Follow Us @soratemplates

30 June 2010

LKI dan surat untuk sahabat

June 30, 2010 0 Comments

LKI
LKI
LKI
Pernah denger?
Mau tau apa itu LKI?
LKI adalah monster yang akan menghantui masa liburanku yang notabene Cuma 2 minggu. Tepatnya bukan akan. Tapi SEDANG. Dan aku sungguh sungguh menyesalkan kehebatan ku untuk peduli ditengah-tengah ketidak pedulian mereka yang seharusnya peduli.
Ya. LKI. Lomba Keagamaan Islam. WOW!! Seorang Finta meeen seorang Finta mengurusi sebuah Lomba KEAGAMAAN ISLAM!! Betapa betapa betapa sulit dipercaya mengingat sama guru agama islam aja aku punya masalah.
Disini aku terdampar menjadi seksi usaha dana. Makanan apa itu? Oke, ini sejenis sup krim pembuka buat makan udang goring tepung. Dan ternyata, dibalik kelezatan sebuah cream soup kita tetep aja harus bikin. Dan you know what? I have never ever ever made a cream soup and I don’t know the recipe yet!!
So do with things oh no, its job name Usaha Dana.
Saya terdampar dengan kedongoan saya bersama 3 teman saya. Sebut saja A, I, dan B. yah AIB.
Awalnya tak kira, dengan keberadaan A yang rupa-rupane mbejaji dan bertanggung jawab dan yaaa.. u have to see him. anda akan melihat sinar meyakinkan, tanggung jawab, kemampuan dan pengalaman. Ya, jujur, aku berharap banyak sama ini orang. Dan aku ingin bekerja dibalik punggungnya. Tapi apa? Heeeeeeeeeeeh. Mengecewakan -_____-
Si I. aku emang ga bisa begitu mengandalkan dia. Tapi aku tau, dia pernah bertanggungjawab membawahi sesuatu dan I hope, she do too with this oh-so-sweet project. But, dari hari pertama rapat sampe hari ini, idungnya ga kliatan.
Si B. my bestfriend. Orang yang dengan teganya membiarkan aku ngerjain ini semua sendiri. Mana kamu? Mana yang katanya kita sahabat yang bisa saling membantu? Apalagi ini sayaaaaangkuuuuuuuu, ini kerjaan kita. Aku tahu, aku tahu kamu sibuk. Aku tahu kamu berusaha ada dan gak enak sama aku. Tapi DIMANA KAMU???????? Dimana kamu saat aku mas janu nya nyuruh aku ini itu? Mana kamu saat afin mengemis kesempurnaan? Mana kamu saat aku pontangpanting nyusun sendiri semua hal baru ini? Mana kamu saat si afin Cuma bisa membagi bebannya sama aku? Mana kamu saat seharusnya aku minta kamu dan yang ada hanya afin? Mana kamu saat aku harus ngrepotin mas janu? Mana kamu saat kita pontang panting ngurusin tandatangan lah, printer, proposal, duit…?
Kamu pasti nggak taukan kalo kita kurangnya 4kali lipat dari yang kemaren? Kamu pasti nggak taukan aku sampe ngemis-ngemis bantuan sama anak lain untuk gantiin yang harusnya tugasmu? Kamu pasti nggak tau ada masalah sama tandatangankan? Kamu juga pasti nggak tau perjuangang kita ngeprint, kerugian uang kita, dan sampe mas janu harus beli flash baru demi ini dan kamu tau nggak nek flashnya langsung rusak dalam waktu kurang dari 24 jam? Sadar ga waktu mung tinggal dikit?
Kamu tau nggak siapa yang ikut pusing sama aku? Mas Janu, orang yang harusnya santai-santai kongkowkongkow ngliat anak buahnya kerja. Mbak Beta, orang yang blas gaada hubungannya sama ini. Alif, yang harusnya ngerjain tugasnya sendiri. Jadi, mana kamu sobatku tersayaaaaaaaaaaaaaaaaang????
Kamu bilang kamu gak bisa, sibuk… alasan klise banget tau nggak.
Heh, kamu pikir aku bisa? Kamu pikir aku Cuma punya urusan tu ini doang? Nggak!! Aku nggak bisanya sama kayak kamu. Tapi disini, tanggung jawab, B, tanggungjawab.
Huft..
Kenapa ini malah jadi kayak surat pribadiku buat si B ya? Haaaaaaaaaaaaaaah biarlah. Aku tahu sih itu orang ga mungkin baca. Dan bagi yang baca ini, pasti mikir aku seperti mengerjakan tidak ikhlas dan mengeluh. Ya… a bit. No… a LOT.
Yyaaa… jujur eh, aku sedih liat dari 30-an orang yang harusnya terlibat Cuma ada berapa? Sekitar 6 orang yang bertanggung jawab. Mana masih ngelibatin kakak kelas lagi.. heloooooooo ini harusnya urusan kita.
Aku kecewa sama semuanya. Tapi berhubung aku menggantungkan banyak harapan sama kamu, B, maka aku paling kecewa sama kamu. Apalagi kamu sahabatku. Wajar ga?

