Follow Us @soratemplates

11 February 2014

Harus Bagaimana #30HariMenulisSuratCinta

February 11, 2014 0 Comments

Jadi sekarang menurutmu aku harusnya bagaimana?

Aku membenci tatapan matamu yang menelanjangi aku tanpa ampun. Seolah seluruh dosa di dunia ini milikku. Aku membenci caramu membuat aku tak berdaya dan tergugu. Seolah Tuhan tidak memberikanku lidah untuk beradu. Aku membenci caramu mendikte tindak tandukku. Seolah di jagad raya ini hanya kamu yang mampu. 

Tapi sekarang menurutmu aku harusnya bagaimana?

Jika yang aku mau tetap di dekatmu. Jika yang aku ingin adalah selalu membuatmu tersenyum. Jika aku ingin selalu memaafkan semua kata pedas dari mulutmu. Jika kata kecewamu menjadi racun untukku. Jika dengan segala ketidakberdayaanku ini, aku ingin sekali melindungi bentukmu. Jika duniaku tiba-tiba berporos pada medan magnetmu...

Lalu sekarang menurutmu aku harusnya bagaimana?

Ketika aku tahu perhatian itu hanya membius batas warasku, tidak warasmu. Ketika aku tahu pelukan itu hanya mengalirkan kehangatan pada tubuhku, tidak tubuhmu. Ketika aku tahu kata cintamu itu hanya menciptakan getar di hatiku, tidak di hatimu. 

Ketika aku tahu percaya hanya hinggap di benakmu, tidak benakku.



Dan sekarang menurutmu aku harusnya bagaimana?

Bila aku ingin berlalu meninggalkanmu tapi aku tak mampu....

06 February 2014

Untuk Dian #30HariMenulisSuratCinta

February 06, 2014 0 Comments
Halo apa kabar, Dian?

Banyak yang ingin aku ceritakan. Banyak juga hal yang aku ingin kau maafkan.
Terlalu dini memang memulai ini dengan maaf, tapi aku tahu aku memang sudah keterlaluan.
Bagaimana kita bisa tidak saling berjumpa padahal jarak kita hanya sebatas ekonomi dan pertanian?
Bagaimana kita bisa tidak saling menyapa padahal ada ponsel dalam genggaman?

Aku memang terlalu pecundang, sehingga hanya bisa menumpukan kesalahan pada kesibukan.
Tapi asal kau tahu, hal itu sedikit banyak memang kenyataan.
Kau tau dimana aku merasakan keganjilan?
Kita bahkan tidak bersua padahal kita sedang liburan.

Bolehkah aku kembali ke masa lalu, Dian?
Banyak sekali terima kasih yang ingin ku ungkapkan.
Salah satunya karena mengenalkan aku akan sebuah persahabatan.
Dan bagaimana rasanya dipercaya oleh teman.

Sejak berbalut merah putih aku sudah mulai geng-gengan
Saat itu ku kira bersenang-senang adalah inti pertemanan.
Tapi darimu, Dian
Ku tahu intinya adalah mendengar, didengar, dan keberadaan.

Aku masih ingat, dulu kau selalu memberitahuku tentang hal-hal kecil tanpa terlewatkan.
Seperti apa yang terjadi pada marmut yang kau jadikan peliharaan
Atau tentang wajah-wajah orang tampan.
Aku juga ingat, saat itu aku jarang memberikanmu balasan.

Walau jarang ku balas tapi kau tetap giat mengirimiku pesan.
Baru aku sadari belakangan
Bukan masalah sama sama dari pelosok Sleman
Tapi hal-hal kecil itu lah yang membuat hati kita makin berdekatan

Setiap hari menghabiskan waktu dengan kebersamaan
Pulang sekolah belakangan...
Tempat les bersamaan..
Kenapa dipikir-pikir kita seperti orang pacaran?

