Follow @luthfintasudar

02 April 2020

[Life] Cerita Tentang Corona untuk Anak dan Cucuku

April 02, 2020 0 Comments
2 April 2020. Hari ini ada sejumlah 1.790 orang yang positif terinfeksi virus Corona. 112 di antaranya sembuh dan 170 orang lainnya meninggal.

Nggak kok, aku nggak akan menulis fakta ilmiah tentang virus Corona yang sedang mengobrak-abrik seluruh dunia, termasuk Indonesia. Aku juga nggak akan mengomentari sedikit pun tentang situasi sosial, ekonomi, bahkan politik yang terdampak. Aku juga menolak untuk membahas kebijakan pemerintah dalam menangani pandemic dunia ini. 

Yang akan aku tuliskan adalah kenyataan bahwa pernah ada satu titik di dalam hidupku di mana manusia di seluruh dunia terombang-ambing sedemikan rupa karena sesuatu hal yang kasat mata.

Bahwa dunia sedang benar-benar krisis dalam segala aspek kehidupan.

Aku yakin peristiwa ini akan dicatat sebagai sejarah dan muncul dalam pelajaran sejarah saat anak cucuku sekolah besok. Aku juga yakin suatu hari nanti aku akan menceritakan hal ini kepada anak dan cucuku, sebagaimana yang aku lakukan saat aku membombardir eyangku dengan pertanyaan, “Gimana sih rasanya waktu hidup di jaman penjajahan dulu?”

Hidup saat gendut-gendutnya dan senang-senangnya bisa liburan tanpa resah kena Corona

Waktu bercerita padaku, eyangku bisa menceritakan pengalamannya dengan bangga. Bagaimana beliau membantu kakak-kakaknya meraut bambu, menyiapkan makanan, memanjat pohon untuk sembunyi dan lain sebagainya. Jujur, kisah nenekku terdengar mengasyikkan dan heroik.

Kalau aku, mungkin begini ya yang akan aku ceritakan sewaktu anak cucuku tanya bagaimana kehidupan sewaktu pandemik Corona menyerang:

1. Kerja dari rumah
Iya sih, pada awalnya kalimat itu terdengar exciting banget. Terbayang bisa bangun siang, kerja pakai daster, di atas kasur, sambil nonton TV, sambil nonton YouTube, sambil makan ini dan itu… 

Ya… memang iya sih. Tapi ternyata nggak seindah itu juga karena ada sistem absensi (nggak bisa bangun siang) dan nggak bisa santai lepas dari gadget karena itulah satu-satunya media komunikasi dengan kolega. Bonus, kadang jam kerjanya jadi lebih banyak.

2. Di rumah aja
Benar-benar di rumah aja karena melangkahkan kaki keluar rasanya kaya mau perang. Seolah ada tentara nggak kasat mata yang siap menyerang kita. Kapan pun. Di mana pun. Andaikan terpaksa keluar rumah, pasti menggunakan amunisi serba lengkap. Masker, hand sanitizer, tissue, kresek (buat bungkus tangan saat belanja), dan baju serba rapat. Terkadang plus kaca mata.

3. Khawatir dengan kondisi kesehatan
Nggak pernah skip minum vitamin, buah, sayur dan air putih. Cuci tangan sampai tangan jadi kering. Batuk dan pilek sedikit aja rasanya seperti terjangkit virus mematikan. 

4. Khawatir dan kangen keluarga dan teman yang tinggal di daerah rawan
Setia pada berita buruk tentang corona, aku selalu ingat ibu dan adikku yang saat ini ada di daerah rawan. Aku juga terpikir eyangku yang sudah tua, yang katanya adalah usia rawan tertular. Kalau nggak ingat ada Allah yang bisa menjaga mereka lebih hebat dari pada usaha apapun, mungkin aku sudah mati senewen.

5. Nonton drama, film dan baca buku sampai bosan
Seumur hidup baru kali ini aku bosan melakukan kegiatan-kegiatan yang biasanya aku gunakan untuk menangkal kebosanan. Sebosan itu. Ya sisi baiknya, timbunan bukuku semakin menipis lah. 

6. Bosan akut
Seakut itu! Pada dasarnya kan aku memang extrovert. Aku suka bergaul dan nggak bisa kesepian. Jadi kebayang nggak sih karantina di rumah, dua minggu lebih nggak ketemu orang lain selain keluarga dan kucing? Asli. Sebosan itu!

7. Puasa baca berita dan media sosial
Terlalu banyak membaca berita dan opini negative orang terhadap virus Corona, tindakan pemerintah, fakta lapangan, tentang tenaga medis dan kondisi masyarakat membuat kepala dan hatiku panas. Aku jadi merasa nggak tenang dan terus khawatir, bahkan marah.

Dari pada imunku turun karena emosi negative yang berlebih, maka aku memutuskan untuk puasa. Aku hanya baca update penting saja setiap mau tidur. Nggak lebih dari itu.