Heeeeeeeeeeem…

Tauk ah. Capeeeeeeeeeee deeeeeeeeeeeeh gueeeeeeeeeeeeeh..
Males gue minta tolong lagi ame eloooh

Alif.X6
30-Jun-2010 17:48
fin, professional!

Yoo memang dalam keadaan seperti ini, rasa dedikasi, professionalitas, dan tanggung jawab sangat diperlukan. Mengingat ini hari libur juga. Aku tahu, pasti malaskan? Sama.

NB: maaf geje.

fin!

28 June 2010

Cinta kaya Drama Korea

June 28, 2010 0 Comments

Setelah bisa moving forward tidak membicarakan urusan percintaan yang notabene memang sangat kental sekali dengan kehidupan remaja labil macam dirikyu inih, di posting ini aku akan kembali mengungkit hal menjengkelkan itu.
Bila sekiranya anda muak dengan tulisan termenye-menye macam cinta-cintaan remaja labil, sebaiknya anda close saja blog ini. Karena saya yakin anda akan menemukan kalimat menye-menye dan jengkel.
Jujur, saya bikin blog ini bukan untuk menarik banyak pembaca. Untuk apa? Saya juga nggak tau. Kalo Cuma untuk mencurahkan perasaan saja, saya punya diary dan saya yakin kadar keamanannya lebih terjaga. Tapi kenapa saya blogging kalo gamau dibaca? Ya itu tadi, saya juga gatau.
Berhubung ini blog punya saya, saya dengan mutlak berhak menulis apa yang saya mau. Dan kali ini saya mau nulis tentang hubungan saya dengan Bagas.
Di beberapa post lalu, saya pernah mengganti nama Bagas dengan Kunir. Tapi dengan tidak beralasan, saya akan kembali memakai namanya, Bagas.
***
Hari ini, witch is the first day of holidays, aku dirumah aja. Sebenernya, banyak banget tanggungan yang ada dipundak, tapi c’mon guys, its holiday! Can we just forget about those activities and tanggungjawab even just one day? Ok, I’ve already told you before that im NOT kind of bertanggungjawab girl. I am.
So, saya home alone gitu tadi. Papak sama imuk pergi. Dan apa yang ku lakuin? Baca Marmut Merah Jambu-nya Raditya Dika dan tidur. Sungguh useless sekali -___- . sampai aku punya inisiatif melakukan kerjaan baru. Nyetel tipi! (opo bedane jal? -_____-)
Haha ya, aku nyetel tipi jam 16.30 dan YIPIIIIIIIIIIIIIIIIIY!!!! Menemukan muka mantan pacar saya Kim Hyun Joong dalam drama korea yang gak bosen-bosen tak tonton sampek critane apal, Boys Before Flowers. Dan karena tersepona sama muka dia, akupun nonton itu BBF.
Untuk beberapa saat, aku merasa menjadi Geum Jan Di. Hahaha bukan, bukan muka ato kisah disukain sama dua cowok anak orang yang naudzubillah tajir. Bukan bukan ituh. Tapi kisahnya.
Jadi, awalnya kan si Jan Di ini naksir sama Yoon Ji Hoo. Nha kisah Geum Jan Di - Yoon Ji Hoo ini yang (dengan maksa-maksain) mirip kisah Aku – Bagas.
Ceritanya, Jan Di tu naksir sama Ji Hoo. Sementara si Ji Hoo ini masih termenye-menye sama first love dia si Seo Hyon. Si Seo Hyon kan model, dia njuk jadi model di Paris. Di Paris dia pokoknya have relationship sama pejabat gidudeee dan pas si Ji Hoo sempet nyusul Seo Hyon ke Paris, dia jadi tau dan balik ke Korea dengan patah hati yang teramat sangat.
