Follow Us @soratemplates

19 November 2018

[Living 20's] Lawan Quarter Life Crisis Dengan Self Compassion

November 19, 2018 0 Comments


Halo, quarter life crisis!

Kamu tahu nggak kalau kamu itu jahat? 

Sekuat apapun aku menolak kehadiranmu dalam hidupku, toh, kamu tetap datang. Kamu malah menyerang aku sekuat tenaga sampai aku mentally breakdown. Kamu membuat aku merasa nggak cukup sama diriku sendiri nggak peduli pencapaian apapun yang udah aku buat. Kamu membuat aku melihat dunia dengan cara yang beda dengan sebelumnya. Kamu juga membuat aku merasa semua yang ada di hidupku berantakan. Nggak beraturan. Nggak pada tempatnya.

Aku capek memerangi kamu. Pun mengikuti semua keanehanmu. Jadi aku memutuskan untuk berkenalan dengan kamu. Mungkin dengan berkenalan dengan kamu, aku jadi bisa merasa lebih baik sama duniaku, terlebih sama diriku sendiri.

Mengenalmu, membuat aku tahu modus operandi kejahatan utamamu : 

Kamu membuat aku menyalahkan diriku terus menerus.

Kamu membuat aku menyalahkan masa laluku kenapa aku dulu nggak begini, kenapa aku dulu nggak begitu. Membuat aku berpikir kalau aku terlalu payah, aku pengecut, aku bodoh, aku nggak mampu, aku pemalas... Kamu juga membuat aku jadi selalu melihat ke atas. Membuat aku menetapkan standar tertentu terhadap hidupku. Kamu membuat aku take my achievement for granted

Kamu tahu nggak, apa yang udah kamu lakukan ke aku itu merusak kesehatan kejiwaanku dan menghambat jalanku untuk sukses? Kenapa? Karena seluruh energi negatif yang kamu buat itu melukai performance kerjaku, membuat aku jadi mudah menyerah, membuat aku memutuskan hal-hal bodoh dalam hidupku secara impulsif dan yang jelas, kamu membuat aku jadi melupakan apa-apa saja hal yang sebenarnya aku mau dan butuhkan dalam hidupku.

Kejam ya kamu?

Tahu nggak, aku lelah dengan kekejamanmu. Aku mau berdamai sama kamu. Mungkin kalau berdamai terlalu sulit, aku mau berdamai sama diriku sendiri. Aku mau bersahabat sama diriku sendiri. 

Karena itulah aku mencari tahu tentang ‘self-compassionate’.

Jadi ternyata, self compassonate itu adalah memperlakukan diri kita sendiri sebagaimana kalau kita memperlakukan orang lain yang datang dan curhat ke kita tentang kegagalannya atau masalahnya. 
Ada tiga poin yang harus di-highlight dari proses ini. 


  1. Berbuat baik sama diri sendiri. Jangan terus-terus menyalahkan diri. Kalau gagal, aku mencoba bilang sama diri sendiri : “its okay that you failed, it doesnt mean you are a bad person or bad at what you do.” 
  2. Memahami kalau aku adalah manusia yang bisa bikin salah. Bahwa semua orang pernah bikin salah. Bahwa kesalahan adalah guru terbaik. Jadi, bikin salah itu bukan masalah besar.
  3. Mindfullness. Sadar dan memperhatikan pikiran dan perasaan diri sendiri. Mencoba melihatnya dengan objektif tanpa membawa emosi seperti emosi pada diri sendiri.  
Iya, memang susah membiasakan diri untuk ber-self compassion, bukan hanya karena aku terbiasa kritis dengan diriku sendiri tapi juga karena rasanya aneh aja mengasihani diri sendiri. Kita terbiasa dilatih untuk baik sama orang lain, tapi baik sama diri sendiri itu rasanya seperti suatu konsep yang asing. Tapi aku nggak mau menyerah. Aku tahu itu obat yang baik bagi kejiwaanku. 

Jadi aku melakukan hal-hal ini :

1. Bicara sama diri sendiri.
Setiap pagi dan malam sebelum tidur, aku berkaca. Aku bilang sama diriku sendiri kalau aku pintar, aku sehat, aku cantik, dan aku senyum sama bayanganku sendiri. Aku bilang kalau segala kesalahan yang lalu itu semua sudah berlalu, semua bukan masalah besar dan aku siap menjalani hari baru.