8. Masak ini dan itu
Sisi positifnya, aku jadi masak setiap hari. Dari yang nggak kenal dapur, sekarang bolak balik dapur. Semua ini kulakukan karena aku parnoan. Kemarin sih sudah sempat memuji-muji rasanya kenalan sama dapur dan masak sebagai terapi. Ternyata ketika masak jadi kewajiban dan harus setiap hari, kegiatan memasak jadi nggak semenyenangkan itu.

Tapi tenang, aku masih bisa mengakalinya dengan selalu mencoba eksperimen. Selalu masak apa yang aku ingin makan. Dan alhamdulillahnya, sampai saat ini cara itu masih berhasil.

9. Skincare-an
Sebetulnya aku sedang patah hati karena sebelum wabah ini menyerang, aku baru saja membeli paket perawatan di salon untuk akhir bulan Maret  dan April ini. Karena kondisinya seperti ini, kayanya paket perawatan itu hangus deh. Aku nggak mau ngecek juga, takut lebih patah hati. 

Sebagai gantinya, aku membeli berbagai macam skincare untuk perawatan sendiri di rumah. Dan ternyata tetap menyenangkan kok! Setiap habis perawatan, pasti moodku langsung baik.

10. Mendekat, mengenal sesuatu yang sebenarnya “dekat” tetapi selama ini terasa jauh.
Aku sebenarnya sangat bersemangat menceritakan poin ini. Sayang, aku nggak bisa membeberkan ceritanya dengan lebih spesifik. Intinya, aku sedang sangat senang karena tembok China yang selama ini berdiri kokoh menghalangi kata dan rasa yang sebenarnya tanpa jarak, akhirnya runtuh. Kini aku bisa lebih dari bicara, bahkan bersenang-senang dengan hal yang aku kira nggak bisa aku perbaiki lagi. 

(nb: tapi khusus untuk anak cucuku besok, aku pasti akan ceritakan lengkap kisah ini hehehe)

Dari 2 Maret 2020, hari pertama ditemukan kasus Corona di Indonesia (yang berbarengan dengan ulang tahunku 😭), sampai hari ini 2 April 2020, mungkin baru ini yang bisa aku ceritakan. Semoga virus ini segera musnah dan kondisi bumi segera membaik sehingga aku nggak perlu menambahkan cerita untuk anak dan cucuku.

Cerita ini sudah cukup. Aku nggak ingin menulis lebih lanjut tentang virus ini.

Walau nggak terdengar heroik seperti kisah eyangku yang melawan penjajah, tapi aku tetap merasa heroik karena bertahan dan patuh pada himbauan pemerintah untuk nggak memperburuk suasana.

Untuk yang membaca, stay safe ya 😊



13 March 2020

[Life] Memasak: Sebuah Terapi Psikologis

March 13, 2020 0 Comments
Aku nggak suka masak. Se-enggak suka itu. Lebih parahnya, bahkan aku takut banget sama pisau. Aku bisa merinding banget kalau dekat pisau, jantungku berdetak lebih cepat, terkadang sampai nangis. Orang tuaku tahu mengenai ini, dan mereka nggak pernah memaksaku sekali pun untuk masak. Di rumah, bahkan kami langganan catering. Waktu KKN dulu, kalau ada saat di mana teman-temanku membantu warga di dapur, aku memilih pergi. 

Selama 25 tahun, kata masak bukan suatu kata yang aku bayangkan akan ada dalam kamus hidupku. Sampai pada suatu hari aku memutuskan untuk mengalahkan diriku sendiri dan berakhir benar-benar jatuh cinta dengan kegiatan berbasis di dapur itu.

Kok bisa? 

Iya, semua berawal dari saat aku pergi ke psikolog. Pada saat itu, aku sedang sangat sedih dan depresi. Salah satu terapi yang disarankan oleh sang psikolog adalah suatu hal yang berkaitan dengan menulis. Aku kira melakukan terapi itu akan sangat mudah, mengingat menulis memang selalu menjadi terapiku.

Tapi ternyata nggak, tiba-tiba nggak satu katapun muncul di kepalaku. Bukannya makin fresh, aku malah jadi makin pusing karena nggak bisa menulis. 

Di saat itulah aku jadi teringat ibuku. 

Sudah bertahun-tahun aku nggak tinggal dengan ibuku. Hal itu juga membuat aku jadi nggak pernah lagi merasakan bentuk kehangatan terkecil tapi termanjur yang adalah berupa masakan ibu. 

Jadi, kenapa nggak coba memasak sesuatu yang dulu sering ibu buatkan buat aku? Siapa tahu aku bisa jadi lebih segar. Lagi pula, salah satu pola yang aku punya setiap kali aku merasa sedih adalah aku selalu mencoba untuk mengalahkan diriku sendiri. Mungkin dengan memasak, mengalahkan ketakutanku sendiri terhadap pisau dapur, aku bisa merasa lebih baik.

Langkah pertama, aku menelpon ibuku dan menanyakan seluruh bumbu rahasia dan bagaimana cara membuat makanan favoritku waktu aku kecil dulu. Dan taraaaaaaaaaaaa beberapa jam kemudian, jadilah duplikasi Sup Tomat ala Ibuku versiku!

Sup Tomat ala Ibuku. Gambarnya nggak bagus karena memang nggak terbayang akan kubuatkan blog post. Foto ini diambil hanya dalam rangka untuk dikirimkan ke Ibuku via WA.

