Follow @luthfintasudar

30 December 2019

[Life] A Glimpse of My Decade

December 30, 2019 2 Comments

Tahun 2019 hanya tersisa sehari lagi. Selain akan menyambut tahun baru, kita juga akan menyambut dekade yang baru di 2020 ini. Untuk itulah, karena emang lagi ramai-ramainya orang membahas tentang apa aja yang terjadi pada hidup mereka di dekade ini, aku kan juga jadi terdorong untuk ikut throwback dan introspeksi.

Foto ini diambil pertengahan tahun 2016.
Kenapa aku pakai foto ini? Karena I'm pretty much like this dari awal 2010 sampai sekarang tahun 2019 akhir. (Suka bingung sama hidup sampai ingin berpangku tangan aja tapi mata tetap tajam menatap masa depan)


Jadi, ini dia secercah kisah kilat hidupku di dekade ini:

2010
- Menjadi anak kelas 10 SMA di SMA 2 Yogyakarta
Sungguh adalah tahun terindah sebagai anak SMA. Nggak mikir apa-apa kecuali main, bikin rusuh, bolos, melanggar peraturan, nongkrong, bergaul, dan jatuh cinta. Aku bisa bilang, masa SMAku sangatlah indah, berkesan dan nggak terlupakan karena pada saat itu aku benar-benar living in the moment.
- Form SGRM
One of the best thing in my life! Astri, Arin, Sasa, Rara, dan Dini adalah sahabat sejati yang sampai saat ini masih menjadi SOSku. 
- Move on dari kisah cinta pertama dan masuk pada kisah cinta kedua
Kisah cinta yang ini berlangsung selama aku SMA.
- Suka kirim-kirim puisi ke koran lokal dan mading sekolah
- Di akhir tahun, keluarga kecilku mengalami gonjang-ganjing
Setelah mengalami tahun yang sangat indah, lalu badai besar datang di akhir tahun. Sejak saat itu, hidupku nggak pernah sama lagi.

2011
- Orang tuaku memutuskan bercerai
Tahun 2011 bukan tahun favoritku karena sepanjang tahun itu aku banyak menangis karena proses perceraian orang tuaku. Merupakan tahun yang sangat berat dan menyedihkan.
- Masuk kelas IPS 2
Sebuah keputusan yang akan selalu aku ingat dalam hidupku. Sampai hari ini pun aku bangga pada Finta tahun 2011 yang sudah tahu apa kata hatinya. Finta sudah tahu apa yg dia mau dan nggak mau lakukan, meskipun apa yg dia inginkan itu bukan pilihan mayoritas.
- Sweet 17
Pada tahun 2011 itu bertepatan pada ulang tahunku yang ke-17. Aku menuliskan ini karena momen ini sangat berkesan. Pada saat itu aku di titik terendah dalam hidupku, aku sedang berusaha agar orang tuaku kembali, maka aku mengadakan pesta ulang tahun. Pesta itu berakhir dengan orang tuaku tidak ada yg datang. Hatiku sangat sedih, tapi lalu aku tahu aku punya SGRM dan sahabat-sahabat lainnya yang sangat keren. Mereka memberiku kejutan yang sangat manis pada momen itu :)

2012
- Lulus dari SMA 2 Yogyakarta
Aku mengisi tahun ini dengan belajar dan belajar karena aku harus menghadapi ujian akhir dan mencari kuliah. Walaupun dampak lanjutan dari perceraian orang tuaku masih terasa, aku tetap rajin sekali belajar sehingga pada tahun ini aku berhasil...
- Masuk Manajemen FEB UGM
Jurusan dan fakultas impianku :)

2013
- IKAMMA dan sejuta event di FEB UGM
Aku mengisi masa kuliahku dengan berorganisasi dan mengikuti berbagai macam kegiatan di kampus. Dari pagi hingga pagi lagi. Kerja rodi paling menyenangkan dalam hidupku.
- Move on dari kisah cinta kedua dan masuk pada kisah cinta ketiga
- Mulai nulis cerpen lagi
- Nonton BIGBANG for the first time

2014
- Jadi Manajer Internal IKAMMA dan jadi pejabat sejuta event di FEB UGM
Naik pangkat. Tahun ke-3 ku di FEB UGM semakin sibuk aja dengan tanggung jawab yang lebih besar dari tahun sebelumnya.
- Pertama kali ke luar negeri: Thailand
- Pelihara kucing untuk pertama kalinya
Memelihara kucing nggak pernah ada di dalam bucket listku sebelumnya. Namun setelah momen ini, aku nggak bisa lagi hidup tanpa kucing :")

2015
- KKN di Sabang
- Nonton BIGBANG kedua kalinya
- Masuk pada kisah cinta keempat (yang juga berakhir tahun ini)
- Menulis Reminisensi bab 1
Trivia: Ide Reminisensi didapatkan saat aku KKN di Sabang. Begitu aku mendapatkan idenya, hari itu aku langsung menuliskan bab pertamanya di sana. 
- Magang di Bentang Pustaka
Di sinilah keinginanku untuk masuk dalam dunia perbukuan semakin terpupuk.