Nah, bagian yang aku sorotin ininih. Dia balik ke Korea. Dia bersikap sangat so sweet sama Jan Di. Dia ada kalo Jan Di butuh. Kadang ngegombal. Tapi Jan Di sendiri tau kalo si Ji Hoo tuh masih sayang dan cinta banget sama Seo Hyon. Tapi si Jan Di bodo amat. Yang penting, dia tau kalo selama dia sama Ji Hoo dia seneng (bagian ini mulai radak meracau gue). Ekstrimnya, si Ji Hoo sampe nyium si Jan Di gitu di bibir. Dan Jan Di RELA RELA AJA. Soalnya itu Ji Hoo meeeeeeen!!! Cowo yang dia suka. Walao doi tau, ciuman itu mungkin ga ada artinya buat Ji Hoo, walaupun Jan Di tau hati Ji Hoo buat Seo Hyon, tapi tetep aja….
Itulah Jan Di. Itulah aku. Menjadi bego karena cinta.
Bagas emang gak pernah nyium aku. Apalagi sampe di bibir, mati aja. Tapi Bagas mengukir hari dan hati aku sampai bentuknya jadi gak karuan gini. Aku nggak mau nyebutin apa yang udah dia lakuin ke aku karena nulisin itu sama juga nginget-inget sama juga meratapi kenyataan yang kaya mimpi.
Ya, kenyataan yang kaya mimpi.
Kutipan kisah diatas sama banget kaya aku. Tapi ya kita hilangkan aja bagian ciumannya.
Aku akan menyalahkan diriku. Bukan Bagas. Dan bukan keadaan.
Aku suka sama Bagas. Ditengah kesadaran yang pasti bahwa dia suka cewe lain. Sebut aja namanya Sinar. Bagas udah ngakuin itu semua sama aku. Sama kaya Ji Hoo ngakuin perasaanya ke Seo Hyon sama Jan Di. Tapi apa yang aku lakuin? Aku nutup mata aku nutup kuping sama kenyataan. Yang aku tau, Bagas ada. Yang aku tau aku seneng sama Bagas. Yang aku tau Bagas berlaku sangat baik sama aku layaknya dia sayang sama aku kayak aku sayang sama dia. Kadang aku lupa sama kenyataan pahit itu. Kenyataan pahit yang selalu bangunin aku dari mimpi indah.
Ya, aku tau aku mainan. Aku SANGAT tau aku mainan. Tapi semua itu? Gimana sama semua itu? Semua yang udah Bagas lakuin ke aku, apa sama sekali nggak ada bekasnya? Apa dia berlaku begitu sambil nglindur?
Ya, dia nglindur dan aku tidur. Tidur yang sangaaaaaaaaaaaat panjang. Sampai akhirnya tiba saat aku bener-bener bangun ditampar kenyataan. Sakit banget eh rasanya.
Di dalam tangis aku pernah bilang sama sobatku, “penjelasan yang paling masuk akal dari semua ini adalah aku GR, mat. Jadi sebenernya dia gak pernah …………….. *aku nyebutin semuanya* Cuma aku aja yang GR,”
Dan dia Cuma jawab, “fin, jangan mungkirin yang pernah dia lakuin ke kamu. Kamu sama sekali gak GR. Itu nyata,”
Karena aku masih Finta. Finta si gadis bodoh. Aku Cuma nangis, bertekat bangkit, dan apa sodara-sodara…. Ketika dia kembali muncul dan menggombal, saya kembali tergombal dan kedunia impian. Bodoh bukan?
Aku bahkan barusan memikirkan sebuah quote bodoh
“Kalau mencintaimu sama dengan menjadi bodoh, aku memilih untuk menjadi orang bodoh selamanya”
-Luthfinta N. D. S.
Kapan mau maju kalo idup quotenya begitu?? -_-‘
Dan yang sedang saya pikirkan adalah, “Heh Bagas, maksudmu tuh apa?”
Ada adegan di BBF, dimana si Soo Yi Jeong, sobatnya Ji Hoo marah-marah sama Ji Hoo karena uda bikin masalah dengan nyium Jan Di yang notabene gebetan si Goo Jun Pyo. Dia bilang gini,