Surprisingly, setelah menyantap Sup Tomat itu, aku merasa jauh lebih baik. Rasanya seperti ada yg membuncah di dadaku. Setelah lama nggak bisa senyum dan bahagia, hari itu aku rasanya seperti terlahir kembali.

Aku bisa bilang kalau aku sangat menikmati acara memasakku. Memasak membuatku “being in the moment”, mungkin karena kesadaran sensorik penting dalam menjaga keamanan saat berhadapan dengan benda-benda panas dan tajam. Aku menikmati saat-saat mendebarkanku berinteraksi dengan pisau. Rasanya pikiranku diam di tempat. Aku hanya fokus dan konsentrasi dengan apa yang sedang aku buat.

Setelah prosesnya selesai, aku juga rasanya bahagia sekali karena seperti sudah mencapai suatu milestone tersendiri. Aku merasa mengalahkan diriku sendiri dan completing a mission makes me feel good about myself. Plus rasa masakanku ternyata persis seperti apa yang aku mau, yang aku rindukan.

Sekarang aku benar-benar percaya pada mereka yang bilang kalau memasak bisa menjadi suatu terapi psikologis karena aku benar-benar merasakannya. Sekarang aku jadi memasak setiap weekend. Berpikir mau masak apa, belanja, membersihkan bahan, mengolah dan bahkan membersihkan setelah selesai memasak, semua itu terasa sangat menyenangkan karena dilakukan tanpa paksaan dan tekanan.

Cooking has therapeutic value physically, cognitively, socially and intrapersonally. Physically, cooking requires good movement in shoulders, fingers, wrists, elbow, neck, as well as good overall balance. Adequate muscle strength is needed in upper limbs for lifting, mixing, cutting and chopping.

Begitu kata salah satu artikel tentang Cooking Therapy yang aku baca di Wall Street Journal. Mungkin kamu harus coba!





Ps: My psychologist shed tears when I told her this story. Like seriously I was super touched by her respond. Its not even a mellow story!

01 March 2020

[Life] Hours to 26: Tentang Menjadi Dewasa

March 01, 2020 0 Comments


1 Maret 2020. Beberapa jam lagi, aku akan mengentaskan diri dari usia 25 ke 26. Itu artinya, aku akan memasuki paruh kedua menuju dekade ketiga hidupku.

Jujur, aku takut menjadi semakin tua. Ternyata, kehidupan orang dewasa itu susah sekali.

Menjadi dewasa memintaku untuk lebih menyadari fisik dan tubuhku sendiri. 

Sebelumnya, aku nggak begitu peduli dengan makanan apa yang masuk ke tubuhku, keharusan untuk olahraga, bahkan pentingnya minum air. Sekarang, aku tahu bahwa mungkin, dari titik ini fisikku akan berubah. Aku bahkan sudah merasakannya. Dulu aku kurus sekali, kini tubuhku membesar. Aku nggak lagi selincah dulu. Jika aku stres, maka kulitku akan muncul jerawat seberapa pun mahal skincare yang aku gunakan. Jika aku kurang tidur, maka tubuhku akan pegal seharian dan aku jadi gampang sakit.

Menjadi dewasa membuatku harus bisa menghasilkan dan mampu bertanggung jawab atas uangku sendiri.

Iya, aku memang masih hidup bersama bapakku. Bapakku mampu secara finansial, tapi bukan berarti aku masih menggantungkan seluruh biaya hidupku pada beliau seperti dulu saat aku masih sekolah dan kuliah. Baktiku pada orang tua nggak sama dengan manja. Ya, ini tahun 2020 di mana kesetaraan gender diteriakkan lantang. Kurasa aku nggak perlu menjelaskan bahwa nggak hanya laki-laki saja yang harus bekerja setelah lulus kuliah, perempuan pun juga. Terlebih ketika aku menjunjung tinggi independensi perempuan dan aku juga perempuan yang punya visi untuk hidupku ke depannya. 

Menjadi dewasa menuntutku untuk selalu baik-baik saja. 

Aku nggak bisa lagi seenaknya bolos kelas kalau aku sedang sangat sedih dan kehilangan mood untuk melakukan apapun seperti saat aku masih sekolah dan kuliah dulu. Dunia kerja nggak sefleksibel itu. Aku nggak bisa lagi dengan mudah mendatangi sahabatku malam-malam karena ingin menangisi hidupku dalam pelukan mereka. Mereka sudah nggak lagi satu kota denganku, selain itu, mereka juga punya masalah hidup yang keras, yang harus mereka hadapi dalam rangka melanjutkan hidup. 

Menjadi dewasa membuat peranku sebagai makhluk sosial semakin banyak, dan aku dituntut untuk menjalankan semua peran itu dengan baik dan bertanggungjawab.

Aku adalah seorang anak, seorang kakak, seorang adik, seorang cucu, seorang keponakan, seorang sahabat, seorang teman, seorang kolega, seorang atasan, seorang bawahan, seorang penulis, seorang karyawan, seorang tante, seorang tetangga, seorang umat beragama, seorang warga negara, dan berbagai peran lainnya

Aku heran, bagaimana seorang manusia bisa menjalankan sebegitu banyak peran dan nggak meledak?

