenggaknya meraih 5.000 views.

Through this and that, akhirnya di chapter 21 Double Tap resmi menjadi salah satu cerita premium di Storial dan di chapter ke-22 Double Tap sudah ditonton orang sebanyak 5.000 kali.


Jujur, aku senang banget. Mungkin memang performa Double Tap masih jauh di bawah banyak cerita lain di platform yang sama, tapi faktanya aku benar-benar merasa sudah menang. Menang melawan ketakutanku sendiri. Menang melawan diriku sendiri.

Dan bukankah kemenangan sejati adalah ketika bisa mengalahkan diri sendiri?



 photo ttd_1.png