2016
- Skripsi dan berusaha untuk lulus
- Menyelesaikan Reminisensi
Kegiatanku tahun ini hanyalah mengerjakan skripsi, sampai pada satu titik aku sangat bosan dan sadar kalau aku punya satu mimpi yang belum terwujud: menulis novel.

2017
- Lulus dari Manajemen FEB UGM
- Belajar menulis dengan serius
- Kenal Mbak Jia dan dapat penerbit
- Pergi UMROH
- Jalan-jalan ke Turki
- Menuliskan naskah kedua yang sampai saat ini belum terbit
Pembaca, doakan ya, semoga naskahku yg ini bisa dapat penerbit :")
- Masuk pada kisah cinta kelima

2018
- Dua kucingku meninggal
- Uti meninggal
- Belajar menulis skrip dan iklan
- Reminisensi terbit
- Terlibat proyek penulisan di sana-sini
Yang membuat aku harus bolak-balik meninggalkan Jogja dan bapakku sendiri di rumah. Perkembangan karir pesat yang menyiksa batinku karena harus jauh dari orang yg paling aku cinta di dunia di saat beliau menua.
- Masuk pada kisah cinta keenam (yang juga berakhir tahun ini)
- Menulis Manakala

2019
- Memutuskan untuk pulang ke Jogja for good
- Kerja di Rumah Warna
- Masuk pada kisah cinta ke-7 (yang juga berakhir tahun ini)
- Masuk pada kisah cinta ke-8 (yang juga berakhir tahun ini)
- Mengerjakan naskah non-fiksi pertamaku
- Menulis Double Tap dan menerbitkannya via Storial
- Menginisiasi Intuisee bersama sahabat
- Kerja di Geluk
- Manakala terbit
- Mengerjakan non-fiksi kedua dan riset novel berikutnya

Ternyata banyak juga ya yang udah terjadi selama 10 tahun. Harus kuakui, menulis tulisan ini membutuhkan waktu 5 jam lho untuk melihat kembali setiap memori dan pelajaran yang sudah aku lewati. Dengan begini aku jadi bisa melihat sejauh apa aku tumbuh dan berkembang dari 10 tahun yang lalu hingga menjadi aku yang hari ini. Sebenarnya, aku masih tetap Finta yang sama, dengan gaya berpakaian yang sama. Namun, Finta yang hari ini pengalamannya lebih banyak. Itu saja. 

Akhir kata, semoga hidup semakin berwarna, hati dan pikiran semakin dewasa dan bijak untuk menghadapi dekade depan.

Have a great life, pals!





27 December 2019

[Life] December, I'm in Love

December 27, 2019 0 Comments


Awalnya, aku kira, aku akan memulai Desember dengan menyusun to-do-list. Lalu selama bulan ini berjalan, aku akan jadi super sibuk menyelesaikan list yang udah aku buat. Rasanya masih banyak sekali yang harus aku lakukan sebelum tahun 2019 bergerak meninggalkanku. Aku masih belum menyelesaikan satu proyek yang udah kurencanakan sejak awal tahun. Aku masih belum bisa nyetir mobil. Aku masih belum ini dan itu. Aneh sekali rasanya ketika aku masih punya banyak checklist yang belum tercentang padahal deadline yang kutentukan tinggal sebentar lagi. 

Jujur aja aku nggak biasa nggak disiplin kaya gini. Tapi mau gimana lagi, ternyata 2019 nggak selancar itu. Makanya, mau nggak mau aku harus membelah fokusku, bahkan kehilangan fokus, dari hal-hal yang semula aku rencanakan untuk diselesaikan tahun ini.

Aku udah mulai kehilangan fokusku dari kuarter terakhir tahun 2019 ini. Bulan Agustus 2019. Saat itu semua terasa baik. Manakala udah mau naik cetak. Aku bahagia dengan pekerjaanku. Double Tap juga berjalan jauh lebih mulus dari bayanganku. Aku juga punya tim Intuisee yang begitu membuka mata dan hatiku. Rasanya tenang dan semua sesuai dengan plan. 

Lalu di tengah ketenangan itu, datanglah September dan badai besarnya. Sebuah badai yang sesungguhnya udah aku perkirakan kehadirannya, tapi nggak dengan kekuatan sebesar ini. Dan lalu porak poranda-lah semuanya. Perlahan tapi pasti.

Kondisiku semakin hari semakin menurun. Aku jadi gampang sakit. Aku nggak bisa tidur. Aku susah fokus. Puncaknya, akhir November 2019, aku sakit. Penyakitnya belum pernah mampir ke tubuhku sebelumnya. Kata dokter, penyebabnya adalah stress. Maka aku memutuskan untuk membawa diriku ke psikolog. 