Semakin nggak masuk akal lagi ketika peran-peran itu mempengaruhi keputusan-keputusan yang kuambil dalam hidupku. Lucu, padahal aku kira aku adalah manusia yang independent dan melakukan semua hal sesuai dengan kemauanku. Nyatanya, aku nggak berdaya juga dengan peran-peran yang melekat dalam diriku.

Terkadang, aku membayangkan bangun di suatu tempat yang jauh dan satu-satunya peran yang kusandang adalah sebagai seorang Finta. Di tempat itu, aku bebas mengatakan apa yang ada dalam pikiranku tanpa harus terganggu dengan peran lain yang melekat dalam diriku. Aku bebas mengenakan apapun yang aku inginkan untuk membalut tubuhku. Aku bebas menjadi apapun yang aku mau.

Karena, ternyata semakin lama hidup di bumi ini, semakin susah rasanya melindungi originalitas diri. Ya, originalitas. Sesuatu yang sangat aku banggakan karena hanya diriku yang punya. 

Bukan. Bukannya aku nggak bersyukur dengan hidupku saat ini. Jujur saja, jika dikatakan puas, aku belum puas dengan pencapaianku di usia ini. Tapi aku nggak kecewa juga. Aku 1000% bangga dengan diriku. Aku sangat sangat sangat bersyukur atas apa yang kumiliki sekarang. Aku teringat malam-malam di mana aku menengadahkan tangan, berdoa untuk segala hal yang aku miliki sekarang. 

Aku hanya kaget saja dengan satu tahapan baru dalam hidupku ini. Tapi di atas kekagetanku, kurasa aku baik-baik saja dan siap berpetualang menyelesaikan berbagai macam misiku dalam hidup yang hanya sekali ini. 

Allah baik sekali padaku di usiaku yang 25 kemarin ini. Walaupun kadang kebaikannya terasa menyakitkan.

Umur 25 adalah umur di mana Allah menjawab banyak sekali permintaan dan pertanyaanku. Maka dari itu, aku merasa umur 26 adalah umur di mana semuanya benar-benar baru. Aku seperti harus meraba lagi dari awal setiap aspek dalam hidupku, termasuk menjadi diriku sendiri. Karena ya, aku tumbuh. Aku berubah. Aku sudah bukan Luthfinta Sudar yang sama lagi dengan Luthfinta yang beberapa tahun lalu. Dan ini sangat-sangatlah menarik.

Menjadi dewasa membuatku tertarik untuk mengenal diriku sendiri, menyelesaikan semua yang belum selesai sebelum membuat keputusan besar baru. Karena, menjadi dewasa artinya aku juga harus bertanggung jawab atas diriku sendiri. Nggak hanya secara finansial, lahiriah, tetapi juga secara batiniah. 

Aku masih hidup dalam motto yang sama sejak bertahun-tahun yang lalu, bahwa kebahagiaanku adalah tanggung jawabku sendiri. Nggak ada hubungannya dengan orang lain. Dan semakin dewasa, aku bersyukur karena sejak remaja, aku sudah hidup dengan cara seperti itu sehingga aku tumbuh menjadi seseorang yang tidak pernah menyesal.

Berkenaan dengan itu, menjadi dewasa juga menuntutku untuk tahu apa itu kebahagiaanku sendiri.

Terkadang aku bingung bagaimana semua itu berjalan. Terlalu tricky. Melakukan apa yang aku mau membuatku bahagia, tetapi melakukan yang aku mau terkadang harus melukai peran-peranku yang lain, yang membuat beberapa orang menjadi kecewa. Dan mengecewakan orang lain tidak pernah ada dalam daftar hal-hal yang bisa membuatku bahagia.

Jadi aku suka bertanya-tanya, bagaimana sih sebenarnya bahagia yang aku mau?

Dan lalu menjadi dewasa mengharuskanku untuk menutup telinga. Nggak membiarkan hal-hal nggak penting seperti standar dan omongan orang lain atas keputusanku menyinggung perasaanku.

Karena aku tahu, pada akhirnya pun aku lah yang menjalani hidupku. 

Aku. Bukan mereka. Mereka nggak tahu apa-apa.

-000-

1 Maret 2020. Beberapa jam lagi, aku akan mengentaskan diri dari usia 25 ke 26.

Di tahun-tahun sebelumnya, tanggal 1 Maret selalu kugunakan untuk ke salon. Pasti. Nggak pernah nggak. 

Baru kali ini aku nggak melakukannya karena untuk tahun ini, aku nggak menemukan satu alasan pun kenapa aku harus ke salon. 

Aku menyukai rambutku yang sekarang. Jadi, aku nggak perlu potong atau mengubah model rambut. Selain itu, tahun ini, karena aku sudah malas sekali nongkrong-nongkrong di kafe atau hang out ke mana pun, setiap aku bosan, aku ke salon (dan bioskop). Jadi, hal itu membuat perawatan ke salon nggak lagi spesial untuk dilakukan lagi. 

