Follow Us @soratemplates

28 February 2016

Mail for the Mail-man (#30harimenulissuratcinta)

February 28, 2016 0 Comments


Dear pak posku @anakkopi

Hari ini, kemarin, kemarinnya lagi, saya tidak tahu siapakah kamu sebenarnya.
Tapi aku membiarkan satu rangkaian tantangan pada diri sendiri ini untuk kamu baca
Tapi aku memberitahu dunia terhadap cinta yang ingin aku sampaikan melalui kamu sebagai perantara
Atas ketidak mengertian ini toh aku tetap percaya

Hari ini, kemarin, kemarinnya lagi, saya selalu mengumpulkan terlambat
Karena jadwal seharian yang luar biasa padat
Namun kamu tetap membalas dan memperlakukan surat-surat ku dengan tanggap dan cepat
Membuat aku merasa mendapatkan teman yang tepat
Walaupun hanya lewat komentar kecil terhadap surat-surat

Hari ini, kemarin, kemarinnya lagi, saya merasa berterima kasih
Atas dedikasimu yang tak pernah teralih
Dan aku berdoa semoga hidupmu selalu indah dan tidak akan tertatih
Dan kebermanfaatanmu bagi kebahagiaan tidak akan pernah merepih

25 February 2016

Anugerah yang Terlupa (#30HariMenulissuratcinta)

February 25, 2016 0 Comments


Terlambat
Ya, mereka bilang tidak ada kata terlambat di dunia ini
Terlambat adalah alasan bagi mereka yang tidak mau berusaha dan menyalahkan kondisi

Aku percaya
Ya, aku ingin percaya
Tapi sepertinya pikiran itu tak berhenti menghukumku

Menyesal
Ya, aku ingin berubah
Aku telah mengemis padaMu demi perpanjangan waktu

Syukur
Dimana syukurku?
Wahai anugrah dan waktu, maafkan aku

23 February 2016

Mas-Mas(an) (#30harimenulissuratcinta)

February 23, 2016 2 Comments


Halo, Bos BNI.

Beberapa hari yang lalu aku makan malam, Mas, sama Bapak dan Ibumu waktu mereka main ke Jogja. Di saat-saat kaya gitu Mas, rasanya kok aneh kamu nggak ada.

Aku kangen Mas. Jogja-Makassar, kok ya jauh. Tapi sebenernya aku mauuu banget lho nengokin kamu di sana. Secara, aku belum pernah ke sana. Kalau kamu mau bayarin tiketnya aku langsung cus deh kesana.

Katanya kamu tambah bulet. Enak-enak ya makanan disana? Mbok ya aku dibawain mas. Hehehe

Aku kangen Mas. Apalagi disaat-saat sulit kaya gini. Inget nggak sih Mas, sekitar empat tahun lalu aku galau milih jurusan kuliah dan gara-gara kamu, Mas, aku terdampar di kampusku sekarang.

Literally, gara-gara kamu.

Sekarang aku lagi galau lagi, Mas, sama masa depanku. Kalau kamu di sini pasti asik ada yang bisa diajak ngomong dan ngasih semangat.

Ya, kaya 4 tahun lalu.

Seneng banget denger kabar kamu mau dipindah ke Jakarta, kaya yang selama ini kamu pengen, balik ke kampung halamanmu. Aku nanti bakalan ke Jakarta deh kalau kamu udah balik. Misyusomac.

Oh ya Mas, makasih ya udah jadi kakak laki-laki buat aku yang anak sulung ini, yang selalu pengen ngerasain punya kakak. Aku bener-bener ngerasa disayaaaang banget sama kamu, Mas. Kamu harus percaya kalau apa yang udah kamu lakuin buat aku, barang hal terkecil kaya saat-saat kita bercanda, ngobrol, even berantem, semuanya berkesan buat aku.

Dan ya Mas, sukses ya. Kamu ni udah pinternya setengah mati, sholeh, ganteng pula. Mubazir banget Mas kalau nggak sukses. Aku bakalan ngedoain kamu dan kebahagiaanmu. Jadi, bahagia ya, Mas.

Trus ya Mas, satu lagi, aku belum pernah bilang ini nih sebelumnya, Mas, walaupun udah bertahun-tahun kita kenal:

Aku sayaaaaaang banget sama kamu, Mas Didit.  

Jangan berhenti sayang sama aku ya, Mas?

21 February 2016

Soulmate (#30harimenulissuratcinta)

February 21, 2016 0 Comments

Halo, Mat.

Hari ini tanggal 22 Februari 2016. Tepat satu bulan lagi, Mat, kamu bakalan ngerayain tanggal 22 Maret ke 22 dalam hidupmu.

Pas sebulan. Dan jujur aja aku belum tahu mau kasih kamu kado apa kalau tanggal 22 Maret dateng. Tapi untuk tanggal 22 Februari, aku udah punya kado. Ya, surat ini.

Beberapa hari yang lalu kamu tanya sama aku tentang bedanya cinta sejati, teman hidup dan jodoh. Menurut kamu itu semua beda, walaupun buat aku kamu nggak menjelaskan dengan jelas bedanya apa. Lalu aku jawab pakai argumenku kalau jodoh itu nggak pasti harus dua orang laki-laki dan perempuan yang end up together, tapi cukup dengan garis takdir yang lagi bersisian, dan dipertemukan itu aja udah jodoh.

Ya, kaya kita saat itu. Saat ini.

Kalau aku ditanya tentang jodoh, itu tadi jawabanku. Kalau aku ditanya tentang teman hidup, simply, aku akan jawab: Kamu.

Aku masih inget super jelas, saat-saat Tuhan pertama kali menjodohkan kita. Hari itu kita baru pertama kali ke SMADA untuk ketemu temen sekelas dan ketemu kakak pembimbing ospek kelas kita. Di pelataran depan lab biologi, Mat, itu pertama kali aku jabat tangan kamu sebelum aku mau pinjem gunting yang letaknya deketan sama posisi kamu duduk waktu itu.

“Aku Finta. Kamu?”

“Aku Astri.”

“SMP mana dulu?”

“SMP 12. Kamu?”

“Aku SMP 8.”

Lalu kata-kata berikutnya adalah dialog ‘tolong ambilkan gunting.’