“Aku tahu kau sedang kacau karena perasaanmu terhadap Seo Hyon, tapi bukan berarti kau bisa seenaknya merebut Geum Jan Di dari Jun Pyo,”
Aku tahu kau sedang kacau karena perasaanmu terhadap Seo Hyon..
Mari kita ganti kalima tersebut dengan
“Aku tahu kau sedang kacau karena perasaanmu terhadap Sinar..”
Inikah alasan yang tepat?
Jadi kalo orang lagi kacau njuk boleh gitu berlaku gitu? Bikin orang lain ngrasain kekacauan yang lagi dia rasain? Wah asik bener dong. Njuk kalo udah ditualarin gitu njuk sembuh po kacaunya?
Lanjutan kalimat Yi Jeong yang berbunyi
.. tapi bukan berarti kau bisa seenaknya merebut Geum Jan Di dari Jun Pyo
Akan ku ganti dengan..
“..tapi bukan berarti kau bisa seenaknya sama Finta”
Tapi siapa yang mau bilang gitu? Apa Bagas ngerasa udah seenaknya sama aku? Kayaknya juga nggak. Ya.., namanya juga orang nglindur.
Dengan caranya yang menyakinkan itu, aku yakin, dia nggak pernah ngerasa berdosa. Haha
Ada lagi adegan dimana si Ji Hoo dialog sama Jun Pyo
Jun Pyo : kenapa kau melakukannya?
Ji Hoo : aku hanya melakukan apa yang aku ingin lakukan.
Ji Hoo, kamu ganteng, tajir, charming, tapi sayang… kamu BAJINGAN.
Bagi temen-temen sekitarku pasti tau nek aku ngefens banget sam Ji Hoo, dan kau tau kawan, ternyata Bagas ga jauh beda sama Ji Hoo. Harusnya muka Bagas itu JHS bukannya si Irshadi Bagas. Ntar brasa sama Ji Hoo beneran gue.
Pada akhirnya, si Ji Hoo jadi cinta beneran sih sama Jan Di. Tapi pas tiba saat itu, si Jan Di udah cinta mateh getoh sama Jun Pyo. Dan Ji Hoo akan bertahan mengenaskan jatuh cinta sama Jan Di sampai kisahnya ending.
Oke, gak muna, aku juga berharap Bagas akhirnya bisa suka beneran sama aku. Bukan gak jelas kaya gini.
Oke, emang mulutmu bilang gitu, Gas. Tapi aku punya mata. Aku bisa liat sinar yang beda dimatamu sama apa yang dengan verbal kamu utarakan. Mungkin ini Cuma ekspetasi atau khayalan yang ketinggian, tapi perasaanku, aku bisa merasakan ketulusan dari semua kisah kita.
Ketika kita jatuh cinta, mata kita jadi buta dan perasaan kita jadi GR-an. Jadi paragraf diatas hanyalah sebuah ekspektasi dan racauan orang jatuh cinta yang ga perlu digubris.
Aku nggak mau Gas, kisahmu kayak Ji Hoo. Habis merana njuk merana lagi. Aku harap ketika nanti kamu ngakuin kamu suka sama aku, aku masih punya perasaan yang sama kaya sekarang dan belum kepincut sama Taylor Lautner yang makin hari makin mempesona. *wahjan kakean nonton drama korea marakke ngayal ra cetho. Iyo nek kowe njuk seneng tenan ro aku. Nek ora yo isin dhewe aku*
Oya, tadi pas baca MMJ, ada bagian yang bikin aku inget Bagas.
Di sebuah lampu merah, gue menelepon Ara, yang untungnya masih bangun. Setelah semua date ini berakhir, Ara bilang sekarang saatnya menunggu. Katanya, ‘Kalau dia suka sama lo, pasti dia SMS selamat malam atau ngucapin terima kasih. Kalau nggak, yah enggak.’ Gue mengiyakan.
Pada akhirnya, si Raditya Dika tidak mendapat SMS apapun.
Tapi aku…
After our sweet date. He sent me sms. He said “thank you for tonight, I was totally having fun. Good night”
What’s that mean?