Yang kulakukan hari ini justru adalah membuat pesta kecil untuk diriku sendiri, memasakkan makanan untukku, dan menuliskan tulisan ini karena mengeluarkan apa yang ada di pikiranku dengan bebas adalah satu dari sekian hal yang sangat ingin aku lakukan belakangan ini. 

Hanya dengan cara merayakan tanggal 1 Maret yang berbeda saja membuatku semakin sadar bahwa, ya, mungkin aku memang sudah berubah. 

Umur 26 ini akan benar-benar berbeda dengan tahun yang sudah-sudah.

Wish me luck. Bismillah 😊 

20 January 2020

[Life] Three Weddings and A Funeral

January 20, 2020 0 Comments

First Wedding
December, 2019

I was in my happiest state since the morning I jumped out my bed and checked out my phone.
As long as I remembered, that was the best notification ever.
He accepted my friend request on Instagram, and he followed me back!
Oh My God! I smiled from ear to ear. I jumped. I sing happily.
I have never been this happy since December came by.

He hated me. I don’t know why.
Ever since our relationship got ruined, like 12 years ago, he refused to be my friend anymore.
I send him thousands of friend requests on every social media, but he just ignored me.
I went to his school, but he didn’t notice me.
I watched him from a far at our local basketball game, but he was busy with his things.
Years later, I found out that he was the boyfriend of my friend.

I couldn’t see the sun when one day, in 2017, I found him in front of my house.
We talked, finally. After long awaited years, I could hear his voice again.
And I could see his eyes. Those beautiful eyes that got me trapped on the magic of first love.
But it was different. Even if I could feel that beat in my heart, but he was different.
We were different. And distant.
That was not the best reunion ever.

For months, when I steped out my terrace, I wish I could have a second chance.
But that second chance never came. And he still didn’t accept any of my friend requests.

I have nothing to lose when I send him another friend request, November 2019.
It was after I reread my old diary. His name was all over that diary. Every page. Every sentence.
I didn’t miss him. I just wanted to know how was his life but he got his Instagram in private.
Weeks later, that happened. Not only he accepted my request, but he followed me back.

It turned out that four days before he welcomed me on his account, he got married.
I was not surprised, even when I didn’t see it’s coming.
From the day I lost that sparkly eyes, I knew that my first love wouldn’t come true.
But at least, we are friends now.
And as a friend, I am happy for him.

Happy wedding, my first love.


---


Second Wedding
December, 2019

My tummy hurt and my hands sweaty when I stepped on the stage to congratulate him and his wife.
Not because I was nervous, but that was my first day of period.
Except for the back pain, stomach ache and the fever, it was not hard to come to the wedding.

Despite months before the event we got really close and I did consider him to be in my life forever.
Despite his parent got my hopes high and I did picture her kindness to fill the emptiness of mine.
But it was really not hard to face him, his wife and his parent.

I was stupid.
I have been his jokes as long as I knew him, I got over it, and I opened another door for him.
I did that just because I was very tired of searching.
He seemed like promising in his down fall.

And that was it, in 2019, I ended up be another joke for him.
It was fine. Though I felt like a fool and shit, but it was really fine.
At least, for that one time, I could laugh for the joke.

Yes, I was a fool, but my heart didn’t break.
Cause yes, I did give him second chance, but I didn’t give my heart again.

I guess I was not that stupid.

As I sit at the back of the room watching him smiling brightly,
I sincerely said my prayer. I sincerely give him my best smile.
I sincerely want him and his little family to be happy.

Cause after all, he loves playing games.
At least he should be happy of his own play.

Happy wedding, my foolish love.


---


Third Wedding
January, 2020

I don’t know where to start. I am still wordless of what had happened days ago.
I have never felt as broken as that.

I was scared. I broke down. I didn’t want to come. Honestly.
Every single thing about him got my eyes teary. I was swollen for days. I can’t help it.

I begged for helps. I went to professional. They told me no to go. And I agreed.

But there I was. Holding my friend’s hands tightly as every step made me want to faint.
Wearing the ‘uniform’ as he wanted me to. Though I refused to be his accessory.
Cause even my heart ruined, I still didn’t want to make any scene.
Cause even I hate myself that I love him so much,
I still respect him of everything he had done to respect me.
At least that was what’s on my mind before I finally met him.

He grabbed my hand and my congratulatory words had touched his ears.
But he refused to laid his eyes on me, even just for a glance.

I can’t describe how that little gesture cut me in pieces.
Cause I pushed myself so hard to get to that moment.
Cause it was already hard even if he did the otherwise.

But then a smile swept away the blue. It was from the bride.
As I whole heartedly said my congratulation to her, I stared at those eyes.
She smiled at me, saying her thank you for my coming.
At that time, I knew I’ve made a right decision to attend the wedding.

People asked me: Why did I come, anyway?

I didn’t come for him.
I didn’t come for the organisation.
I didn’t come for my friends.
Cause I have nothing to prove. I don’t mind if people talk about me behind my back now.

But I did come there for myself
Cause I want everything to end.
Cause I want to feel peace.
Cause maybe that was the closure I really need.