Aku sendiri heran kenapa aku masih inget-ingetnya kejadian itu. Padahal adegan kenalan sama temen-temen yang lain aja aku udah lupa. Aku bahkan masih inget kamu pakai baju apa dan jilbab warna apa. Mungkin itu cara Tuhan untuk memberi tahu aku bahwa Ia telah melakukan sesuatu yang besar dalam hidupku, mempertemukan aku dengan teman hidupku.

Aku punya banyak pikiran-pikiran absurd dalam kepalaku tentang hidup, Mat. Selama 14 tahun, aku nggak pernah merasa membagikan hal itu penting dan akan menyenangkan. Sampai di usia ke 15, di mana akhirnya ada kamu. Karena kamu, aku merasa hal teraneh dalam diriku itu normal dan nggak ada yang salah.

Aku punya banyak hal-hal yang pengen aku coba, Mat. Dan lalu dengan ajaibnya semua itu jadi nyata dan menyenangkan karena sama kamu. Bolos. Nonton konser. Di panggil guru BP. Telat. Jadi anak bandel. Ilang di Jakarta. Dan masih banyak lagi. Tapi yang paling menyenangkan adalah karena kamu, aku nggak pernah takut jadi diri sendiri. Karena kamu, aku nggak ngerasa aneh pake gelang warna-warni ke sekolah. Aku juga nggak ngerasa aneh pake sepatu bunga-bunga, jaket pelangi, tas skleton dan yang aneh-aneh lainnya karena kamu nggak mandang itu aneh. Kamu dan jaket, tas dan segala pernik-pernik coklat mu waktu itu, bikin aku ngerasa normal jadi makhluk pelangi. Hahaha.

Aku punya lika-liku dalam hidupku, Mat. Ingat hari-hari akhir putih abu-abu kita? Kita berdua barengan, Mat, berjuang gapai cita-cita kita. Semua terasa mustahil. Tapi ternyata we made it. Because we were together. Satu hal yang aku sadari saat itu, Mat, kamu nggak mendorong aku dari belakang, atau menarik aku dari depan, tapi kita berjalan bersama, beriringan, saling menguatkan. That’s what friends are for kan?

Aku punya banyak masalah, Mat. Aku pernah jatuh sejatuhnya-jatuhnya. Air mataku pernah habis sehabis-habisnya. Dan kamu, sama sekali nggak pernah ninggalin aku barang sedikit aja. Kamu ada, bahkan ditengah malam kamu masih mau ngladenin aku dan air mataku. Kamu dan keluargamu yang nemenin hari wisuda SMA-ku. Kamu, Mat, satu-satunya yang masih megang tanganku disaat orang-orang terdekatku seolah dorong aku ke jurang. Kamu yang bikin aku nggak jatuh tersungkur, bahkan kamu, adalah salah satu alasan kesembuhanku dari luka-lukaku.

Aku punya banyak teman, Mat. Tapi Tuhan baru kasih aku satu teman hidup, ya, kamu. Jadi aku akan selalu berdoa sama Tuhan agar Dia nggak akan punya ide untuk misahin kita. Aku juga akan selalu berdoa agar Tuhan kasih kamu jawaban atas segala cobaan, kekuatan, dan kebahagiaan. Karena bahagiamu, bahagiaku juga.

Aku punya banyak ketakutan dalam hidup ini, Mat. Aku takut sama masa depan. Aku takut sama masa lalu. Tapi kamu tahu nggak, kalau aku diminta pilih hal apa yang paling menakutkan dalam hidupku….

Jawabannya satu

Kehilangan kamu.





By the way, Mat, semoga kamu seneng ya dapet surat-cinta-hadiah-umur-21-yang-tinggal-sebulan ini walaupun tanpa eksplanasi tentang cinta sejati.


Kepada Tuhan (#30harimenulissuratcinta)

February 21, 2016 0 Comments



Aku tidak pernah meminta kehidupan
Aku tidak pernah meminta dimulainya permainan
Tapi yang menjadi kenyataan
Kau beri aku kepercayaan

Aku tidak mengerti mengenai alasan
Aku tidak mengerti mengapa ada cobaan
Tapi yang selalu menjadi keyakinan
Kau pasti punya tujuan

Aku tidak ingin ini menjadi kesia-siaan
Aku tidak ingin kalah dalam pertanggungjawaban
Tapi semua ini menyisakan tanya dalam kemantapan

Kau pasti memberi jalan

20 February 2016

Sa-Sayang (#30harimenulissuratcinta)

February 20, 2016 0 Comments

Halo, Sa!

Apa kabar skripsi? Haha aku memilih mengawali surat ini dengan sebuah pertanyaan yang tidak enak dibaca ya?

Aku tidak ingat bagaimana kronologis kita bertemu dan berkenalan, maafkan aku. Tapi aku memang harus mengenalmu. Bagaimana pun juga kamu adalah teman sekelasku ketika kelas satu. Salah satu teman paling rajin dan pintar yang pernah aku tahu.

Lalu takdir mempersatukan kita dalam satu pertemanan. Pertemanan yang penuh ketulusan. Yang membuat dunia remaja penuh senyuman.

Aku selalu mengingatmu, Sa, sebagai senyum yang tak pernah padam. Walaupun mungkin dunia begitu kejam. Walaupun masa depan terlalu mencekam. Senyuman itu belum pernah berubah seram. Yang jelas, bersamamu membuat aku tak bisa diam.

Aku selalu mengingatmu, Sa, sebagai hati yang begitu tulus. Kau lakukan yang terbaik yang kau bisa untuk cinta disekelilingmu demi kebahagiaan agar tak tergerus. Kau pikirkan orang lain dahulu sebelum dirimu, hal itu berlangsung terus-menerus.

Aku selalu mengingatmu, Sa, sebagai sosok yang selalu berbakti. Salah satu hal yang membuat hidupmu berarti. Dan membuatku amat terinspirasi.

Dan aku selalu mengingatmu, Sa, sebagai perempuan yang nggak paham ketika ada lelaki mendekati. Juga sebagai contoh perempuan gigih yang berhasil diet, well, itu prestasi. Hihihihi :3

Kamu dan ke-apaadaan-mu, Sa, special. Jangan berubah. Aku dan sekelilingmu menyukainya.

Kamu dan kepolosanmu, Sa, istimewa. Jangan berubah. Aku dan sekelilingmu menyukainya.

Kamu dan dirimu, Sa, indah. Jangan pernah berubah. Aku dan sekelilingmu menyukainya.