Itu adalah keputusan yang terpaksa aku buat karena kondisiku saat itu udah nggak karuan. Aku merasa udah kaya zombie. Dan karena aku tahu segala daya dan upaya yang aku lakukan untuk menyembuhkan diri nggak berlangsung dengan baik, maka aku memberanikan diri untuk ditangani oleh professional.

Dan begitulah awal mengapa rencana Desemberku hanya tinggal jadi rencana belaka. Sesuai dengan diskusiku dan sang psikolog, aku mengenyahkan seluruh keharusan yang kubuat sendiri demi kewarasan mentalku. Jadi yang aku lakukan selama Desember ini adalah hidup bebas, tanpa berpikir. 

Ya. Aku menghabiskan Desember ini untuk bersenang-senang, reuni dan jatuh cinta. Semua itu kulakukan bersama seseorang yang sangat spesial sekali dalam hidupku. Seseorang yang selama ini aku kira udah kuperlakukan dengan penuh cinta, tapi ternyata belum. Seseorang yang selama ini berjuang keras demi kebaikanku. Seseorang yang paling pantas aku utamakan dan tinggikan di atas semua yang aku kenal.

Seseorang spesial itu adalah Luthfinta Nurul Dzikrina Sudar a.k.a. diriku sendiri.


Bolehkah aku bertanya, kapan terakhir kali kamu melihat bayanganmu di kaca, menatap dalam kedua bola mata yang menatapmu balik, merasakan setiap rasa yang memancar dari kedua bola mata itu dan sambil tersenyum mengatakan pada bayanganmu sendiri bahwa kamu mencintainya? 

Itu yang aku lakukan. Saat aku selesai melakukan itu, satu hal yang aku tahu, aku merasa jatuh cinta. 
Amat sangat jatuh cinta.

Aku ingin mengenal pemilik kedua bola mata itu lebih jauh. Aku ingin tahu apa yang dia sukai dan tidak. Aku ingin tahu apa yang ingin dia lakukan dan apa yang tidak. Aku ingin membuatnya tertawa. Aku ingin dia merasa aman, nyaman, bahagia. Aku ingin melindunginya dari rasa sakit, dari dunia luar yang kejam. Aku ingin ada. Aku ingin dia merasakan kehangatan. Aku ingin mendengar kejujurannya. Aku ingin dia merasa diterima baik kelebihan maupun kekurangannya. 

Lalu Desember ini aku mulai melakukan pendekatan pada Luthfinta Sudar yang aku kira udah aku kenali seutuhnya. Layaknya orang awam yang melakukan PDKT, aku berkonsultasi pada berbagai sumber yang terpercaya, yang aku yakini dapat melancarkan hubunganku dengan Luthfinta Sudar. Aku membaca banyak buku self-help. Aku belajar apa tu self-love yang sesungguhnya, bagaimana cara mempraktikkannya. 

Berikutnya aku mengajak Luthfinta untuk melakukan kegiatan yang menyenangkan. Yang berkesan. Yang sebelumnya dia nggak pernah lakukan. Memasak, berolahraga, memakan-makanan yang selama ini dia hindari, menonton film yang selama ini dia nggak ingin tonton, menyelesaikan semua hal yang ditunda. Untungnya, Luthfinta suka sekali ditantang. Dia akan sangat bahagia ketika dia merasa bisa mengalahkan dirinya sendiri.

Karena dia udah dalam kondisi nyaman, aku juga jadi lebih mudah mengajak Luthfinta bicara heart-to-heart. Dari pembicaraan itu, kami sering memutuskan hal-hal besar seperti meminta maaf kepada orang yang pernah disakiti, memaafkan orang yang pernah menyakiti, menghapus dan mengunfollow orang-orang yang memberikan efek negative dari sosial media.

Selain itu, aku juga mengajak Luthfinta untuk menikmati setiap detik yang dia punya. Aku nggak ingin dia berpikir terlalu banyak. Aku ingin dia hanya berada pada masa di mana dia berada. Aku ingin dia benar-benar mensyukuri langit jingga yang mengantarnya pulang kantor, aku ingin dia merasakan setiap detil rasa pada makanan yang masuk ke mulutnya, aku ingin dia meresapi betapa segarnya air hujan yang menyentuh kulitnya, aku ingin dia merasakan setiap lirik yang dia nyanyikan saat lagu favoritnya diputar. 

Ada kalanya aku melihat Luthfinta menangis. Jika saat itu datang, yang aku lakukan adalah memeluknya dan mendengarkan keluh kesahnya. Aku nggak menghiburnya. Aku nggak menyuruhnya untuk berhenti sedih. Dia adalah manusia, bukan robot. Luthfinta boleh dan sangat dipersilakan untuk sedih kapan pun dia mau. Yang penting dia tahu aku ada, dan aku menerimanya, bagaimana pun emosi dan keadaannya. 

Yang kurasakan setelah menghabiskan hampir sebulan ini dengan jatuh cinta pada diriku sendiri adalah satu hal: bahagia.