Yes, I shed tears on the wedding.
Yes, I ruined my makeup.
Yes, even if I feel really proud of myself, but I know I’m sad.
But I’m glad I could face him on his big day, seeing that big smile on his face.
Despite whatever respond I got from him.

Cause I want happiness to be with the both of us at this very ending.

Happy wedding, my bitter love.


---


The Funeral
January, 2020

It was actually three jabs straight to my heart.
Since I knew how to love, those were the top three.

And now somehow it dies.
And I know, it just a matter of time till it wakes up again.
It’s like I pressed restart button on my hang computer.

I already buried all the dark sides and prepare to rise from the learnings.
This funeral is what I needed to start a new.
With nothing left behind.

Cause those three weddings killed all the love I’ve ever known.
And its residue.

But not right now.
I can’t run when my feet bleeds.
I can’t love when my heart breaks.

I will take my time.
I will just take my time.



09 January 2020

[Life] Letter to Gemini

January 09, 2020 0 Comments


Dear Gemini,

Aku masih ingat saat terakhir kali kita bertemu. Matamu membesar, bingung melihat kehadiranku yang tidak pernah kamu rencanakan. Tapi mau tidak mau kamu harus menerimaku, karena jika tidak, apa kata dunia terhadap kita nanti?

Aku duduk di sana mendengarkan kamu bercerita tentang dia. Sadarkah kamu? Ini pertama kalinya aku mendengar kamu bercerita begitu detil tentang dia di hadapanku.

Malam itu satu-satunya cara untuk menahan air mataku agar tidak tumpah adalah memasukkan bergelas-gelas air teh ke dalam tubuhku. Jujur, aku belum pernah minum teh sebanyak itu dalam hidupku.

Gemini, percayalah, aku tidak pernah menolak air mata itu. Bahkan, mungkin itu lah alasan dibalik kedatanganku. Dan ya, memang, malam itu telah mengubah segalanya. Malam itu adalah suatu titik balik bagi hidupku.

Aku ingat, beberapa tahun yang lalu, sebelum semua kata hilang di antara kita, kamu pernah bilang, “Aku capek sama tingkahmu yang nggak jelas. Nggak ada apa-apa, aku didiemin tanpa alasan.”

Lalu beberapa waktu kemudian, kamu tahu alasannya: aku cinta sama kamu dan atas segala kedekatan yang kita punya, bahkan setelah beberapa kali kamu memintaku menjadi istrimu dalam pesan-pesan yang kamu tulis, atau kata-kata yang keluar dari mulutmu, toh kita tidak bersama.

Aneh, ya?

Tapi kamu tahu apa yang lebih aneh? Yang lebih aneh adalah bahwa sepertinya sampai saat aku membuat tulisan ini, perasaan itu belum sepenuhnya hilang dari hatiku. Sekarang, ketika hari bahagiamu dapat dihitung jari, perasaan itu menggerogotiku sampai ke seluruh atom di dalam tubuhku.

Gemini, aku sudah berhenti menyalahkan masa lalu. Aku sudah berhenti menelusur dari mana ini semua berawal. Aku sudah berhenti menetapkanmu sebagai tersangka karena, ya, dicintai itu bukan dosa. Membahas masa lalu tidak akan pernah membawaku ke mana-mana kecuali pada ketidakrelaan. Ketidakrelaan bahwa keindahan itu memang pernah ada, tetapi sudah berlalu.

Aku menganggap pelajaran yang Tuhan berikan lewat kamu itu indah, Gemini. Tuhan itu Maha Cinta, dan cinta itu anugerah yang indah.

Dari kamu aku banyak belajar tentang mencintai. Seberapa besar aku mampu bertindak, berkorban, dan memberi. Sampai titik mana aku merasa aku telah berlebihan mencintaimu dan mengorbankan rasa cintaku untuk diriku sendiri. Kapankah perasaan cinta itu lalu berubah menjadi pamrih. Kapan rasa cinta itu berubah menjadi obsesi dan bergeser keluar batas. Bagaimana rasa cinta itu lalu berubah menjadi kata-kata jahat. Bagaimana pengharapan tinggi itu luluh lantak lalu berdiri lagi menjadi benteng kokok penuh amarah dan dijaga oleh prajurit-prajurit berseragamkan harga diri.

Aku belajar banyak, Gemini. Lalu pelajaran itu berpadu dengan energi besar yang bersumber dari amarah, berubah bentuk menjadi karya. Kini, angan-angan masa kecilku untuk melihat namaku ada di rak-rak toko buku telah menjadi nyata. Untuk jasa besarmu itu, aku belum sempat mengucapkan terima kasih.

Gemini, di hari ketika aku memutuskan silaturahmi kita, aku sudah tahu bahwa hari pernikahanmu adalah bom waktu untukku. Tidak pernah kusangka sebelumnya, bahwa bom itu ternyata memiliki kekuatan yang berlipat-lipat lebih dahsyat daripada perkiraanku.

Aku hancur, Gemini. Aku luluh lantak. Kamu membuatnya menjadi jauh lebih sulit daripada yang aku sanggup terima.