Bahagia ya, Sa.
Aku dan sekelilingmu mendoakanmu.



18 February 2016

Dini-ku (#30harimenulissuratcinta)

February 18, 2016 2 Comments

Suatu hari di depan diorama Keraton Yogyakarta.

Aku masih ingat tentang seorang gadis berusia 15 tahun, mengucir rambut keritingnya di belakang kepala. Menuliskan sesuatu di kertas yang ia bawa-bawa. Namun gadis itu tersenyum begitu manis ketika ku ulurkan tanganku untuk menjabat tangannya. Wajahnya sangat hangat dan ramah, aku bisa merasakan kenyamanan sekejap saja.

Gadis itu berasal dari Pekanbaru, tempat yang sama sekali aku tidak tahu ketika itu. Adalah teman sekelasku ketika masih kelas satu. Ia suka sekali warna ungu.

Ia baik sekali hatinya. Mau melakukan apa saja demi teman-temannya. Pandai sekali ia meracik makanan dan hebat sekali ia dengan pekerjaan rumah tangga. Keperempuanan gadis itu juga diimbangi dengan kemampuannya berhubungan dengan alam, juga motor Satriya.

Lalu rambut ikal itu diluruskannya. Kawat dipasang di giginya. Si manis kini semakin dewasa. Ia semakin cantik saja.

Dan lalu ia memutuskan memasang hijab di kepalanya. Membuat gadis itu semakin enak dipandang mata. Belum lagi ditambah berbagai macam kosmetika yang ia punya.

Aku pernah berkata padanya bahwa jika ia jatuh cinta ia akan setia. Dan ternyata benar adanya. Aku selalu berharap pada Tuhan agar hal baik selalu datang pada cerita cintanya.

Kini kami telah terpisah jarak 124 KM antara Semarang dan Yogyakarta. Tapi gadis itu selalu tidak ragu menempuh jarak itu jika ada apa-apa dengan kami yang di berbeda kota. Ia tetap ada.  

Halo Dini, pejuang kesukaanku.

Tuhan tahu bagaimana kamu sudah berjuang setiap waktu. Bagaimana ketangguhanmu dalam menjalani berbagai lika-liku. Bagaimana kamu selalu pentang menyerah terhadap apa yang menjadi milikmu. Temanmu, keluargamu, cita-citamu..

Tuhan tahu.

Tuhan akan selalu bersamamu. Memeluk mimpi-mimpimu.

Tuhan menyayangimu


Begitu juga dengan aku.


Untukmu, Cinta Pertamaku (#30harimenulissuratcinta)

February 18, 2016 2 Comments


Halo selamat malam, cinta pertamaku.

Apa kabarnya kamu? Terakhir kali aku denger kabarmu sih kamu habis putus dari pacarmu yang temen SMA-ku itu. Terus terakhir kali aku ngecek IG-mu itu aku liat fotomu tinggal satu, foto kamu sama tim MAPALA kampusmu. Kok dihapus semua sih fotonya, Ras? Tanda move on gitu ya dari mantanmu?

Move on emang suatu perkara serius dalam hidup. Itu juga yang terjadi sama aku, waktu aku mau move on dari semua cinta yang nggak berhasil dalam hidupku, termasuk kamu.

Mungkin kamu pakainya IG ya, Ras, kalau aku pakai diary. Dan kamu tahu nggak, waktu SMP aku punya diary tebeel banget, diary yang aku pakai dari kelas 1 SMP sampai awal SMA dan itu mostly isinya semua tentang kamu. Percaya nggak percaya, sampai detik aku nulis ini, diary itu masih ada, dan sampai kapanpun nggak akan pernah aku buang, nggak akan aku hilangkan dengan sengaja. Soalnya, semua pengalaman cinta pertamaku itu buat aku indah. Sakit sih, mostly, tapi indah, Ras. Nggak ada satu pun kisah di dunia ini yang bisa ngegantiin kisah cinta pertamaku, jadi ya gini deh, cukup kan alasanku untuk tetep nyimpen memori itu?

Tapi buat nulis surat ini, aku nggak mau nyontek diaryku. Sekalian aku mau ngetes seberapa jauh yang bisa aku inget tentang kamu tanpa diary itu. Sekalian ngetes seberapa dalam jejak yang kamu tinggalkan di aku.

Aku lupa Ras, tepatnya kapan aku mulai suka sama kamu. Dan apa juga alasannya. Yang jelas itu terjadinya ya waktu aku kelas 1 SMP. Eh kelas 7. 7-4, kelas kita dulu. Aku inget aku presensi 20 dan kamu 23. Tapi jelas bukan karena nomer presensi. Mungkin karena kamu temen yang baik waktu itu, terus kamu suka bikin aku ketawa, kamu suka berbagi rahasia, kamu suka minta dibantuin bikin tugas PKK atau KTK gitu, terus kita suka satu kelompok tugas garagara presensi yang deketan, kamu suka SMS aku dari pagi sampai malem, terus aku masih inget Damas, temen sekelas kita dulu sukanya ngecengin aku sama kamu….hm ya aku yakin seyakin yakinnya kamu udah lupa.

Buat anak SMP, Ras, yang masih awam banget sama pergaulan lawan jenis, mungkin udah sangat cukup alasan itu buat bikin aku tertarik sama kamu.

Aku suka senyum-senyum sendiri kalau liat kamu main bola di lapangan depan kelas kita, lihat jam warna item yang waktu itu rasanya kayaknya kok kegedean banget dipakai di pergelangan tangan kamu yang kecil. Aku juga masih inget tatapan mata kamu yang lain dari pada yang lain. Bukan, maksudnya bukan kamu natap aku dengan tatapan yang gimana gitu bukan. Maksudnya mata kamu, mata kamu bawaan lahir itu emang udah beda sama mata-mata yang lain. Tatapannya males-males nggak niat tapi tajem dan kejam. Gimana jelasinnya ya, tapi tatapan kamu itu, Ras, adalah salah satu hal yang special dari kamu yang nggak pernah aku lupain.

Dari saat entah itu kapan, ya, aku suka sama kamu. Nggak ada satu hari pun di masa SMPku yang dihabisin nggak pake mikirin kamu.