Yang sangat kusadari dari seluruh kejadian ini adalah bahwa pertolongan pertama yang bisa menyelamatkanmu dari segala badai yang menerpa sesungguhnya sangatlah dekat. Meskipun kadang terasa begitu berjarak, tapi nyatanya nggak. 

Dan tentang cinta, kamu nggak akan bisa memberikannya kepada siapapun juga, kalau kamu sendiri nggak memilikinya, bahkan untuk dirimu sendiri.

Jadi, sudahkah kamu jatuh cinta pada dirimu sendiri hari ini? 😊




06 December 2019

[Life] Cerita Tentang Manakala

December 06, 2019 0 Comments

manakala/ma·na·ka·la/ p kata penghubung untuk menandai syarat (waktu)

Tepat tanggal 28 Oktober kemarin, aku merayakan suatu hal yang lebih dari Hari Sumpah Pemuda. Yak, novel kedua-ku, Manakala akhirnya terbit!

Senang dan lega semua bercampur aduk menjadi satu di hatiku. Setelah melewati proses yang lumayan panjang, dari mulai riset, penyusunan plot, pembentukan karakter, penulisan, editing dan segala tetek bengeknya, akhirnya jadi juga. Manakala ini memang mengalami proses ‘persalinan’ yang lebih menantang plus menguras perasaan dibandingkan kakaknya, Reminisensi.

Tentang apakah novel Manakala ini sebenarnya? Dan kenapa judulnya Manakala? Oke akan aku ceritakan secara garis besar melalui postinganku kali ini.

Manakala berkisah tentang dua orang sahabat yaitu Karel dan Auri. Mereka bersahabat sudah sangat lama. Mereka terlalu dekat sampai pada suatu hari persahabatan mereka berada di ujung tanduk dan kehilangan arah saat Karel menyatakan cinta kepada Auri. 

Oke.

Itu adalah sekilas yang bisa diambil dari blurb di belakang bukunya. Faktanya, cerita ini sama sekali nggak cheesy dan nggak kaya cerita friendzone pada umumnya.

Auri baru saja kehilangan pacar sekaligus poros hidupnya, yaitu Elang. Dengan kehilangan Elang, kaki Auri limbung selimbung-limbungnya. Selain dilanda kesedihan, Auri juga jadi mempertanyakan jati dirinya dan tujuan hidupnya.

Di sisi lain Karel, hidup Karel mengalir begitu saja seperti air, tanpa kontrol. Dalam aliran itu, banyak sekali riak-riak yang harus dia lewati. Hati Karel penuh ketidakpuasan, ada banyak luka yang ingin dia sembuhkan tetapi menggunakan obat yang salah. 

Seolah belum cukup rumit, perasaan yang mengendap di hati keduanya terhadap satu sama lain juga memperkeruh suasana.

Dan alasan ini lah yang membuat aku suka dengan kata Manakala untuk menjadi judul dalam novelku kali ini. Karena terlalu banyak syarat dan waktu untuk akhirnya Auri dan Karel bisa menuju kepada ketentraman hati dan hidup masing-masing.

Novel ini diceritakan dari dua sudut pandang yang berbeda antara Auri dan Karel. Pembaca kuajak menyelami labirin-labirin pikiran dan rasa mereka. Bagaimana setiap kejadian terjadi dan keputusan dibuat, semua ada justifikasinya. 

Hal yang menarik lagi dari Manakala adalah latar tempatnya yang banyak, baik di luar atau dalam negeri, lalu rentang waktu yang cukup panjang dan lagu Ed Sheeran di setiap pembuka bab.


Jujur, aku sangat menikmati proses penulisannya. Aku masih ingat malam-malam yang kuhabiskan untuk menonton berbagai macam video di YouTube, atau titik-titik air mata yang mengalir di pipiku saat membaca artikel-artikel tentang kehilangan di website-website psikologi dalam rangka riset.

Membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menyusun plotnya yang rumit. Sumpah, rasanya seperti menyusun puzzle. Membingungkan tapi menyenangkan. Aku juga ingat bagaimana rasanya ketika akhirnya cerita itu sampai pada titik terakhirnya. Perasaan yang aneh. Lega sekali tetapi ada sesuatu yang hilang dalam diriku karena lepas dari suatu cerita yang sangat aku sukai.

Manakala menurutku adalah roller coaster. Di dalamnya ada banyak sekali emosi yang bergejolak. Beraneka ragam. 

Saat menuliskannya, rasa itu lah yang aku nikmati. Dan aku berharap, pembaca juga akan menikmati setiap rasa yang disediakan oleh Manakala.

Selamat membaca :)

20 October 2019

[Life] Double Tap dan Cerita Tentang Mengalahkan Diri Sendiri

October 20, 2019 0 Comments


“Fin, kenapa sih kamu nggak nyoba nulis online?”