Kau senang memberiku kejutan
Kau tak sekedar memberikan telingamu untuk mendengarkan
Bahkan kau berikan aku tangisan
Akan hal-hal yang aku ceritakan

Aku suka terkejut akan segala bentuk perhatian
Yang bahkan sampai saat ini terkadang masih ku rasakan
Dan yang jarang aku berikan balasan
Dian, mungkin memang berteman denganku adalah kutukan :(

Terima kasih Dian
Atas segala bentuk penghargaan
Yang membuat temanmu ini percaya bahwa dia tidak sendiri dalam kegelapan
Kau memang benar-benar penerangan

Maaf, hatiku tidak selembut yang kau pikirkan
Dan sedikit banyak itu menumbuhkan penyesalan
Tapi Dian, meski kehidupan sering memberi jalan untuk perpisahan
Aku berharap sampai selamanya kita tetap akan terus berteman :)


Oh yaa..... Maaf aku belum pernah ke Prambanan :'3

05 February 2014

Untuk Mereka yang Terhormat (#30HariMenulisSuratCinta)

February 05, 2014 0 Comments
Kepada yang anda yang terhormat.

Aku tidak ingin membicarakan masa lalu kita yang pekat. Aku kira tanpa kontrak kita telah sepakat. Agar diantara kita tidak usah saling mendekat. 

Jangan terbang, bagiku harta bendamu tak memikat. Bahagianya yang membuatku terikat. Karena hatinya bisa terluka jika lidahku bersilat. 

Aku tidak ingin membuatmu merasa tercampak. Jadi jangan nekat. Di batas sabarku aku bisa saja jadi jahat. 

Palsumu tak lagi membuatku tercekat. Jadi biarkan senyumku tersungging kilat. Karena aku hanya ingin dia melihat. Aku lelah melihatnya penat. 

Tenang saja, hati kita tak akan saling rekat. Karena akan selalu kupastikan adanya sekat. 

***

Untuk yang ku sayang sekaligus ku beri hormat,

Hidup itu pilihan, sayang, jangan semuanya mau kau sikat. Ketika kau memilihnya, maka jangan harap aku akan tetap lekat. 



03 February 2014

Cinta untuk KRS :") (#30HariMenulisSuratCinta)

February 03, 2014 0 Comments

Selamat sore yang menegangkan!
Apa kabarmu?
Meski setiap hari aku menengokmu, aku tetap tidak bisa menebak apa maumu.
Apalagi hari ini, hari dimana masa depan berpangku.

Tahukah kau?
Hari ini pikirku hanya penuh akan dirimu dan masa depanku.
Hingga aku tak mungkin menuliskan cinta pada selain dirimu.
Tolong jangan kecewakan aku dan kawan-kawanku.

Website SINTESIS
Semoga hari ini nasib kita bergaris
Jangan membuat hatiku teriris
Dengan combatmu yang sama sekali tidak manis



01 February 2014

Her Forever Love (#30HariMenulisSuratCinta)

February 01, 2014 2 Comments
Kata demi kata ku ketik diatas keyboard lalu kemudian ku hapus lagi. Ku ketik lagi... ku hapus lagi... hanya untuk mencari kata yang tepat untuk membuka surat ini. 

Bagaimana sih biasanya aku menyapamu, Bapak? Bagaimana bisa aku melupakannya? Ah, anak macam apa aku?

Mungkin aku harus menjelaskan padamu kenapa aku ingin menulis surat untukmu. Ya, karena aku sedang merindukanmu. Rindu yang tidak bisa dibaurkan oleh temu. Rindu akan bentuk cintamu yang dulu.

Pikirku selalu menghantu, mengapa menerjemahkan kasih sayangmu aku tak mampu?

Aku selalu meragu akan cintamu. Mungkin karena minimnya kata yang terurai dari bibirmu. Kau loloskan semua pintaku, kau bergeming ketika ku pulang larut, dan yah, kau tidak pernah bertanya apa kabarku. 

Aku tidak menyalahkan sifat pendiammu atas hubungan kita yang tidak dekat. Anak perempuan tidak bisa bercerita banyak tentang hidupnya pada ayahnya, mungkin itu yang memberi hati kita sekat. Dan mungkin hal itu juga yang membuatmu percaya bahwa untuk menjalani hidupku, aku sudah cukup kuat. 