Memori yang masih tersisa di aku tentang hubungan baik kita adalah waktu kita di Bali, Ras. Aku masih inget kita bercanda di tempat tari Bali itu, kamu dan kameramu dan Alam yang waktu itu duduk di sebelahmu dan aku yang tepat dihadapanmu. Kita berkali-kali ribut gara-gara kamu mau ambil foto dan kepalaku ganggu pemandanganmu. Hehe hebat ya aku masih inget. Tapi mau berapa kalipun, kita gontok-gontokan kaya gitu, Ras, aku masih inget kalau lebih dari seminggu aku nggak bisa tidur gara-gara inget semua canda tawa kita di Bali waktu itu.

Lalu hubungan kita jadi super buruk. Aku lupa kenapa. Yang jelas itu terjadinya akhir kelas 1 SMP. Dan tahu nggak, Ras, itu menyedihkan banget buat aku. Bahkan sampai saat ini. Suatu titik balik yang teramat sangat drastis, dari temen yang amat sangat baik sampai aku bener-bener kaya gajah di pelupuk mata kamu yang nggak keliatan sama sekali, yang nggak ada artinya sama sekali buat kamu, bahkan sampai bertahun-tahun setelah kejadian itu, sampai saat ini kamu nggak pernah accept friend requestku di path kamu.

Kelas 8 kita pisah kelas. Kamu 8.2 aku 8.4, aku kira waktu itu mungkin emang yang terbaik, ya sesimple karena kita nggak saling bicara lagi, I need to move on. Tapi pada kenyataannya aku nggak pernah bener-bener move on, Ras.

Kamu kelasnya di bawah, aku di atas. Ada jalan yang lebih dekat ke kelasku kalau aku lewat pintu aula dan langsung naik ke atas, tapi setiap hari aku lewat pintu gerbang yang deket koperasi biar bisa lewat kelasmu, terus curi-curi pandang lihat kamu. Kalau pagi itu aku gagal lihat kamu, aku bisa uring-uringan seharian.

Terus pengkolan deket jembatan dr. Sardijto itu, Ras. Kamu inget nggak? Itu adalah tempat kamu setiap hari nyegat angkot kalau pulang. Aku sebenernya bisa naik angkot dari depan McD Sudirman buat langsung ke pangkalan angkot ku, tapi aku milih tiap hari jalan lebih jauh cuma karena kepengen banget lihat kamu duduk di pengkolan itu, Ras. Berharap kamu bakalan nyapa aku kalau aku lewat. Hal itu dua tahun aku jalani, tapi sekali pun impian aku nggak pernah terwujud.

Aku bahkan beli gantungan HP huruf ‘F’, Ras. Ya namaku emang inisial ‘F’, dan itulah kenapa aku bersyukur banget, jadi orang-orang nggak tahu kalo ‘F’ yang aku maksud itu kamu.

Satu lagi, Ras, memori yang masih nyangkut tentang kelas 8, hari Kartini. Ya, hari itu aku dandan habis-habisan, pakai kebaya yang bagus dan jarik yang oke banget. Banyak orang yang bilang aku cantik waktu itu, Ras. Tapi efek ucapan mereka nggak ada apa-apanya dibandingin efek waktu kamu ngeliat aku. Kamu, pakai batik warna coklat, cuma ngeliat aku waktu upacara. Ya ampun aku mungkin cuma sekelebat sekilas doang di mata kamu waktu itu, tapi sekelebat itu, Ras, aku nggak pernah lupa. 

Terus waktu itu kamu punya pacar. Temen satu kelas kamu. Terus aku patah hati. Itu patah hati pertama seumur hidupku, Ras. Dan rasanya sakit banget. Kaya ada pisau yang nusuk tepat di ulu hati. Aku lupa berapa liter air mata dan berapa halaman diary yang aku habisin untuk melampiaskan betapa sakitnya perasaanku waktu itu, tapi rasa sakit itu nggak berhenti.
Aku masih inget, waktu itu ada temen aku yang nembak aku, dan aku masih inget apa jawabanku buat dia, “Sori ya, kamu kan tahu sendiri aku sayangnya sama siapa.”

Ya, pada kenyataannya mungkin cuma kamu di dunia ini yang nggak tahu kalau aku segitu sayangnya sama kamu, waktu itu.

Terus kita naik kelas 3. Eh 9. Kita sekelas lagi. Dan keadaan rasanya kaya semakin buruk aja. Ya, memoriku tentang kelas 9 itu udah buruk bahkan tanpa ditambah memori tentang kamu.

Kelas 9, aku masih sayang sama kamu. Tapi temenku, yang suka sama kamu dan berakhir jadi pacar kamu waktu itu, setiap hari curhat tentang kamu. Ngeliatin semua SMS kamu ke dia. Nyeritain semuanya. Aku sok-sokan bantu dan jadi ‘tempat sampah’, dimana aku inget emang aku sampah banget waktu itu. Di hari waktu kalian jadian, aku inget aku pergi ke tempat les duluan dan nangis sendirian disana.

Ngomong-ngomong tentang tempat les, ya, kita di tempat les yang sama. Dan tempat les itu adalah neraka kedua buat aku yang panasnya lebih siginifikan ketimbang sekolah. Kamu, temen-temenmu yang jahat, prestasi kamu, kesinisan kamu waktu itu bener-bener nyiksa aku. Tapi herannya, aku toh tetep nangis waktu kamu jadian sama temen sekelas kita itu. Dan aku juga tetep nolak cowok yang nembak aku saat itu, cowok paling sempurna yang pernah nembak aku seumur hidupku, yang sekarang berakhir jadi sahabat super baikku. Ya, aku nolak dia, karena aku sayang kamu. Gila.

Terus kita lulus SMP. Kamu diterima di SMA 8 dan aku SMA 2. Fyi, waktu detik-detik kamu kelempar dari SMA teladan itu aku ngikutin banget lho. Hehe.

Dan yah, apa sih yang bisa aku harapin dari pisah sekolah? Ya, otomatis kita nggak pernah ketemu lagi dan ternyata perubahan lokasi bener-bener berdampak signifikan terhadap perasaanku, Ras. Aku jatuh cinta lagi. Aku bisa jatuh cinta lagi selain sama kamu, dan yah, otomatis nama kamu udah teramat sangat jarang terlintas di kepalaku.