Dulu pernah ada masa di mana banyak banget orang yang nanyain aku kenapa aku nggak nyoba nulis di platform online. Dan aku punya daftar jawaban khusus untuk menanganinya. Dari yang takut dicopy-paste secara illegal, nggak ada duitnya, platformnya yang nggak jelas dan lain sebagainya.

Iya, semua hal itu memang beneran ada di dalam kepalaku, tapi sebenarnya kalau boleh jujur, muara dari seluruh jawaban itu adalah bahwa aku takut ceritaku nggak ada yang baca. Aku takut banget. 

Saking mudahnya nulis di platform online, banyak penulis yang bertubi-tubi masuk ke dalam dunia online itu. Aku terlalu takut masuk ke dalam kolam yang begitu banyak orang di dalamnya. Aku takut nggak bisa bergerak dan jadi nggak signifikan.

Ngaku deh, suka takut nggak sih kalau mau mencoba atau berhadapan dengan suatu hal yang beneran baru?

Lalu, tiba-tiba urgensi itu datang begitu aja. Aku harus coba. Aku harus mencoba melawan keminderanku sendiri. Kegagalan yang sebenarnya itu bukan kalau yang baca sedikit, tapi kalau aku nggak pernah mencoba sesuatu yang bisa aku upayakan. Kegagalan yang sebenarnya itu kalau jadi pengecut. 

Dari situ maka lahirlah Double Tap. Novel pertamaku yang aku unggah di situs Storial. 

Aku adalah orang yang selalu punya target atas apa yang aku lakukan. Target awalku menulis Double Tap di platform online adalah hanya sekedar agar aku berani. Breaking my own wall. 

Setelah dijalani ternyata breaking my own wall itu adalah target yang langsung tercapai the minute I press the upload button. Mendadak, target yang itu jadi nggak seru lagi. Jadi aku bikin target yang baru: seenggaknya meraih 5.000 views.

Through this and that, akhirnya di chapter 21 Double Tap resmi menjadi salah satu cerita premium di Storial dan di chapter ke-22 Double Tap sudah ditonton orang sebanyak 5.000 kali.


Jujur, aku senang banget. Mungkin memang performa Double Tap masih jauh di bawah banyak cerita lain di platform yang sama, tapi faktanya aku benar-benar merasa sudah menang. Menang melawan ketakutanku sendiri. Menang melawan diriku sendiri.

Dan bukankah kemenangan sejati adalah ketika bisa mengalahkan diri sendiri?



 photo ttd_1.png

18 August 2019

[Life] Cerita Tentang Double Tap

August 18, 2019 0 Comments


Im welcoming my newborn child : Double Tap

Pada suatu hari, aku lupa hari apa, mungkin sekitar setahun yang lalu. There was me and my best friend sitting together eating sushi di salah satu rumah makan sushi di Kota Kasablanka, Jakarta.
Kita bicara banyak banget. Dari kabar satu sama lain, memori masa lalu kita, sampai bertukar pikiran tentang issue yang lagi hot saat itu. Salah satu hal yang kita bicarakan lumayan panjang saat itu adalah keresahan kita tentang dunia social media. Begitu banyak orang yang nggak jadi diri sendiri karena social media. Banyak orang yang bahkan nggak mengenali dan mencintai dirinya sendiri karena pengaruh ruang maya itu.

Pembicaraan itu berakhir karena malam sudah larut. Namun, keresahan itu berputar terus di kepalaku sampai-sampai aku bertekad untuk menjadikan pembicaraan itu sebagai sebuah premis kalau suatu hari nanti aku mau menulis lagi.

Waktu berlalu dan suatu hari itu tiba juga.

Saat itu, April 2019, Storial, sebuah platform menulis online mengadakan perlombaan menulis teenlit bertajuk Happy Girl. Kala itu aku sedang nggak happy. Aku juga sedang liburan menulis karena pekerjaan kantor menguras seluruh perhatianku. Setiap hari berjalan seperti robot karena aku nggak melakukan sesuatu yang aku sukai. Aku seperti kehilangan diriku sendiri.

Jadi aku memutuskan untuk ikut berpartisipasi di lomba itu meskipun aku tahu itu somewhat like a mission impossible. Alasannya sederhana, karena aku hanya ingin kembali menulis.

Awalnya aku bingung mau menulis apa. Kemudian aku bikin polling di Instagramku. Dari hasil polling itu aku bisa menyimpulkan hal-hal apa yang menjadi keresahaan anak SMA dan aku jadi tahu poin-poin apa yang sebaiknya aku tuliskan.

Lalu premis yang sudah mengendap lama itu mencuat kembali di kepalaku. Premis itu terasa nyambung sekali dengan keresahan yang aku temukan di research kecilku. 

Jadi begitulah awalnya mengapa aku tiba-tiba menulis Double Tap. 

Double Tap maksudnya adalah like. Tahukan, kalau kamu memberikan like di postingan Instagram, kamu harus mengetuk layar ponselmu dua kali. Dan permasalahan like inilah yang akan menjadi penggerak cerita di Double Tap ini. Bagaimana seorang gadis berusia 16 tahun yang hanya ingin disukai dan diterima oleh pacar dan sekelilingnya.