fin!

26 June 2010

IPS

June 26, 2010 0 Comments

Sebenernya banyak banget hal yang pengen aku certain. Kemah lah, remidi-remidian, lki, keluarga, si lelaki, sobat-sobat.. banyak banget. Tapi berhubung yang lagi mengentak-entak dikepala adalah masalah penjurusan ini, so, ya let me tell you…
Aku bukan murid kelas X7 SMA Negeri 2 Yogyakarta lagi. Hari ini, hari Sabtu, 26 Juni 2010, aku resmi naik kelas. Sekarang, aku Luthfinta Nurul Dzikrina Sudar resmi jadi siswi kelas XI IS SMA Negeri 2 Yogyakarta.
XI IS
IS
IS
IS

Isn’t that bad?

Sebentar. Aku belum mau menceritakan kondisi perasaanku. Karena itu terlalu rumit.

Pelan pelan ..

Pagi ini, pas makan pagi terjadi percakapan..

P: Papak
I: Imuk
F: Finta

P: Gimana tul (mantul= nama panggilan dirumah) kira-kira rapotmu nanti?
F: elek wis pak. Mbok opo mesti eleeeeeeeeeeeeek.
I: lha kok gitu?
F: iya yaaaaaaa, aku nggak tau. Tapi percaya deh pak, muk, elek banget wis. *muka cengangascengenges
P I: ..
F: Pak Muk, bener gapapa kan kalo aku masuk IPS?
I: Yo karepmu. Wong sing nglakoni kowe to?
F: iyaa.. yayayaya ..

Aku emang nggak pernah mikir. Dan ga berminat untuk mikirin apa yang akan terjadi dengan rapot dan penjurusan ato apalah tetek bengek itu. Aku nggak mikirin karena ya aku takut. Aku akan sangat dengan jelas-jelas bikin mereka kecewa. Aku tahu. Dan hal yang mengganggu Cuma itu. Aku nggak mau ngecewain ortuku.

Setelah percakapan itu, ada kelegaan yang gak bisa dijelaskan. Aku tahu ortu akan kecewa. Dan sepertinya meraka bahkan udah siap kecewa. Tapi lagi-lagi, aku nggak mau mikir.
Waktu berjalan. Biasa aja. Twitter Fb isinya orang panik pada mau masuk IPA dan gamau IPS. Dan aku? Aku ngrasa gada masalah gitu sama IPS. Aku bahkan udah ngisi semua angket dengan IPS. Aku bahkan udah jawab pertanyaan seluruh keluarga dan temen-temen tentang cita-cita masa depan penjurusanku dan dengan lantang aku jawab IPS. So what’s wrong with IPS?

Dan waktu masih terus jalan. Saat itu aku lagi markirin sepeda motor. Ya, karna ada acara habis rapotan, aku jadi bawa motor sendiri-sendiri sama papakku. Belio brangkat duluan. Nyampe duluan.