Teramat sangat jarang itu bukan berarti nggak pernah sama sekali ya, Ras. Kamu adalah alasan kenapa setiap sekolahku ada acara, aku yang menawarkan diri untuk in charge publikasi ke sekolahmu. Kamu adalah alasan kenapa aku selalu dateng DBL atau pertandingan basket apapun yang melibatkan sekolah kamu, walaupun sekolahku nggak main, berharap kamu ada di sana, sekedar pengen lihat kamu (yang mungkin aja lagi suporteran) walaupun cuma sekelebat aja.

Reunian kelas 9.4, adalah momen di mana aku cuma pengen lihat apakah ada perubahan sikap dari kamu. Apakah kamu jadi semakin ‘tidak menyeramkan’ atau nggak. Ya, jujur cuma itu. Dan yang paling terakhir, Ras, waktu di tempat steak itu, aku inget bahwa kamu jadi lebih ramah. Dan karena emang sejauh itu yang pengen aku tahu, aku udah cukup bersyukur, Ras.

Ras, dulu waktu SMP, waktu aku masih segitu sayangnya sama kamu, aku selalu punya cita-cita untuk bisa ngungkapin perasaanku suatu saat sebelum lulus SMP. Just so you know aja, nggak pernah punya pikiran macem-macem. Karena 3 tahun menyayangi kamu, berusaha buat move on tapi nggak pernah bisa, itu bukan suatu hal yang mudah, Ras. Makanya itu, akan impas rasanya kalau kamu tahu.
Tapi pada kenyataannya aku nggak pernah punya keberanian untuk ngasih tau kamu, bahkan sampai aku ngetik surat ini.

Ras, umur 12 tahun aku mulai suka sama kamu. Dan sekarang, 10 tahun kemudian, aku baru sadar bahwa kamu adalah orang yang paling berhak tau tentang perasaanku yang dulu pernah ada buat kamu. Dan setelah 10 tahun berlalu, aku sadar aku udah nggak kepengen nyimpen unek-unek atau suatu apapun yang ganjel di hati aku kalau aku denger nama kamu disebut atau ketemu orang yang punya nama yang sama kaya kamu.

Yah, gini deh Ras. Aku harap apa yang aku tulis nggak bikin kamu salah sangka atau bikin kamu mikir yang nggak-nggak, karena memang aku sekedar kepengen bikin diriku lega. Udah itu aja. Aku bener-bener minta maaf kalo tulisan ini menjengkelkan buat kamu, apalagi sama tingkahku yang stalker banget, aku tahu ini bakalan ngeselin banget buat dibaca.

Sehat terus ya Ras. Semoga apa yang kamu cita-citakan dalam hidupmu jadi nyata. Bahagia ya Ras.


Harapanku terakhir Ras, aku berharap kita bisa berteman, at least di path. 

13 February 2016

Cintaku, Indonesia (#30harimenulissuratcinta)

February 13, 2016 0 Comments


Halo Indonesia!

Bohong kalau dibilang saya tidak sering mengeluh tentang sampah dimana-mana. Atau tentang tembok jalanan yang tidak bisa awet seperti adanya warnanya karena ulah tangan-tangan penggenggam cat pylox. Atau tentang budaya antri. Atau tentang lalu lintas yang semrawut.

Bohong kalau dibilang saya tidak punya mimpi bahwa suatu hari nanti saya tidak ingin meninggalkan Indonesia untuk menuntut ilmu atau berkarir. Atau untuk melihat secara langsung keindahan dunia yang selama ini selalu dibicarakan orang.

Bohong kalau dibilang saya tidak ingin memperdalam bahasa asing, padahal menulis dengan EYD saja saya masih kurang. Atau bahasa daerah saya sendiri saja saya masih luput.

Tapi Indonesia, ternyata teori cinta berlaku sekali pada rasaku untukmu.

Mereka bilang, cinta mampu menerima segala ketidaksempurnaan.

Ya, saya kesal dengan sampah, atau coretan pylox, atau orang yang tidak bisa mengantri, atau lalu lintas semrawut, tapi sekesal-kesalnya saya, pada akhirnya toh saya menyerah, saya tidak berpikir untuk meninggalkanmu.

Mereka bilang, cinta adalah rumah, tempat hati selalu kembali.

Ya, sejauh apapun saya melangkah, hanya padamu lah, Indonesia, saya selalu kembali.

Mereka bilang, cinta adalah memberi tanpa mengharapkan kembali

Ya, mungkin saat ini saya belum mampu memberikan apapun untukmu, tapi itulah salah satu tujuan hidup saya, memberikan sesuatu yang terbaik untukmu, memberikan manfaat dan berguna bagi negara saya, ya, dirimu, Indonesia ku.

Itu janji saya padamu

Karena, ya, saya cinta kamu.

pict: http://img13.deviantart.net/07d2/i/2006/288/2/1/sang_merah_putih_by_bl3ss3d.jpg

11 February 2016

Buat Rara (#30harimenulissuratcinta)

February 11, 2016 0 Comments



Halo, Ra!

Aku bingung mulainya gimana ya? Kepengen bikin surat yang bener-bener surat nih, yang nggak usah puitis-puitis amat tapi di hati kamu kerasanya tetep puitis. Cailaaaah.

Kita temenan udah lamaaaaaa banget ya, Ra? Kerasa nggak sih? Dan tahu nggak sih, kamu tu ya selalu beberapa langkah di depanku. Selalu bikin aku ngerasa kamu itu ‘wow’ bangetlah.

Nih. Jaman SMA, kita semua kalo nyontek PR sama siapa coba kalau bukan kamu? Wawasan kamu yang luas banget dan kamu yang smart banget bikin aku dulu rasanya kaya butiran debu aja. Terus sekarang, bisa-bisanya diantara kita kok ya kamu yang lulus duluan. Makin kaya remahan roti deh aku.

Fashionable banget. Aku suka banget gaya mu, Ra. Kamu punya style kamu sendiri dan kamu nggak malu juga pede banget. Aku suka banget kalo liat cewek yang percaya sama dirinya sendiri kaya sebodo amat orang mau bilang apa, selama nyaman ya so what.

Cuma Rara yang mau-maunya ditelpon tengah malem gara-gara aku patah hati si Daesung punya pacar dan aku nggak bisa tidur dan nggak bisa berhenti nangis. Hayo, inget nggak?

Cuma Rara yang mau-maunya diribetin berkali-kali gara-gara aku lagi pusing bikin CV yang keren buat magang. Bener-bener mau-maunya nuntun aku pelan-pelan via LINE dan email sampai tengah malem. Hayo, inget nggak?