Aku tidak memerlukan undanganmu. Aku tidak memerlukan seragam darimu. Aku tidak memerlukan kedatanganmu ke rumahku. Aku tidak memerlukan kebaikanmu meski alasannya adalah demi kebaikan kita berdua. Aku tidak memerlukan semua itu.

Percayalah, semua keanehan yang aku sebabkan ini akarnya karena semua hal yang paling tidak aku perlukan tergeletak di pelupuk mataku. Lalu semua reaksi yang kuberikan ini hanyalah cerminan betapa berantakannya aku saat ini, Gemini.

Namun, aku ingin membereskan semua ini. Aku ingin berdamai. Aku ingin menyelesaikan semuanya tanpa ada yang tersisa lagi. Aku ingin membersihkan isi hati dan kepalaku dari amarah, dendam, ketidak-relaan dan segala emosi negatif lainnya sehingga kata ‘selamat’ bisa mengalir lancar dari bibirku.

Aku tahu aku tidak bisa tidak sedih. Aku tidak bisa berpura-pura baik-baik saja meskipun aku ada dalam kesadaran penuh bahwa yang aku cinta sebenarnya adalah bayanganmu yang ada di kepalaku, bukan sosokmu yang ada hari ini.

Mungkin itu alasannya Tuhan meletakkan perasaan di hati, bukan di kepala. Sebab rasa itu tidak rasional, setidaknya bagiku.

Aku tidak tahu saat ini apa yang aku rasa, mungkin cinta atau bisa juga obsesi. Yang aku tahu, aku menyayangimu, Gemini, tidak peduli peran apapun yang kamu mainkan di hadapanku.

Gemini, rasa sayang itu membuat aku menyadari, bahwa sehancur apapun perasaanku sekarang, setidak ikhlas apapun aku mengucapkan kata ‘selamat’ untukmu nanti, aku tetap ingin kamu berbahagia dengan hidup yang kamu pilih.

Berbahagialah. Pergilah selamanya dari hidupku. Terima kasih sudah bergerak menutup pintu yang ada di antara kita dengan cara terbaik yang bisa kamu pikirkan. Semoga setelah ini, setelah aku selesai dengan segala dukaku, aku benar-benar bisa membuka lembaran yang benar-benar baru.

Yang tersisa ini sudah cukup. Tidak perlu ada kita lagi.

Meski hanya dalam fantasi.





07 January 2020

[Poem] Dear Gemini

January 07, 2020 0 Comments


I always be the weird one
Since I pushed you away
But ready to be your nine-one-one

Can you imagine to be on my side?
I go along the edge of your light
While you walk with her side by side

I desperately want this to end
Gemini, I don't understand
How could we still be friends?




30 December 2019

[Life] A Glimpse of My Decade

December 30, 2019 2 Comments

Tahun 2019 hanya tersisa sehari lagi. Selain akan menyambut tahun baru, kita juga akan menyambut dekade yang baru di 2020 ini. Untuk itulah, karena emang lagi ramai-ramainya orang membahas tentang apa aja yang terjadi pada hidup mereka di dekade ini, aku kan juga jadi terdorong untuk ikut throwback dan introspeksi.

Foto ini diambil pertengahan tahun 2016.
Kenapa aku pakai foto ini? Karena I'm pretty much like this dari awal 2010 sampai sekarang tahun 2019 akhir. (Suka bingung sama hidup sampai ingin berpangku tangan aja tapi mata tetap tajam menatap masa depan)


Jadi, ini dia secercah kisah kilat hidupku di dekade ini:

2010
- Menjadi anak kelas 10 SMA di SMA 2 Yogyakarta
Sungguh adalah tahun terindah sebagai anak SMA. Nggak mikir apa-apa kecuali main, bikin rusuh, bolos, melanggar peraturan, nongkrong, bergaul, dan jatuh cinta. Aku bisa bilang, masa SMAku sangatlah indah, berkesan dan nggak terlupakan karena pada saat itu aku benar-benar living in the moment.
- Form SGRM
One of the best thing in my life! Astri, Arin, Sasa, Rara, dan Dini adalah sahabat sejati yang sampai saat ini masih menjadi SOSku. 
- Move on dari kisah cinta pertama dan masuk pada kisah cinta kedua
Kisah cinta yang ini berlangsung selama aku SMA.
- Suka kirim-kirim puisi ke koran lokal dan mading sekolah
- Di akhir tahun, keluarga kecilku mengalami gonjang-ganjing
Setelah mengalami tahun yang sangat indah, lalu badai besar datang di akhir tahun. Sejak saat itu, hidupku nggak pernah sama lagi.