2. Menulis surat buat diriku sendiri.
Kalau emosiku sedang tinggi dan semuanya terasa menyesakkan, aku buka diaryku dan aku tulis surat buat diriku sendiri seolah-olah aku menulis buat orang lain. Aku membuatnya seolah-olah untuk orang yang aku sayang dan udah melakukan kesalahan yang sama. Kata-kataku kubuat comforting dan nggak menyerang. Aku berusaha menormalisasi kondisi dan nggak membuatnya semakin buruk. 

3. Memajang kata-kata motivasi.
Aku membuat kata-kata motivasi yang kupajang di wallpaper laptopku, jadi kalau duniaku lagi buruk, aku melihat kata-kata itu lagi dan merasa semua lebih baik. Punyaku, kurang lebih begini :

Living is a risk. Happiness is a risk. If you’re not a little scared and uncomfortable sometimes, then you’re not doing it right.

4. Membuat gratitude list.
Aku menulis apa-apa saja yang membuat aku bersyukur hari itu sedikitnya lima hal. Dari hal kecil seperti bisa bangun sholat subuh tepat waktu, disambut pulang oleh si kucing yang jilat-jilat kaki, kuota internet nggak habis waktu lagi memutar video bagus di youtube, bisa makan nasi, sampai nafas yang diberikan hari itu.

Percaya atau nggak, setelah melakukan hal-hal kecil di atas, serangan si jahat quarter life crisis ini tiba-tiba jadi nggak terlalu kejam lagi. Iya, memang masih mengganggu beberapa kali. Tapi dengan berbaik hati ke diri sendiri, rasanya batinku jadi jauh lebih kuat. Aku jadi fokus lagi dengan tujuanku. Aku jadi nggak lagi terbias sama hal-hal nggak penting yang hanya menggoda keimananku menghabisi mimpi-mimpiku yang sedang kubangun. Aku juga jadi lebih pengertian dengan diriku sendiri. Semakin sadar dengan apa yang aku mau dan aku butuhkan.

Yang jelas, hidupku jadi lebih bahagia.

So, quarter life crisis, game on!


Photo by Tetyana Kovyrina from Pexels
 photo ttd_1.png

14 November 2018

[Poem] Berawai

November 14, 2018 0 Comments



aku lelah ada.

memelukmu mengapit jarak 
menghabiskan pundi-pundi rupiah
menggelung raga keesokan harinya 

hanya untuk menukar sesal yang tak jelas.


hari ini aku menangisi ada.
membayang kamu datang bawa tenang
mengharap telingamu tampung kata-kata
mengingin hangat walau maya

hanya untuk meratapi keegoisanmu semata.



 photo ttd_1.png

17 September 2018

[Note to Self] Tentang Orang yang Mencintai Sepenuh Hati

September 17, 2018 0 Comments

“How they make you feel says a lot about them and nothing about you. Someone who makes you question if you are worthy of being loved, is not worthy of your love”

Tahukah kamu apa yang terjadi terhadap seseorang yang mencintai setulus hati?

Orang yang mencintai setulus hati bagaikan lautan perasaan yang luas, mereka tidak tahu bagaimana caranya menghentikan debur ombak di hati mereka. Mereka tidak tahu bagaimana caranya berhenti memberi. Dan walaupun itu adalah aspek terbaik dari diri mereka, bagian ini juga adalah bagian terfatal. 

Karena orang yang mencintai sedalam-dalamnya juga akan tersakiti sedalam itu.

Orang yang mencintai sepenuh hati selalu mengunci jiwa mereka pada belenggu yang salah. Mereka mencurahkan seluruh kapasitas dirinya kepada seseorang yang hanya mengharapkan persinggahan sementara.

Mereka yang dicintai sepenuh hati tidak akan pernah mengerti bagaimana seseorang dapat memberi seluruh jiwa dan hatinya, juga melakukan hal-hal di luar nalar tapi tidak mengharapkan balasan apapun. Dan mereka yang dicintai tetap terus melakukannya, mengambil sebanyak-banyaknya apa yang bisa mereka dapatkan dari orang yang begitu mencintainya. Mereka membiarkan kehangatan orang yang mencintai sepenuh hati ini untuk terus menyelimuti mereka. Lalu ketika mereka sudah selesai mengambil seluruh keindahannya, saat itulah mereka membuangnya begitu saja.