Cuma Rara yang mau-maunya baca-baca cerita-cerita ku dan benerin EYD-nya. Huahahaahha aku sampai terharu!

Keibuan banget. Bijak banget dalam menghadapi masalah. Family oriented dan temen yang baik banget. Seneng banget tau, Ra punya temen kaya kamu. Perhatian. Udah siap bangetlah buat diperistri.

Kamu cantik, tahu nggak? Apa lagi setelah kamu berhijab, makin cantik aja. Maruk banget sih jadi orang, udah cantik muka, cantik hati juga. Tak peristri lho lama-lama!

Ra, jangan pernah berubah ya. Gila, bersyukur banget tau aku punya kamu. Iri banget aku sama hidupmu, apalagi Ibumu, rasanya pengen tak kloning buat aku aja. Sukses banget ibumu ngedidik kamu sampai kamu bisa jadi kaya gini.

Ra, tetep sabar ya punya temen kaya aku. Seriusan nih. Hahaha. Terus kalau ada drama korea yang bagus jangan lupa selalu kabarin aku :3

By the way, jangan ragu kalau punya masalah atau ada apa-apa, aku pengen bisa selalu ada juga buat kamu kaya kamu yang selalu ada buat aku.

Ra, tahu nggak, sayang banget lho aku sama kamu.


Jadi temenku-nya selamanya ya, Ra?

09 February 2016

May-nificent (#30harimenulissuratcinta)

February 09, 2016 0 Comments


Hay May!

Suatu hari di masa putih biru aku berjumpa dengan kamu. Bukan suatu jenis pertemuan yang memorable memang, tapi aku bisa mengingat bagaimana signifikannya kamu di saat itu, di tempat les yang sama denganku dan tidak ada sepatah katapun.

Di suatu hari di masa putih abu-abu sekali lagi aku berjumpa denganmu. Lagi lagi bukan suatu jenis pertemuan yang memorable, karena pada saat itu takdir memberikan kita kelas yang satu, jadi aku pun harus bertemu denganmu mau tidak mau.

Lalu waktu berlalu, bahwa kita pada akhirnya menjadi satu kumpulan, siapa yang tahu. Bahwa persahabatan ini telah tujuh tahun berlalu juga tidak pernah ada yang tahu.

Saat ini maupun tujuh tahun lalu, kamu tetaplah menjadi sesuatu yang mencengangkanku. Dari motor laki-laki yang setiap hari kau tunggangi, rasa percaya diri, gigih dan semangat hidup yang tinggi. Juga tentang hidup ini, mungkin diantara kami kamu bukan yang paling tinggi, tapi kedewasaanmu sungguh sudah tidak diragukan lagi.

May, dari mu aku banyak sekali belajar. Bagaimana hidup memperlakukan pemainnya dan bagaimana tetap bertahan untuk tidak keluar dari permainan. Bagaimana mengolah nasi yang sudah menjadi bubur menjadi santapan yang luar biasa lezat.

May, mungkin aku bukan bahu ternyaman untuk bersandar. Ataupun bukan teman yang terenak untuk diajak bercanda tawa. Tapi kapan pun kamu butuh aku, aku ingin kamu tahu bahwa aku akan ada. Aku akan mendorongmu dari belakang juga menarikmu dari depan, jika dirasa kamu mulai kelelahan akan semua scenario Tuhan.


Akhir kata May, please ajari aku cara kutekan. :”)


08 February 2016

The Ticking Things (#30harimenulissuratcinta)

February 08, 2016 0 Comments


Aku tidak pernah memberimu nama
Dan yah, kamu bukan yang pertama

Dia, sang pioneer, dilingkarkan di pergelangan tanganku oleh lelaki yang paling menginspirasiku di dunia. Usiaku masih tujuh ketika hal itu terlaksana. Dan pria itu memperkenalkanku pada sesuatu yang sangat berharga.

Masa.

Benda itu menemaniku sejak aku SD hingga SMA, sejak kau ada hingga tiada. Hingga pada akhirnya ia pun sudah tak mampu ku selamatkan karena usia. Si hitam mini sahabat sejati kala itu digantikan oleh hadiah usia ke tujuh belas dari ibunda.

Apa yang terjadi pada si putih pun kini sudah terlupa. Yang ku ingat aku lalu bertemu denganmu, hadiah dari orang yang sangat tidak ku suka. Yang mampu membeli jam digital dengan harga yang berjuta, tapi tetap masih gagal membuat hatiku terbuka.

Aku tidak pernah menyangka bahwa kehadiranmu mampu ku terima. Jam digital perlambang perdamaian juga harapan dari orang yang ingin ku cinta.

Hay, jam digital dengan harga juta, buatku kau bukanlah hanya penunjuk masa atau perhiasan, bagiku kau adalah pengingatku akan penerimaan juga hutang cinta yang seharusnya ku berikan demi bahagia.

Untuku, dirinya…… juga kita.


07 February 2016

A Message from Heart to Kang Daesung (#30harimenulissuratcinta)

February 07, 2016 0 Comments
I intended to make this letter like a proper letter. Yes, because its for you, my one and only Kang Daesung.



Hello, Daesung oppa!

Yes, it seems like I will call you ‘oppa’ for the rest of the letter. Its simply because you are older than me and you’re a ‘namja’ right?

At first, I want to introduce myself. My name is Luthfinta and I’m from Indonesia. This year I will be 22 years old and I’ve met you twice. Ok, not literally ‘met’, I watched you live. First when you came to Indonesia to promote Kakao Talk and second when you held your MADE concert with your Bigbang mates last August.

Ya, just for you know, it was rough and hard just to go to Jakarta and watched you and other Bigbang members but it was worth it.

Ok, I want to tell you the very first time I fell in love with Bigbang. Well, it was you the reason why I love Bigbang soooo much. If many people fell ini love for Haru-Haru or Lies or Last Farewell but for me the one catch my heart was Tell Me Goodbye especially your part. In that song your voice was so amazing. Like really amazing. Yeah, after that song, I automatically and officially became a VIP. Until today, there’s no other KPOP boy band in my heart other than Bigbang.

And then I started to browse every little thing about you, oppa. Any information and everything I found about you just made my love for you deepen.

