Follow Us @soratemplates

19 March 2019

[Life] Cerita Tentang 24 Saat Sudah 25

March 19, 2019 0 Comments


25 Tahun. Seperempat abad. Allah baik sekali ya memberi saya napas sampai bisa mencapai usia ini? 

Iya. Allah selalu baik. Allah tak pernah berhenti baik. Dan saya tak pernah berhenti berbuat salah. 

Saya kerap kali lupa bersyukur. Saya tak pernah lepas dari dosa. Setiap hari. Termasuk di hari-hari saya saat berusia 24 kemarin.

Di usia 24 ini, saya dikecewakan harapan saya. Lalu kekecewaan saya mengikis sedikit demi sedikit rasa percaya diri yang saya miliki hingga akhirnya habis sama sekali. Dan kebohongan lah satu-satunya yang saya miliki untuk tetap menjalani hidup saat itu. Saya tahu saya punya pilihan lain yang lebih baik. Jujur. Tapi harga diri saya tidak mengizinkannya. Ego saya lebih memilih berdosa dari pada mengakui kekalahan saya.

Saya dikecewakan berkali-kali di 24. Oleh banyak pihak. Tapi yang saya ingin salahkan dari kekecewaan ini adalah diri saya sendiri. Siapa suruh berharap pada manusia? 

Dampak dari kekecewaan itu adalah saya jadi bisa melihat dunia lebih jelas. Bahwa bumi ini tidak hanya diisi oleh orang baik saja, tapi juga orang yang belum baik. Dalam krisis ini saya juga jadi bisa melihat warna asli orang-orang di sekitar saya. Siapa yang sepatutnya saya jadikan teman, dan siapa yang tidak perlu lagi saya pedulikan demi kebaikan diri saya sendiri.

Sekitar bulan September 2018 kemarin akhirnya mata saya terbuka dan sampai pada satu penerimaan bahwa saya memang sudah tidak bisa lagi terjerat dalam suatu hal yang menyiksa saya. Jadi saya memutuskan untuk pulang, puluhan juta rupiah sudah tidak mampu lagi menahan langkah saya. Mimpi yang terasa tinggal sejengkal pun saya relakan. Hati saya berkata kalau memang ini jalan yang benar untuk meraih mimpi, rasanya pasti tidak sesalah ini. Dan saya percaya hati kecil saya. 

Dan hati kecil saya tidak salah, saya menjadi jauh lebih bahagia setelah berani melepas apa yang saya anggap satu-satunya cara bahagia suatu hari nanti. Pada kenyataannya, saya tidak mau suatu hari nanti. Suatu hari nanti itu tidak pasti. Saya mau sekarang. Karena saya hidup untuk sekarang.

Tidak hanya hal menyedihkan, tapi Allah memberi banyak hadiah kepada saya di usia 24.

Salah satunya, mimpi saya sejak kecil akhirnya menjadi nyata. Reminisensi. Hidup saya pun berubah. Dan saya mensyukurinya.

Hadiah besar dari Allah lagi adalah suatu hal yang sangat prinsipil dalam hidup saya. Tujuan hidup. 

Ya, setelah 24 tahun lebih hidup di dunia ini, akhirnya Allah mengizinkan saya bertemu tujuan hidup saya. Pertemuan rutin saya dengan sepasang mata jenaka yang bijaksana membuka pintu hidayah dalam diri saya. Sesuatu yang saya anggap sepele sekarang menjadi sebuah urgensi. Lalu semua hal yang sebelumnya terasa berat untuk dilakukan, berubah. Bukan menjadi ringan, tetapi berat untuk ditinggalkan.

Allah juga memberikan saya tiga bulan yang ajaib di usia 24 saya. Keajaiban apa? Doakan saja saya bisa segera membagi keajaiban itu secepatnya di tahun ini. Tolong yang membaca, bilang amin ya :)

Saya juga dipertemukan oleh banyak orang yang tidak pernah saya sangka sebelumnya. Orang-orang baik yang sempat mengisi hari-hari saya di saat semuanya terasa tidak pada tempatnya. Orang-orang baik yang terpaksa saya sakiti hatinya karena kelabilan hati saya. Sungguh saya merasa menyesal dan berdosa. Saya harap Allah selalu menyertai kalian dengan kehidupan yang baik.

Di penghujung usia ini, Allah masih saja memberi dan memberi pada saya. Kali ini sebuah jawaban dari sujud-sujud dan tengadahnya tangan saya. Jujur, butuh waktu cukup lama untuk mensyukuri hal ini, karena semenjak hal ini datang di hidup saya, tatanan hidup saya jadi bergerak. Logika saya jadi ke mana-mana. Pemahaman saya dihadang. Kesombongan saya ditantang. Ego saya dihamparkan. 

Tapi tidak apa. Saya tidak kalah. Saya tahu saya bergerak ke arah yang benar walau berkali-kali saya merasa kehilangan arah. Ada tujuan di depan saya, tinggal jalan mana yang saya pilih. Dan saya meyakini itu.

25. 25 disambut dengan pertanyaan-pertanyaan mereka tentang pencapaian hidup. Juga pasangan. 
Dan saya hanya bisa tersenyum membalasnya sembari dalam hati saya meronta. Tidak seharusnya pertanyaan itu ditanyakan. Tidak penting.

Buat saya hanya satu yang penting : bahagia. Jadi tanyakan saja apa saya bahagia dengan hidup saya.

Dan jawaban saya adalah : Ya.

Alhamdulillah :) 


Pic taken from : https://wpmisc.com/
 photo ttd_1.png