Aku tahu, kau dan aku sudah sama-sama paham bahwa aku sudah bukan lagi gadis kecil yang dulu selalu menghambur ke pelukmu. Walaupun begitu aku selalu tahu kau selalu akan ada untukku kapanpun itu. Aku bisa merasakan guratan kebahagiaanmu setiap kali aku membutuhkanmu. HAHA, tiba-tiba aku jadi ingin menyalahkan waktu atas pertumbuhanku. 

Ingatkah saat itu Bapak? Ketika itu kunci motorku hilang di kampus yang maha besar dan satu orang melirikku pun tidak. Biasanya aku akan membereskannya sendiri jika tak ada kawanku yang bisa membantuku berpijak. Tapi malam itu aku menelponmu, Bapak. Kau langsung meladeniku walau harus mengabaikan pekerjaanmu yang banyak. Dan pada akhirnya kita menghabiskan pukul tujuh sampai dua belas malam menunggu kunci motorku yang baru terjiplak. 

"Emang kalau nggak sama Bapak kamu mau minta tolong sama siapa lagi?" itu kata-katamu yang kau katakan saat itu. Masih terngiang jelas di kepalaku. Saat itu aku tahu, aku selalu bisa mengandalkamu.

Apakah metamorfosa gadis kecilmu ini membingungkanmu? Sehingga jalan satu-satunya yang kau tahu untuk mencintaiku adalah percaya padaku dan tidak pernah memarahiku? Lucu ya, terkadang rasa percayamu yang membuat ku ragu akan cintamu. Aku memang banyak mau. 

Maaf jika aku menyebalkan dan  membenci bungkammu. Mungkin itu karena aku haus akan kehadiranmu. Dan jika diam dan percaya adalah caramu, kesalku adalah cintaku padamu. :p

The reason why daughters love their dad the most is that there is at least one man in the world who will never hurt her.

Dan aku masih mengingat jelas senyuman persetujanmu saat aku menunjukkan kalimat itu padamu. 

Bapak Sudar Padmahadi, mesti tak pernah terucap dari mulutku, tapi kau harus tahu, bahwa dirimu adalah cinta pertama anak gadismu ini. Cinta pertama, dan selamanya :)


Hadiah 5 Tahun (#30HariMenulisSuratCinta)

February 01, 2014 0 Comments
Halo! 
apa kabarmu, sahabatku?

sudah cukup amat sangat lama aku tidak menyempatkan diri untuk barang sedetik saja menengokmu, menyapamu, memberi kabar, bahkan berbagi denganmu. sahabat macam apa aku?

bukan, salah jika aku memposisikan diri sebagai sahabatmu, tapi semenjak dulu, sejak kita pertama kali berkenalan, aku yang memposisikan dirimu sebagai sahabatku, sebagai penyeimbangku, sebagai penegakku.

maaf kan aku mengabaikanmu. sungguh bukan maksud hatiku untuk begitu. percayalah aku masih finta yang dulu. yang setiap waktu ingin ku bagi denganmu. 

tapi maaf sayang, kondisiku tidak seperti dulu. cita cita dan tanggung jawab kini menyita waktu. hingga seluruh kata dan aksara yang biasa ku luapkan hanya mengering di kepalaku. hingga mencipta rindu.

kau tumbuh bersamaku. dari masa ketika aku mengakhiri kalimat dengan koma atau tiga buah titik hingga masa dimana aku menyadari bahwa bahasa adalah harimau yang kapan saja bisa berbalik menyerangku. yah, mungkin itu alasanku menjadi bisu.

dan selama lima tahun berjalan ini, kamu tidak pernah mengecewakan aku. 

****

hai, tahukah kamu?
aku ingin sekali menyambung tali silaturahmi denganmu. di Februari ini dimana cinta diseru, dan di Februari dimana awal kita bertemu, aku akan kembali membuka diriku. untuk aku. 

wahai Softaminous-ku, #30HariMenulisSuratCinta ini akan aku persembahkan untukmu :)