I love your heavenly voice (off course!). I love your eyes, the way they smile when you are smiling, the look in your eyes just sincere and honest. I love your attitude and your effortless humour, its just so natural. I don’t know, everything I saw from you its just so natural. You are such a warm guy, it reflects on the way you treat people and your sincere heart. Your sensitivity with things around you and how you respond to them… well, you are great.

For your information, I watched all episodes of your Family Outing just because I want to see you. My tiredness like fade away every time I watched that.

And then, I love your spirit. I watched (or read) your interview about how you finally got to your position right now. How you catch your dream. Your hard work, your never ending willingness to learn and your perseverance. The most important thing is that despite everything you’ve been through, you are still being you. That’s just the way you inspire me.

I may not know what kind of person you are behind all the spotlights, I may not know the true you, but I always believe in you.

I still have this, your interview some time in 2010, when you talked about your ideal woman.



Haha, I don’t even expect to be your ideal woman, but to read that, it burns my spirit up to be better day after day. I want to inspire you if may be we have the chance to actually meet and sit together (I wrote that as my life goal, btw). I want to tell you how much I learn from you and how much you inspire me to be the future success me. I want you to notice me because of my credibility, someday.

Please, don’t change and keep working. Because you are my ultimate moodbooster and inspiration, and thank you for being those.

Daesung oppa, I definitely will find a way for you to read this because I write with all my heart and I’m sure it can be your consolation in the middle of the preparation of the MADE final concert in Seoul.

I hope the concert will be a huge success. I hope your career will be brighter and brighter every single day. I hope things will be get in your way no matter what it is. I always hope you to have a happy life and keep doing your beautiful music.

Kang Daesung oppa, I still hope someday we can actually meet.

Please come to Indonesia if you have the chance.

Cheers,

Your forever adorer 


06 February 2016

The Chance (#30harimenulissuratcinta)

February 06, 2016 0 Comments


I dedicate this story for you. 
I've been told not to tell anyone about things we had. I've promised you I wont ruin things. 

By this, I just wanna let you know that you are important enough for me to receive this. 

Well this is it. 

The Chance





“Yes! Akhirnya guys, PERADABAN!” seru Ahmad, salah satu teman satu kelompok KKN-ku.

Pesawat yang aku tumpangi dari Bandar Udara Sultan Iskandar Muda Aceh baru saja mendarat dengan mulus di Bandar Udara International Soekarno Hatta. Aku melihat jam tanganku. Masih ada 4 jam lagi sebelum penerbangan selanjutnya membawaku dan ke-23 temanku kembali ke Jogja.

“Jalan-jalan yuk,” kata Beta sambil mencolek bahuku.

04 February 2016

Revo (#30harimenulissuratcinta)

February 04, 2016 0 Comments


Sejak lima tahun persahabatan ini terjadi
Tidak ada yang lebih mengerti
Tentang setiap destinasi
Yang harus ku tempuh setiap hari

Kamu selalu disini
Walau sering sekali ku sakiti
Oleh bahan bakar yang tidak penuh terisi
Atau roda yang tipis karena lupa ku ganti

Jatuh bangun hingga 15 kali
Torehan luka di kaki
Juga goresan di bempermu telah menjadi saksi
Bahwa kebersamaan ini tak akan pernah terganti

03 February 2016

Untuk Si Sangar Berhati Malaikat (#30harimenulissuratcinta)

February 03, 2016 0 Comments


Sumpah, mau mulai pakai kata-kata apa ya yang bagus buat kamu, Ras?

Mau nulis yang puitis, tapi aku geli sendiri kalau ngabayangin bakalan kamu yang baca surat ini. Mau pakai yang santai dan biasa aja kaya begini, tapi nanti kamu merasa didiskriminasi. 
Jangan merasa didiskriminasi ya Ras, merasalah jadi orang super special, karena memang itu alasan keberadaan surat ini.

I love you, Ras.

Kamu wanita ‘sangar’ pertama yang punya hati bak malaikat yang pernah aku tahu.

Perwujudan nyata seorang teman sejati yang selalu rela menolong, rela berkorban, berteman sama siapa saja dan nggak pernah egois. Selalu mementingkan kepetingan orang banyak dulu baru dirimu sendiri.

Kamu selalu bilang bahwa kamu bukan orang seperti itu. Bahwa kamu deep inside adalah manusia jahat. Hah. Gawat Ras, masa kamu nggak kenal sama siapa dirimu sendiri?

Kamu adalah orang pertama yang selalu aku datangi setiap aku butuh cerita. Orang yang selalu bisa memberikan aku insight akan hal-hal yang sudah atau akan terjadi. Tempat aku mengeluh tanpa pernah menghakimi. 

Kamu senyaman itu. Sebisa dipercaya itu.

I owe you that much, Ras.

Dan nggak cuma aku, banyak temanmu pasti yang merasa begitu.
Karena memang kamu sebaik itu.

Heh wanita tangguh, beritahu aku caranya berterima kasih. Beri aku kesempatan juga untuk jadi teman yang baik. Satu janjiku, aku pasti akan selalu ada kalau kamu butuh aku. 
Heh wanita hebat, jangan pernah menyerah. Tetaplah semangat. Tetap jadi kebanggaan ibu dan adik mu, juga orang-orang disekelilingmu. Tetaplah jadi inspirasi.
Heh wanita berhati mulia, jangan pernah berubah!

Heh Laras, jangan berhenti jadi sahabatku :)

02 February 2016

My 5 Mood Boosters from LAZADA

February 02, 2016 0 Comments


Lately, my job, my projects and my final essay sure taking me in to the restless kind of life. I don’t have time to take some trips either with family or friends even on holidays, even I don’t have time for myself. Oh God, these things really burns me out. 

But the good news is: I am a girl. 

What is so good of being a girl? 

To boost up the mood of a girl is practically not that hard. Just give her the chance to sneak peak to some shops and let her to pick her favorite stuff and voila! the dark mood will soon disappear. Its instant and effective. Hehehe 

Thanks God there is LAZADA in this world!

Its 2016 and you are positively living in the jungle if you don’t know LAZADA, the coolest online shopping e-commerce with VERY MUCH products offered. When I said ‘very much’, I mean everything! And I’m not joking. You can found home appliances, watches, computers & laptops, toys, games, fashion items and many more. And you can get anything you want without set your foot to anywhere but your current place. 