Namun seseorang yang mencintai sepenuh hati akan tetap mengalami kesulitan untuk membebaskan hati mereka dari belenggu itu. Orang yang mencintai sepenuh hati selalu tidak kuasa meninggalkan karena mereka tidak mampu meyakinkan diri mereka sendiri untuk pergi dari seseorang yang mereka tahu mereka bisa bantu. Mereka tidak akan bisa berhenti untuk terus mencoba memberi kepada seseorang yang ia cinta hingga mencapai kapasitas mereka yang maksimal.

And this is why people who love deeply hurt the most. Seluruh pemikiran tentang bagaimana seseorang pergi ketika mereka masih merasa memiliki banyak hal untuk diberikan menghantui mereka. 

Seseorang yang mencintai sepenuh hati tidak akan pernah lupa, hati mereka dihias oleh kata perpisahan semua orang yang mampir dalam hidup mereka, terutama mereka-mereka yang belum sempat bersinar karena kasih yang bisa diberikan. Walaupun mereka tahu bahwa rasa cinta itu adalah cinta yang salah tetapi bagi mereka yang tulus mencinta, tidak akan pernah ada cinta yang percuma, tidak akan pernah ada kata memberi yang terlalu banyak. Mereka memang hidup untuk memberi.

Tahukah kamu apa yang terjadi terhadap seseorang yang mencintai setulus hati? Mereka adalah makhluk paling tidak masuk akal di dunia. Mereka adalah jiwa-jiwa dan hati yang ikhlas yang akan memberi tanpa berpikir, tetapi bukan berarti kamu bisa memanfaatkan mereka begitu saja. 

Tidak. 

Jika kamu tidak bisa menghargai mereka, jika kamu tidak bisa berhenti ‘mengambil’ dan jika kamu tidak tahu kapan bisa membalas cinta mereka meskipun mereka tidak akan pernah bisa meminta, jangan pernah dekati mereka. Jangan pernah coba-coba merasakan keindahan hati mereka. Jangan pernah berani-beraninya meminum air dari lautan harapan mereka. 

Jangan hancurkan mereka. 

Jangan. 

 photo ttd_1.png

03 September 2018

[Life] Ooops! I Slept with Jefri Nichol

September 03, 2018 0 Comments


Sebagai masyarakat milenial Indonesia yang hidup di tahun 2018, apalagi sebagai kaum hawa, sepertinya agak aneh kalau sampai nggak tahu Jefri Nichol. Entah karena kemampuan seni perannya atau pun ketampanannya, yang jelas dia sedang banyak digemari masyarakat, terutama perempuan, salah satunya saya. Sampai-sampai, saya kasih nama kucing saya yang baru, Jefri Nichol.

Oke, kalau kamu memutuskan membaca tulisan ini karena judulnya yang mungkin membuatmu panas dingin, tenang saja, kamu nggak akan menemukan cerita saya tidur dengan aktor Dear Nathan itu. Wah kalau sampai kejadian, bisa diamuk massa. Lagi pula, saya sudah teramat sangat senang kok dengan fakta kalau saya bisa tidur dengan Jefri Nichol si kucing.

Ya, sesenang itu. Sebahagia itu. 

Melihat ke belakang, Januari lalu, dunia saya pernah runtuh saat ditinggal dua ekor kucing peliharaan untuk selamanya. Saya menangis seminggu. Saya nggak bisa tidur bahkan sampai benar-benar nggak berfungsi. Saya ijin bolos kerja dengan alasan ada keluarga yang meninggal karena nggak mampu memusatkan pikiran terhadap apapun selain rasa kehilangan yang begitu menyakitkan. 

Saya sendiri nggak nyangka kalau saya bisa sesedih itu. Seumur hidup, saya nggak pernah terbayangkan punya peliharaan. Sekalinya punya, saya jadi merasa tidak bisa hidup tanpa mereka lagi. 

Selang tujuh bulan hidup tanpa kucing, akhirnya bulan ini saya pelihara lagi. Saya diberi anak kucing oleh teman yang kebetulan kucingnya habis beranak banyak. Demi apapun, rasanya luar biasa senang dan nggak sabar! Seperti akan menerima tamu agung, semua hal yang berkaitan dengan keperluan kucing saya siapkan dengan matang, terutama namanya.