Pas markirin motor itu, nggak tau kenapa jantungku gak karuan. Perasaan ringan ato pikiran-pikiran yang ga pernah ngelantur tiba-tiba aja dateng.

Aku jalan dengan nervous gak jelas. Ya. Perasaan yang berkecamuk gak ceto gitu. Dan muka familiar pertama yang ku liat adalah muka punya Bisma.

Bisma : Piye fin?
Finta : Lha embuh wong lagi teko og.
Bisma : Katanya kelas kita yang IS 2 orang lho.
Finta : paling aku.
Bisma : iya. Kamu cen minat to. Satunya lagi sapa ya?
Finta : yo nggak tau aku.
Bisma : Bisa aja Fahrus. Nilai IPS-nya bagus soalnya.
Finta : hm yayayaaaa
Bisma : ..
Finta : bem, aku takut nih.
Bisma : takut kenapa?
Finta : nilai ku…. Ya aku udah bilang sih kalo bakal jelek. Dan dari tadi aku gapapa .. tapi kenapa rasanya begini ya?
Bisma : udah fin, nyantai aja. Wajar kok. *senyum. Udah ya fin, aku mau bayar SPP-nya Fahri dulu.

Yaa.. IPS.. 2 orang… I must be one of them. Im sure ...

Aku nerusin perjalanan. Waktu udah sampai tangga, kakiku ini gamau naik gitu. Jujur. Aku takut ketemu papak. Aku gamau liat wajah kecewanya. Aku nyesel. Aku rasanya pengen mati saat itu juga disitu. Bener-bener perasaan yang gak aku banget. Ya. Aku takut sama kenyataan. Kenyataan yang udah aku tau sebelumnya.
Aku balik arah. Aku jalan ke depan X4. Nengokin kepala ke atas. Ada Ical, Astri, Dini, sama Rara yang ngawe-awe aku suruh aku naik. Tapi aku gelenggeleng.

Astri nyusul aku ke bawah. Nawarin naik tapi aku ogah. Dia sendiri lagi nunggu emaknya.

Aku lupa gimana ceritanya aku bisa ngikutin Astri ke UKS. Otak dan hatiku kacau balau pas itu. Cuma dua muka yang ada dibenakku. Punya papak dan imuk.

Aku merasa paling menderita ditengah kelompok anak-anak itu yang dengan lantangnya melontarkan kalimat “AKU TAKUT MASUK IPS”. Sori teman, tapi saat itu aku sangat merasa terbuang. Aku pasti masuk IPS.

Aku misah dan masuk lagi ke dalem sekolah. Then, I found my Papak. He was reading my raport while walking in the koridor.

1.. 2… 3…. Ayo finta!! Reality…

Finta : PAPPPAAAAAAAAAAAAAAAAAK !!!!
Papak : *noleh
Finta : gimana Pak? IPS?
Papak : lha emang mau mu to?
Finta : Iya. Papak gak papa kan?
Papak : gak papa. Tapi besok klas dua kamu kurangin kegiatanmu yang gak penting. Liat ini nilaimu jeblok semua.
Finta : iya pak
Papak: kalo gak ada urusan, langsung pulang ya besok. Kebukti kamu gak bisa bagi waktu.
Finta : iya pak
Papak : gene nilai IPS mu yo nggak lebi bagus dari IPA..
Finta : hehehe iya pak *speechless
Papak : lha kok pengen IPS?
Finta : hmmmm *totally speechless
Papak : yaudah. Tapi jangan mentang-mentang IPS njuk kamu ga belajar lho.
Finta : iya pak.

Sebenernya kita ngomongin hal lain juga yang masih seputaran itu. Tapi it wasn’t too important.

Aku jalan nganterin Papak ke parkiran. Beliau mau ngambil rapot punya adek. Papak nggak marah, tapi aku TOTALLY KACAU. Aku nggak tau apa yang ada dipikiranku. Aku nggak tau apa yang ada dihatiku. Tapi apapun itu, itu sangat menyiksa.