Aku suka banget dengan Rhea, karakter utama di Double Tap. Namun menuliskan kisahnya nggak mudah bagiku karena saat itu aku sendiri sedang kacau dan nggak bisa relate dengan Rhea. Jadi naskah yang seharusnya selesai sebelum bulan Mei itu akhirnya baru bisa selesai bulan Juli. Aku nggak jadi ikut kompetisi yang diadakan di Storial itu. 

Walau nggak jadi ikut kompetisi, tapi ada rasa puas di hatiku karena cerita itu akhirnya selesai. Bukankah cerita yang bagus adalah cerita yang selesai?

Aku bisa menikmati menulis kisah Rhea karena menjadi Rhea membuat aku kembali ke masa-masa putih abu-abuku, salah satu masa-masa paling indah dalam hidupku.

Karena bermula dari tema Happy Girl, aku nggak membawa permasalahan berat yang bikin frustasi di cerita itu. Rhea juga karakter yang fun karena ceplas-ceplos banget. Setiap permasalahan di sana terasa menggemaskan karena Rhea juga optimis dan sok tahu. Dan yang amat bikin aku senang adalah, keresahanku yang ingin aku sampaikan dalam balutan kisah Rhea ini akhirnya bisa tereksekusi dengan fun dan kekinian. 

Kalau ditanya apa aku puas dengan hasilnya, jujur saja, belum. Aku masih butuh banyak masukan untuk menyempurnakannya. Maka dari itu kalau kamu sudah baca dan ingin memberikan masukan, aku persilakan dengan tangan terbuka karena sampai saat ini kisah Rhea masih berada di episode awal. 

Dan bagi yang belum baca, silakan dibaca ya, mumpung masih gratis hihihihi.

Gimana caranya? Kamu bisa klik link ini : bit.ly/DoubleTap01

Last but not least, welcome to the Rhea’s world, welcome to Double Tap!

I hope you’ll like it 



 photo ttd_1.png

11 August 2019

[Life] Intuisee dan Mimpi dari Hati

August 11, 2019 0 Comments



“Kamu tahu nggak sih, sebenernya mereka itu sama lho kaya kita.”

Aku masih ingat saat pertama kali temanku Kiki mengutarakan keinginannya untuk membantu orang-orang tuna netra di sekeliling kita. Saat itu kami sedang makan siang di tempat Yamie favoritku. Aku hanya memandangi Kiki dengan bingung. Kiki yang sudah biasa dengan lamanya koneksi otakku pun dengan sabar sekaligus semangat 45 mulai menjelaskan kepadaku.

Faktanya teman-teman yang memiliki kebutuhan khusus itu tidak berbeda dengan kita yang normal. Mereka pintar, mereka bisa menggunakan teknologi, mereka biasa menggunakan alat transportasi umum ke manapun mereka mau, mereka suka menyanyi, menari, menulis…, dan berbagai hal yang lainnya yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.

Ada suatu kejadian yang menurutku pribadi amat sangat berkesan.

Saat itu malam hari, aku dan dua temanku yang lain, Anin dan Wulan sedang berada di Yaketunis (Yayasan Tunanetra yang bekerja sama dengan Intuisee). Fyi, banyak dari teman tunanetra yang bersekolah di sekolah umum. Seperti sewajarnya tahun ajaran baru, ada form yang dibagikan mengenai data diri beserta form ekstrakulikuler yang harus diisi dan dikumpulkan besok paginya. 
Waktu itu kami diminta untuk membantu teman-teman tunanetra yang masih sekolah untuk mengisi form itu.

Dari membantu mengisi data diri, aku jadi banyak tahu tentang mereka. Aku jadi tahu tentang latar belakang, alasan mereka tidak bisa melihat dan bahkan tentang keluarga mereka. Tapi bukan itu yang membuatku paling tersentuh. 

Yang membuat aku paling tersentuh adalah ketika mereka memintaku membantu mengisikan form ekstrakulikuler. Ada banyak pilihan di sana. Dari ekstrakulikuler olahraga seperti basket dan teman-temannya, ekskul agama seperti muratal dan lainnya, yang berbau sains dan teknologi sampai yang berbau kesenian.

“Kamu sukanya apa?” begitu pertanyaanku setiap kali aku mau mencentang pilihan ekskulnya. Dan dari pertanyaan sederhana itu, aku selalu mendapatkan jawaban yang membuat hatiku berdesir.

“Aku suka bicara di depan umum, Kak. Apa aku ikut ekskul broadcast aja ya, biar aku bisa jadi penyiar?”

“Aku suka acting, Kak, aku mau ikut teater ah. Aku suka lho ikut pertunjukan.”

“Aku suka nulis, Kak, akak tahu nggak caranya biar tulisanku bisa dibukukan?”

It hits me. So damn hard.