Jefri Nichol. Dengan panggilan sehari-hari Nichol.

Kenapa namanya Nichol? Karena menurut penelitan saya yang nggak penting, semua laki-laki bernama Nichol itu tampan. Jefri Nichol dan Nicholas Saputra... saya hanya ingin si kucing besarnya nanti jadi tampan juga. Selain itu agar saya bisa update status di sosial media dengan caption “Bobo bareng Nichol”. Pasti terlihat menyebalkan. Hahaha



Hidup jadi super menyenangkan sejak kehadiran Nichol. Nichol itu beda dengan kucing-kucing saya terdahulu. Dia jauh lebih pemalu tapi dia penuh kasih sayang. Nichol selalu marah kalau dia harus kembali ke kandangnya. Dia selalu saja suka di kamar saya, walaupun setelah itu dia nongkrong di bawah kasur. Setiap saat, dia selalu jilat-jilati saya, kadang sampai gigit-gigit, kadang juga mencakar-cakar dengan maksud bercanda, tapi karena kukunya tajam, saya jadi kecakar betulan. 

Nichol bikin saya jadi betah di rumah. Mungkin benar ya apa yang orang-orang bilang kalau kucing memberikan manfaat yang luar biasa pada mereka yang stres, cemas dan depresi. Karena memang pada kenyataannya, mendengar dengkurannya membuat saya jadi rileks dan rasanya suasana kamar saya jadi sangat ramah dengan tingkahnya yang aneh-aneh, ya walau memang keberadaannya sering 
mengganggu saya kerja sih. Habis dia terlalu lucu untuk diabaikan. 

Selain ganggu saya kerja, Nichol juga hobi bersih-bersih rumah. Ya itu kalimat sindiran sih. Karena tubuh dia yang sangat kemoceng, dia jadi hobi banget masuk daerah-daerah penuh debu dan sawang yang jepit-jepit tersembunyi gitu lah. Bikin saya jadi geleng-geleng kepala sendiri soalnya dia bertingkah begitu persis setelah dimandikan :”



Tapi nggak apa sih ya, karena saya percaya kok sama Sigmund Freud yang katanya “Time spent with cat is never wasted”





 photo ttd_1.png

27 August 2018

[Living 20s] Between Passion and Loneliness

August 27, 2018 0 Comments


This is what i really want to share about the new phase of life I’m struggling with: I’m feeling extremely lonely.

Before we get there, here are things entangling my heart and mind which I think very important for me to get over with by writing it. 

They say, your twenties are supposed to be about falling head over heels in love: not just with the wrong guy, but with yourself, a career and foreign cities all over the world. They’re supposed to be about adventure and excitement; a time to take chances and dream big.

And that’s what I’m doing with my life. Hell yeah, I'm hardly falling in love with this wrong guy and suffer from sleepless night crying everytime things didn’t work out, but that's not my point when I decided to write this. The fact that my love life is incredibly suck, it turns out that anything happens with that guy doesn’t bother me as much as my love life with my career does. 

Yes, since I postponed my decision to take a master degree, I drown myself so much in to writings. And thats just feel right. It brought me to take writing workshops, classes, even competitions.  Moreover, I get to write screenplays (and it does really turn in to something you can watch on screen!) and my book published. 

It feels right. It feels great. Its somekind of a dream came true. Though I majored in economic management, I never really have a dream job beside to be a writer since I was a kid.

But happily ever after its just a myth the fairy tales told you.  Behind every single decisions, lies adventures to deal with. And it wont just end even if you feeling like reaching the goal, because in life, there's no exact finish line unless your life’s game over. 

And that's exactly what I feel.

I don't say that I’m not happy. No. I’m content with my life. I'm content with what I’ve got now. But, I feel really lonely.

An article I stumbled upon said: One major challenge within happiness is loneliness.  

It never occurs in my mind, even when its a very basic thing, that being a writer means that I have to work alone. No one ever told me before. And once I experience it, it hits me hard. Real hard. 