2011
- Orang tuaku memutuskan bercerai
Tahun 2011 bukan tahun favoritku karena sepanjang tahun itu aku banyak menangis karena proses perceraian orang tuaku. Merupakan tahun yang sangat berat dan menyedihkan.
- Masuk kelas IPS 2
Sebuah keputusan yang akan selalu aku ingat dalam hidupku. Sampai hari ini pun aku bangga pada Finta tahun 2011 yang sudah tahu apa kata hatinya. Finta sudah tahu apa yg dia mau dan nggak mau lakukan, meskipun apa yg dia inginkan itu bukan pilihan mayoritas.
- Sweet 17
Pada tahun 2011 itu bertepatan pada ulang tahunku yang ke-17. Aku menuliskan ini karena momen ini sangat berkesan. Pada saat itu aku di titik terendah dalam hidupku, aku sedang berusaha agar orang tuaku kembali, maka aku mengadakan pesta ulang tahun. Pesta itu berakhir dengan orang tuaku tidak ada yg datang. Hatiku sangat sedih, tapi lalu aku tahu aku punya SGRM dan sahabat-sahabat lainnya yang sangat keren. Mereka memberiku kejutan yang sangat manis pada momen itu :)

2012
- Lulus dari SMA 2 Yogyakarta
Aku mengisi tahun ini dengan belajar dan belajar karena aku harus menghadapi ujian akhir dan mencari kuliah. Walaupun dampak lanjutan dari perceraian orang tuaku masih terasa, aku tetap rajin sekali belajar sehingga pada tahun ini aku berhasil...
- Masuk Manajemen FEB UGM
Jurusan dan fakultas impianku :)

2013
- IKAMMA dan sejuta event di FEB UGM
Aku mengisi masa kuliahku dengan berorganisasi dan mengikuti berbagai macam kegiatan di kampus. Dari pagi hingga pagi lagi. Kerja rodi paling menyenangkan dalam hidupku.
- Move on dari kisah cinta kedua dan masuk pada kisah cinta ketiga
- Mulai nulis cerpen lagi
- Nonton BIGBANG for the first time

2014
- Jadi Manajer Internal IKAMMA dan jadi pejabat sejuta event di FEB UGM
Naik pangkat. Tahun ke-3 ku di FEB UGM semakin sibuk aja dengan tanggung jawab yang lebih besar dari tahun sebelumnya.
- Pertama kali ke luar negeri: Thailand
- Pelihara kucing untuk pertama kalinya
Memelihara kucing nggak pernah ada di dalam bucket listku sebelumnya. Namun setelah momen ini, aku nggak bisa lagi hidup tanpa kucing :")

2015
- KKN di Sabang
- Nonton BIGBANG kedua kalinya
- Masuk pada kisah cinta keempat (yang juga berakhir tahun ini)
- Menulis Reminisensi bab 1
Trivia: Ide Reminisensi didapatkan saat aku KKN di Sabang. Begitu aku mendapatkan idenya, hari itu aku langsung menuliskan bab pertamanya di sana. 
- Magang di Bentang Pustaka
Di sinilah keinginanku untuk masuk dalam dunia perbukuan semakin terpupuk.

2016
- Skripsi dan berusaha untuk lulus
- Menyelesaikan Reminisensi
Kegiatanku tahun ini hanyalah mengerjakan skripsi, sampai pada satu titik aku sangat bosan dan sadar kalau aku punya satu mimpi yang belum terwujud: menulis novel.

2017
- Lulus dari Manajemen FEB UGM
- Belajar menulis dengan serius
- Kenal Mbak Jia dan dapat penerbit
- Pergi UMROH
- Jalan-jalan ke Turki
- Menuliskan naskah kedua yang sampai saat ini belum terbit
Pembaca, doakan ya, semoga naskahku yg ini bisa dapat penerbit :")
- Masuk pada kisah cinta kelima

2018
- Dua kucingku meninggal
- Uti meninggal
- Belajar menulis skrip dan iklan
- Reminisensi terbit
- Terlibat proyek penulisan di sana-sini
Yang membuat aku harus bolak-balik meninggalkan Jogja dan bapakku sendiri di rumah. Perkembangan karir pesat yang menyiksa batinku karena harus jauh dari orang yg paling aku cinta di dunia di saat beliau menua.
- Masuk pada kisah cinta keenam (yang juga berakhir tahun ini)
- Menulis Manakala

2019
- Memutuskan untuk pulang ke Jogja for good
- Kerja di Rumah Warna
- Masuk pada kisah cinta ke-7 (yang juga berakhir tahun ini)
- Masuk pada kisah cinta ke-8 (yang juga berakhir tahun ini)
- Mengerjakan naskah non-fiksi pertamaku
- Menulis Double Tap dan menerbitkannya via Storial
- Menginisiasi Intuisee bersama sahabat
- Kerja di Geluk
- Manakala terbit
- Mengerjakan non-fiksi kedua dan riset novel berikutnya

Ternyata banyak juga ya yang udah terjadi selama 10 tahun. Harus kuakui, menulis tulisan ini membutuhkan waktu 5 jam lho untuk melihat kembali setiap memori dan pelajaran yang sudah aku lewati. Dengan begini aku jadi bisa melihat sejauh apa aku tumbuh dan berkembang dari 10 tahun yang lalu hingga menjadi aku yang hari ini. Sebenarnya, aku masih tetap Finta yang sama, dengan gaya berpakaian yang sama. Namun, Finta yang hari ini pengalamannya lebih banyak. Itu saja. 

Akhir kata, semoga hidup semakin berwarna, hati dan pikiran semakin dewasa dan bijak untuk menghadapi dekade depan.

Have a great life, pals!