Papak udah goodbye ke sekolah adek. Aku balik arah lagi ke gedung sekolah. Dan menemukan Alif baru masuk ke gedung juga bawa carrier gedhe buanget soalnya mau pendakian.

Finta : Aliiiiiiiiiif!!!
Alif : *noleh *senyum. Eh halo. Gimana?
Finta : IPS.
Alif : selamat selamat, tercapai to pengenmu?
Finta : hehe iya.
Alif: liat rapotmu.
Finta : jangan ah. Malu-maluin buanget e soalnya.
Alif: lha kenapae? Emang kamu ranking brapa?
Finta : aku ranking **. Ya dari kemaren sih tak kira aku rangking 30-an. Ternyata nggak. Hahaha
Alif: yaya bagus to brarti? Hehe. Eh aku naroh ini (carrier) dulu ya, berat bgt je.
Finta : oyayaya dadah.
Alif: kamu mau kemana?
Finta: Gatau.

Ya, aku gatau. Aku gak mau aja kumpul anak-anak. Tapi.. gatau tuh kakiku. Tiba-tiba naik ke X7 aja -__-.
Dan bener aja, diatas percakapan temen-temen itu bikin aku sesek. Dan lagi lagi pikiranku ngelantur ke Papak imuk. Aaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhh tauk deh!!

Aku turun lagi. Nunggu Astri say goodbye sama emaknya dan dengan leganya dia berkata dia IPA. Jujur aku seneng denger dia masuk IPA walau itu artinya kita gak akan sekelas lagi .

Aku butuh ngluarin apa yang ganjel dihatiku. Jadi, aku ngajak Astri ndeprok di pojokan tempat biasanya orang main pingpong.

Aku lupa percakapan apa yang terjadi. Tapi kita lebih banyak diem. Aku sibuk sama pikiranku dan… nahan air mata yang pengen jatuh. Sampai akhirnya Rara SMS. Dia nyari kita.

Finta: Mat, kamu kesana aja.
Astri: njuk kamu sendiri disini kaya anak ilang?
Finta: halah nggak papa. Udah sana
Astri: bener gapapa?
Finta: gapapaaaaaaaaa
Astri: yaudah. Tapi jangan berlarut-larut ya..
Finta: iyaaaaaaaaa

Astri pergi.

Aku disitu sendiri kayak anak ilang. Ya, sisi positifnya, aku bisa ngeluarin ini air mata yang udah desek-desekan mau jatuh. Aku mewek. Bayi banget ya?

Aku kenapa?
Kenapa rasanya takut? Takut apa? Nilai? Penjurusan? Bukannya udah ya Fin? Kamu udah tau kan fin nilainya bakal begini? Juga udah taukan bakal IPS? Papak imuk biasa ajakan?

Bukan biasa aja. Tapi mereka capek fin marah sama kamu. Capek fin ngeliatin muka kecewa sama kamu. Kamu juga tetep beginibegini ajakan? Mereka capek punya anak kayak kamu. Gak bisa banggain mereka. Buang-buang duit mereka doang. Gak bisa jadi apa yang mereka mau.

Apa bener kamu pengen masuk IPS? Nggak. Kamu Cuma melarikan diri dari sesuatu yang gak mau kamu usahakan. Kamu Cuma pengen gampangnya. Kamu bilang kamu mau IPS karena kamu nggak mau liat sinar kecewa yang sama kaya waktu kamu gak keterima di Teladan.

Ya .. saat itu aku menyesal ngisi angketku dengan IPS. Aku pikir ini semua masalah angket. Harusnya aku nggak egois mikirin diriku sendiri dengan tetek bengek IPS. Kalo aku pilih IPA, minimal ortuku seneng. Dan kalo aku usaha, apa sih yang gak bisa? Aku Cuma melarikan diri dari usaha. I confess. Ya, emang ga ada masalah sama IPS. Buat aku. Tapi buat ortu?