Anyone who knows me in real life would understand why this is a real deal for me. I’m a social person. Not a social media person, because basically I’m living in the real world. I make friends. I talk to them, even I shout. I got an award as the loudest person back then in the university. But in contrast, beside my lil sis, now I have no one to talk to. 

I have friends. Off course I have friends. I make new friends from work. But I cant ‘connect’ with them. I have friends from my old days, but they don't share the same value with me. I still have my best friends, but we only meet on WhatsApp group because the new life we are facing with. 

Even if you are not a writer, I bet you can relate with this. Yes, adulthood is hard, feeling lonely is suck.

Being a writer forces me to work by myself. I meet people, discuss the job, I took the job and bye-bye world, I need a room for myself for it to be done. In the name of my creativity, my productivity, I don't have any complain of doing the work alone. But for the sake of my mental health, gosh, I’m insane. 

I do feel passionate with my works. I feel the sparks every time my fingers touching the keyboards, translating the complicated maze of my mind. I feel the enthusiasm of arranging words and creating worlds. 

Especially, I love the feeling of reaching my own dream and not building others. 

But I have this issue with the consequences. I miss to be surrounded with noise. I miss to be in the nonsense. I miss throwing fake smiles. 

Or maybe, I just not familiar with changes. Not familiar with real life. 

Afterall, people tends to looking for what is not there. And, I'm still one of it. 





Image source: wallpaperscraft.com 
 photo ttd_1.png

04 June 2018

[Life] REMINISENSI

June 04, 2018 2 Comments

reminisensi//réminisénsi/ n 1 kenang-kenangan; 2 tindakan mengenang; pengenangan; 
3 hal berpikir dan bercerita tentang pengalaman atau kejadian masa lampau.

Halo, dengan perasaan campur aduk antara bahagia dan deg-degan, akhirnya hari ini kuumumkan bahwa novel pertamaku, Reminisensi, akhirnya terbit! YEEEYYY!!!! Buat yang bertanya-tanya, tentang apa sih buku ini, tenang, aku akan menceritakan garis besarnya di postinganku kali ini. 

23 March 2018

[Poem] Tentang Duka

March 23, 2018 0 Comments


Bagaimana duka dijelaskan?
Perlu kah uraian air mata atau tawa buatan?
Atau hanya gestur dan perbuatan?
Haruskah dilakukan? 
Duka adalah milik kehidupan
Tak ada yang istimewa dari beban
Tinggal bagaimana jadi pelajaran
Dan bagaimana terus berjalan


 image from: http://www.freeimages.com/photo/drop-1237410 
 photo ttd_1.png

20 March 2018

[Poem] Miring

March 20, 2018 0 Comments

Kala kasih membuat sinting
Terpedaya, tak juangkan yang genting
Lalu hancurnya jadikan logika keriting 
Tiba-tiba semua terasa asing
Semua fakta buat ku pusing
Ternyata selama ini semua tertutup bising 
Surut percayaku kini kering
Binasa oleh dua insan yang ternyata bertaring
Entah, mungkin kita bertiga sama-sama miring

 photo ttd_1.png

17 March 2018

[Life] Main Sama Hewan di Lembang

March 17, 2018 0 Comments


Awal bulan kemarin, tepat ketika hari ulang tahun saya, saya berkesempatan untuk pergi ke Bandung, dan karena sudah sampai Bandung, saya mampir sebentar main ke daerah Lembang. Dari cerita-cerita yang saya dengar dan foto-foto Instagram yang saya lihat, Lembang adalah destinasi wisata yang selain memanjakan mata, juga bisa menyegarkan pikiran karena keindahannya. Saat saya sampai di sana, ternyata Lembang memang seindah itu, khususnya Lembang Farm House dan Lembang Floating Market (karena hanya dua tempat itu yang saya datangi).

Di posting ini saya tidak akan bercerita tentang keindahan dua tempat itu, tetapi saya lebih akan menceritakan betapa bahagianya saya ketika saya berinteraksi dengan hewan-hewan yang ada di sana.

07 March 2018

[Life] Renungan Kala 24

March 07, 2018 0 Comments

8 Maret 2018.

6 hari lalu saya berulang tahun yang ke 24. Itu berarti hampir setengah abad sudah saya habiskan di dunia ini. Dan Alhamdulillah, tidak ada sedetik pun dari waktu yang Allah berikan ini yang saya sesali.