For me, the-have-no-time-for-shopping-around-girl, this is literally the heaven on hands. I can do my window shopping activity without making any special time to go out. I can boost my mood up at times that are usually discarded as useless like while waiting in line, waiting for class to begin, waiting for the order in a restaurant, or on my insomnia nights. 

And these are more reasons why I choose LAZADA as my favorite ol-shop

1. TOO MUCH discounts to handle!


Discounts are my favorite weakness ever! Please tell me, where the heck is the girl who does not weak against a discount? Even it makes you poor in the end of the month, but the satisfaction of getting your favorite stuff at low price is no joke! 
And LAZADA gives you the pleasure, its here and there all over the web! Woohooo! 


2. It's SUPER DUPER EASY and TRUSTED


There are still so many people who afraid to do online shopping, but with LAZADA you can't be worry anymore. The privileges of shopping with LAZADA are clearly explained on the web and thats super easy, save and trusted.

Talking about LAZADA, I want to share my latest window shopping result. Let me take you to my imagination world, where money is not an issue, so that I can buy whatever I want.

Because we are already in that imagination world, I will show you my shopping wish list, yes, 5 things I want to buy at LAZADA. 5 things that boost my mood up even if just looking at it and imagine how those things will solve my problems. 


1. Kokakaa Waxvac Ear Cleaner


Back in 2015, I went to the aurist (medical term for doctor specialist in ears) like numerous times just to clean up my ears because I have problems to clean it myself. I don't know, its just hard for me. I tried with cottonbut but the earwax went deeper. Well, I just don't have the talent for cleaning ears. When I saw this product for the first time, I know right from the start that it will be my life (and my purse) savior. Beside the product has good reviews from the past buyer, its waaaaayyy cheaper than go to the aurist. Well, I can't wait to have it!

2. Pet Waste Pooper Scooper Cleaner


This one is another solution for my life, mmm.... actually my pet life. I have a super cute persian cat named Milo. I love her so much that I like to bring the cat to travel. But for all this time, her poop has always been the problem. But with this product, I'm sure that it wont be any trouble anymore. We can have fun together anywhere. 



Milo will be happy and I will be happier!

3.  Panasonic 22" Full HD LED TV Model TH-225C305G


I am addicted to any kind of asian dramas and tv series. I always watch those when going to bed with my notebook. It relaxing everytime I watched it in the end of the day, I believe the handsomeness of the actor will make my dream beautiful. Hehehe.

And with this product, I believe that it will make my quality time with myself more fun and exciting because the charms of the actor will increase. It has better screen quality than my notebook's screen. A looot better. And it has connection to HDMI and USB too! Wow!

Well, I can't wait my dream at night changes from beautiful in to wonderful. 

4. Samsung Camera WB-35F WiFi


I love taking pictures, NO! I love someone to take a picture for me, a good one. Well, who doesn't? 

Yes, that is the problem. I always need a good picture to be posted on my social media but I don't really like photography things so yeah, my DSLR Camera just lying untouched because for me its hard and heavy, yes, its too big to put in my sling bag. 

So, this pocket camera will be solution. The size is smaller than the DSLR Camera and the resolution is way better than my phone camera. Plus, it can be connected to wi-fi, so it will be easier for me to keep in touch with my social media.


Check what photographer Ben Shaul said about this product!


5. Marvel 3D Light FX 3D Deco Light Thor Hammer Original License Marvel


WHOAAA!!!!! 
That was literally my first reaction when I saw this. Other than I AM SO MUCH IN LOVE WITH THOR, I don't have any explanation why I want this to be mine. 

OMG ITS SUPER DUPER BEAUTIFUL!
Oh My God LAZADA I don't know how does you have this kind of thing in your catalog? You made me super speechless. I just want thissss!

****

Ok. That's that, a little escape from hectic world that boost my mood up. Very convenient, fun and addicting. If you want to experience how this heaven on hands works for you, you can just simply click www.lazada.co.id .

Well girls, have fun!





Ini adalah sebuah acara Kompetisi Blogger ShopCoupons X Lazada Indonesia. Yang diselenggarakan oleh ShopCouponsVoucher Lazada disponsori oleh Lazada Indonesia. 

01 February 2016

Halo Ulli! (#30harimenulissuratcinta)

February 01, 2016 0 Comments


Halo Uli!

Bagaimana kabarmu saat ini? Aku sungguh berharap hari-hari mu penuh warna-warni dan terus diberkati

Aku masih ingat waktu aku melihatmu pertama kali. Kamu melintas koridor menuju kelasmu pada suatu pagi. Tanpa senyum dan berjalan bak peragawati, menurutku saati itu kamu terlihat begitu ngeri. Saat itu untuk bisa berteman denganmu pun tidak pernah terbesit sama sekali.

Lalu Tuhan membuat scenario sendiri. Memberikan kami satu kelas untuk dimiliki. Lalu kami pekenalan pun dimulai. Percakapan juga mulai teruarai. Lalu kami mulai saling berbagi tanpa disadari.

Ulli, aku masih teringat akan telpon setiap hari. Entah demi pekerjaan rumah atau sekedar mencurahkan emosi. Hampir setiap adzan maghrib selesai, aku selalu mendengar suara atau sekedar rajukan yang unyu sekali.

Bahagia bisa mengenal Ulli. Salah satu gadis unik yang pernah aku kenali. Membuat aku merasa bahwa bukan hanya aku satu-satunya yang begini di dunia ini.

Uli adalah pintu pertama yang memperlihatkanku bahwa likaliku hidup tidak hanya ada di acara tv. Dan lalu gadis ini tetap tersenyum dan tegak berdiri. Walau kadang air mata mengalir dari pipi, tapi ia tetap manjadi sahabat tertangguh yang pernah aku miliki.

Kini, ada jarak yang memisahkan kami karena tuntutan perguruan tinggi. Merubahnya menjadi gadis yang lebih mandiri. Lalu bibirnya bercerita padaku bahwa kini ada seorang lelaki yang selalu menemani. Juga hidupnya yang terdengar lebih tertata rapi. Aku berharap semoga semua itu benar terjadi.

Ul, terima kasih pelajarannya selama ini. Aku selalu berharap hidupmu lancar, bahagia tanpa kesulitan yang berarti. Juga aku harap senyummu tidak pernah terenggut sampai akhir hayat nanti.

Ul, akhir kata, kapan kita bisa nonton Bollywood sama-sama lagi?  J