Ah anak macem apa to akuu…
Setaun ini aku Cuma mikirin kesenenganku. Aku nggak pernah mikir panjang. Bahkan setiap kata yang Papak ucapin tadi terasa menusuk banget. Ya, aku durhaka. Aku hamburin duit mereka Cuma buat bandel, bolos, bikin ulah, telatan, diapalin guru buat hal buruk, seneng seneng…..

Ahhhhhhhhhh pengen mati. Aku nangkupin tangan diwajah untuk beberapa saat. Mewek.

“fin, ngapain kamu sendiri disini?”
Tiba-tiba ada suara. Aku ndangak. Alif.

Finta: oh enggak, nggak papa.. *ngusap air mata.
Alif: aku IPS.
Finta : HAH???!!!! Ap..APA?
Alif: iya, aku IPS.
Finta: kamu IPS? Nggak mungkin. Kamukan pinter. Becanda.
Alif: weh serius ya. Siapa bilang aku pinter?
Finta: tapikan kamu beneran pinter to? Dibandingin aku? Dibanding temen-temen kelasku yang gradenya lebi rendah dari kelasmu?
Alif: kelasmu yang IPS berapa?
Finta: 2
Alif: tempatku 5.
Finta : HAAAAAAAAAAAAAAH???
Alif: iya.
Finta: lha angketmu mbok isi apae?
Alif: IPA. Tapi yang tes-tes itu aku hasilnya IPS.
Finta : lha initu bukan gara-gara angket to?
Alif: bukanlah. Temenku ada yang ……………………………. *mbuh lali emeng epeh intine njelaske.
Finta: o bukan angket?
Alif: Nurut sekolah. ini ibukku lagi protes di BK. dia gak trima gitu. kalo aku sih biasa aja mau IPA ato IPS.


Dah lanjutannya aku lupa ngomong apa lagi. Inti dari segala inti, jujur, aku kaget.
1. Rasanya gak pantes aja X6 yang anaknya notabene kaya k professor semua gitu bisa-bisanya ada 5 anak IPS dan menurut keterangan si Alif, ini bukan karena minat sementara kelasku yang isinya kaya preman pasar ikan yang masuk IPS Cuma 2 CUMA 2 DAN ITU KARENA MINAT SEMUA. Ya Allah, dimanakah letak keadilan? Berasa kasian gitu aku sama mereka.
2. Bukan karena angket. Rasa berdosaku karena ngisi angket dengan jajaran huruf I-P-S sedikit demi sedikit mengandas.
3. IPS bukan tempat orang bego. Hahaha, ya, tau kenapa kau sangat merasa terbuang tadi? Karena aku merasa paling bego.
4. Kalo anak pintar bertanggungjawab macam Alif bisa bilang “aku biasa aja mau IPA ato IPS” (ya walau mungkin dia gajadi masuk IPS) kenapa anak malas tidak bertanggungjawab macam diriku ini harus protes?

ya berawal dari pikiran-pikiran itu dan tambahan motivasi dari obem dan mamat, rasanya aku udah punya
tenaga buat hidup lagi. Dan ayolah, finta, yang mau IPS ki gek sopo jal? Iyo ra? hahahaha

And now..

Saya, Luthfinta Nurul Dzikrina Sudar, dengan bangga mengumumkan, SAYA ADALAH MURID KELAS XI IS SMA NEGERI 2 YOGYAKARTA DAN TIDAK ADA DAN TIDAK AKAN PERNAH ADA YANG SALAH DENGAN ITU.
HIDUP IPS!!!!!

Yeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeey!!!

Halo Shella, halo Lia, halo Damar, halo Vidya, halo Alif, Halo Dais, Halo Intan, Halo Thifa, Halo SEMUAAAAAAAAAAA yang mulai besok tanggal 12 akan sekelas sama saya sebagai anak XI IS…….. im with you all guys. We’ll make new story together in our new class. Hope it will be better than before. Yeah, tetep ga bakal ada deh yang akan gantiin X7.

Bye X7… welcome XI IS :DDDD


fin!