Mungkin ini terdengar biasa aja, tapi kalau kalian melihat apa yang aku lihat saat itu, kalau kalian bisa mendengarkan antusiasme di suara mereka saat itu, aku yakin, kalian akan mengerti apa yang aku maksudkan.

That passion. That enthusiasm. Semangat itu. Semangat yang berkobar tinggi untuk meraih mimpi dan masa depan. Seolah tidak ada yang tidak mampu mereka lakukan untuk cita-cita mereka. Sebuah getaran yang membuat aku merasa malu. Amat sangat malu pada diriku sendiri karena dalam kondisi yang lebih mudah pun, aku sering kehilangan semangat dan malas-malasan. 

Setelah pertemuan itu, semalaman aku tidak bisa tidur. 

Mungkin mereka pikir aku yang udah membantu mereka mengisi form, tetapi sebenarnya mereka yang membantu aku menyalakan api di dalam diriku.

Dan jujur, itu terasa sangat hangat dan menyenangkan.








Mimpi. Berdasarkan hal itulah Intuisee berdiri. Bahwa passion, masa depan, sukses… itu bukan hanya milik kita yang terlahir normal. Kami ingin menyuntikkan semangat. Kami ingin mereka percaya bahwa mimpi itu ada dan bisa jadi nyata. Kami ingin sekali bisa menjadi mata yang bisa membukakan dunia untuk mereka. Kami ingin mereka bisa bersaing dan mengikuti perkembangan zaman. 

Karena kami tahu mereka bisa. Mereka hanya tidak tahu harus bagaimana. Itu saja.




 photo ttd_1.png

10 August 2019

[Life] Welcoming luthfinta.com

August 10, 2019 0 Comments



Halo blog yang sudah lama nggak terjamah!

Mungkin satu kabar ini bisa mengobati kekecewaanmu akan diriku yang jahat ini. Akhirnya setelah 10 tahun ada di dalam kehidupanku, kamu aku belikan domain! Yeay!!!

Jadi mulai Agustus ini, namamu bukan lagi fintakaruan.blogspot.com lagi, melainkan luthfinta.com. Horeeeee!!!!

Sejujurnya aku ingin memberimu alamat luthfintasudar.com, tapi entah siapa dan bagaimana, bisa-bisanya nama luthfintasudar sudah ada yang pakai. Kenapa nggak luthfinta-sudar.com? Sederhana, karena aku nggak kepikiran waktu beli domain. Hehehe.

Yah well, dengan dibelinya domain baru ini, aku harap aku akan lebih rajin lagi mengupdatemu, blogku sayang. Apalagi saat-saat sekarang ini, saat aku sebenarnya sedang punya banyak sekali hal untuk diceritakan 

Ayo kita sama-sama berjuang semoga aku konsisten lagi mengupdatemu ya, luthfinta.com-ku. We’ve been together for 10 years, nggak banyak lho yang bisa bertahan selama ini pada satu blog. Bahkan ketika Reminisensi terbit, banyak yang memintaku buat web baru khusus untuk marketing buku. Mengingat aku yang nggak begitu suka bermain sosmed dan punya ‘peliharaan’ banyak, terutama ketika aku ingat saat-saat kebersamaan kita, aku jadi nggak menggubris ide itu.

Aku setia.

Aku akan tetap bersamamu.

Sekali lagi, selamat tinggal fintakaruan. Terima kasih karena nama gemes itu, kamu jadi top of mind di kepala teman-temanku. Kini, karena sudah 10 tahun, maka kuberi dirimu nama yang lebih professional. Percayalah fintakaruan, kamu tetap di hati kok :) 




Photo by rawpixel.com from Pexels
 photo ttd_1.png

17 May 2019

[Poem] Ada

May 17, 2019 0 Comments


Dia ada dalam terang. Dia ada dalam gelap.
Dia datang dalam tenang, tanpa membuatku sempat berharap.

Dia ada. Wujudnya nyata.
Senyumnya dapat kuterawang dalam maya. Suaranya dapat kudengar kala tak berdaya.
Waktu memiliki satuan tersendiri saat bersama. Pelan. Tapi cepat.
Detik berlalu dalam kedip,
Lalu menit demi menit terbang tak mau menunggu kami yang terhimpit.

Dia ada. Menjeratku dalam tanda tanya yang indah.
Menyalakan degupan jantungku yang lama mati dalam gundah.



Photo by Min An from Pexels
 photo ttd_1.png

19 March 2019

[Life] Cerita Tentang 24 Saat Sudah 25

March 19, 2019 0 Comments


25 Tahun. Seperempat abad. Allah baik sekali ya memberi saya napas sampai bisa mencapai usia ini? 

Iya. Allah selalu baik. Allah tak pernah berhenti baik. Dan saya tak pernah berhenti berbuat salah. 

Saya kerap kali lupa bersyukur. Saya tak pernah lepas dari dosa. Setiap hari. Termasuk di hari-hari saya saat berusia 24 kemarin.

Di usia 24 ini, saya dikecewakan harapan saya. Lalu kekecewaan saya mengikis sedikit demi sedikit rasa percaya diri yang saya miliki hingga akhirnya habis sama sekali. Dan kebohongan lah satu-satunya yang saya miliki untuk tetap menjalani hidup saat itu. Saya tahu saya punya pilihan lain yang lebih baik. Jujur. Tapi harga diri saya tidak mengizinkannya. Ego saya lebih memilih berdosa dari pada mengakui kekalahan saya.

Saya dikecewakan berkali-kali di 24. Oleh banyak pihak. Tapi yang saya ingin salahkan dari kekecewaan ini adalah diri saya sendiri. Siapa suruh berharap pada manusia? 

Dampak dari kekecewaan itu adalah saya jadi bisa melihat dunia lebih jelas. Bahwa bumi ini tidak hanya diisi oleh orang baik saja, tapi juga orang yang belum baik. Dalam krisis ini saya juga jadi bisa melihat warna asli orang-orang di sekitar saya. Siapa yang sepatutnya saya jadikan teman, dan siapa yang tidak perlu lagi saya pedulikan demi kebaikan diri saya sendiri.

Sekitar bulan September 2018 kemarin akhirnya mata saya terbuka dan sampai pada satu penerimaan bahwa saya memang sudah tidak bisa lagi terjerat dalam suatu hal yang menyiksa saya. Jadi saya memutuskan untuk pulang, puluhan juta rupiah sudah tidak mampu lagi menahan langkah saya. Mimpi yang terasa tinggal sejengkal pun saya relakan. Hati saya berkata kalau memang ini jalan yang benar untuk meraih mimpi, rasanya pasti tidak sesalah ini. Dan saya percaya hati kecil saya. 

Dan hati kecil saya tidak salah, saya menjadi jauh lebih bahagia setelah berani melepas apa yang saya anggap satu-satunya cara bahagia suatu hari nanti. Pada kenyataannya, saya tidak mau suatu hari nanti. Suatu hari nanti itu tidak pasti. Saya mau sekarang. Karena saya hidup untuk sekarang.

Tidak hanya hal menyedihkan, tapi Allah memberi banyak hadiah kepada saya di usia 24.

Salah satunya, mimpi saya sejak kecil akhirnya menjadi nyata. Reminisensi. Hidup saya pun berubah. Dan saya mensyukurinya.

Hadiah besar dari Allah lagi adalah suatu hal yang sangat prinsipil dalam hidup saya. Tujuan hidup. 

Ya, setelah 24 tahun lebih hidup di dunia ini, akhirnya Allah mengizinkan saya bertemu tujuan hidup saya. Pertemuan rutin saya dengan sepasang mata jenaka yang bijaksana membuka pintu hidayah dalam diri saya. Sesuatu yang saya anggap sepele sekarang menjadi sebuah urgensi. Lalu semua hal yang sebelumnya terasa berat untuk dilakukan, berubah. Bukan menjadi ringan, tetapi berat untuk ditinggalkan.

Allah juga memberikan saya tiga bulan yang ajaib di usia 24 saya. Keajaiban apa? Doakan saja saya bisa segera membagi keajaiban itu secepatnya di tahun ini. Tolong yang membaca, bilang amin ya :)

Saya juga dipertemukan oleh banyak orang yang tidak pernah saya sangka sebelumnya. Orang-orang baik yang sempat mengisi hari-hari saya di saat semuanya terasa tidak pada tempatnya. Orang-orang baik yang terpaksa saya sakiti hatinya karena kelabilan hati saya. Sungguh saya merasa menyesal dan berdosa. Saya harap Allah selalu menyertai kalian dengan kehidupan yang baik.

Di penghujung usia ini, Allah masih saja memberi dan memberi pada saya. Kali ini sebuah jawaban dari sujud-sujud dan tengadahnya tangan saya. Jujur, butuh waktu cukup lama untuk mensyukuri hal ini, karena semenjak hal ini datang di hidup saya, tatanan hidup saya jadi bergerak. Logika saya jadi ke mana-mana. Pemahaman saya dihadang. Kesombongan saya ditantang. Ego saya dihamparkan. 

Tapi tidak apa. Saya tidak kalah. Saya tahu saya bergerak ke arah yang benar walau berkali-kali saya merasa kehilangan arah. Ada tujuan di depan saya, tinggal jalan mana yang saya pilih. Dan saya meyakini itu.

25. 25 disambut dengan pertanyaan-pertanyaan mereka tentang pencapaian hidup. Juga pasangan. 
Dan saya hanya bisa tersenyum membalasnya sembari dalam hati saya meronta. Tidak seharusnya pertanyaan itu ditanyakan. Tidak penting.

Buat saya hanya satu yang penting : bahagia. Jadi tanyakan saja apa saya bahagia dengan hidup saya.

Dan jawaban saya adalah : Ya.

Alhamdulillah :) 


Pic taken from : https://wpmisc.com/
 photo ttd_1.png