Follow @luthfintasudar

30 December 2019

[Life] A Glimpse of My Decade

December 30, 2019 2 Comments

Tahun 2019 hanya tersisa sehari lagi. Selain akan menyambut tahun baru, kita juga akan menyambut dekade yang baru di 2020 ini. Untuk itulah, karena emang lagi ramai-ramainya orang membahas tentang apa aja yang terjadi pada hidup mereka di dekade ini, aku kan juga jadi terdorong untuk ikut throwback dan introspeksi.

Foto ini diambil pertengahan tahun 2016.
Kenapa aku pakai foto ini? Karena I'm pretty much like this dari awal 2010 sampai sekarang tahun 2019 akhir. (Suka bingung sama hidup sampai ingin berpangku tangan aja tapi mata tetap tajam menatap masa depan)


Jadi, ini dia secercah kisah kilat hidupku di dekade ini:

2010
- Menjadi anak kelas 10 SMA di SMA 2 Yogyakarta
Sungguh adalah tahun terindah sebagai anak SMA. Nggak mikir apa-apa kecuali main, bikin rusuh, bolos, melanggar peraturan, nongkrong, bergaul, dan jatuh cinta. Aku bisa bilang, masa SMAku sangatlah indah, berkesan dan nggak terlupakan karena pada saat itu aku benar-benar living in the moment.
- Form SGRM
One of the best thing in my life! Astri, Arin, Sasa, Rara, dan Dini adalah sahabat sejati yang sampai saat ini masih menjadi SOSku. 
- Move on dari kisah cinta pertama dan masuk pada kisah cinta kedua
Kisah cinta yang ini berlangsung selama aku SMA.
- Suka kirim-kirim puisi ke koran lokal dan mading sekolah
- Di akhir tahun, keluarga kecilku mengalami gonjang-ganjing
Setelah mengalami tahun yang sangat indah, lalu badai besar datang di akhir tahun. Sejak saat itu, hidupku nggak pernah sama lagi.

2011
- Orang tuaku memutuskan bercerai
Tahun 2011 bukan tahun favoritku karena sepanjang tahun itu aku banyak menangis karena proses perceraian orang tuaku. Merupakan tahun yang sangat berat dan menyedihkan.
- Masuk kelas IPS 2
Sebuah keputusan yang akan selalu aku ingat dalam hidupku. Sampai hari ini pun aku bangga pada Finta tahun 2011 yang sudah tahu apa kata hatinya. Finta sudah tahu apa yg dia mau dan nggak mau lakukan, meskipun apa yg dia inginkan itu bukan pilihan mayoritas.
- Sweet 17
Pada tahun 2011 itu bertepatan pada ulang tahunku yang ke-17. Aku menuliskan ini karena momen ini sangat berkesan. Pada saat itu aku di titik terendah dalam hidupku, aku sedang berusaha agar orang tuaku kembali, maka aku mengadakan pesta ulang tahun. Pesta itu berakhir dengan orang tuaku tidak ada yg datang. Hatiku sangat sedih, tapi lalu aku tahu aku punya SGRM dan sahabat-sahabat lainnya yang sangat keren. Mereka memberiku kejutan yang sangat manis pada momen itu :)

2012
- Lulus dari SMA 2 Yogyakarta
Aku mengisi tahun ini dengan belajar dan belajar karena aku harus menghadapi ujian akhir dan mencari kuliah. Walaupun dampak lanjutan dari perceraian orang tuaku masih terasa, aku tetap rajin sekali belajar sehingga pada tahun ini aku berhasil...
- Masuk Manajemen FEB UGM
Jurusan dan fakultas impianku :)

2013
- IKAMMA dan sejuta event di FEB UGM
Aku mengisi masa kuliahku dengan berorganisasi dan mengikuti berbagai macam kegiatan di kampus. Dari pagi hingga pagi lagi. Kerja rodi paling menyenangkan dalam hidupku.
- Move on dari kisah cinta kedua dan masuk pada kisah cinta ketiga
- Mulai nulis cerpen lagi
- Nonton BIGBANG for the first time

2014
- Jadi Manajer Internal IKAMMA dan jadi pejabat sejuta event di FEB UGM
Naik pangkat. Tahun ke-3 ku di FEB UGM semakin sibuk aja dengan tanggung jawab yang lebih besar dari tahun sebelumnya.
- Pertama kali ke luar negeri: Thailand
- Pelihara kucing untuk pertama kalinya
Memelihara kucing nggak pernah ada di dalam bucket listku sebelumnya. Namun setelah momen ini, aku nggak bisa lagi hidup tanpa kucing :")

2015
- KKN di Sabang
- Nonton BIGBANG kedua kalinya
- Masuk pada kisah cinta keempat (yang juga berakhir tahun ini)
- Menulis Reminisensi bab 1
Trivia: Ide Reminisensi didapatkan saat aku KKN di Sabang. Begitu aku mendapatkan idenya, hari itu aku langsung menuliskan bab pertamanya di sana. 
- Magang di Bentang Pustaka
Di sinilah keinginanku untuk masuk dalam dunia perbukuan semakin terpupuk.

2016
- Skripsi dan berusaha untuk lulus
- Menyelesaikan Reminisensi
Kegiatanku tahun ini hanyalah mengerjakan skripsi, sampai pada satu titik aku sangat bosan dan sadar kalau aku punya satu mimpi yang belum terwujud: menulis novel.

2017
- Lulus dari Manajemen FEB UGM
- Belajar menulis dengan serius
- Kenal Mbak Jia dan dapat penerbit
- Pergi UMROH
- Jalan-jalan ke Turki
- Menuliskan naskah kedua yang sampai saat ini belum terbit
Pembaca, doakan ya, semoga naskahku yg ini bisa dapat penerbit :")
- Masuk pada kisah cinta kelima

2018
- Dua kucingku meninggal
- Uti meninggal
- Belajar menulis skrip dan iklan
- Reminisensi terbit
- Terlibat proyek penulisan di sana-sini
Yang membuat aku harus bolak-balik meninggalkan Jogja dan bapakku sendiri di rumah. Perkembangan karir pesat yang menyiksa batinku karena harus jauh dari orang yg paling aku cinta di dunia di saat beliau menua.
- Masuk pada kisah cinta keenam (yang juga berakhir tahun ini)
- Menulis Manakala

2019
- Memutuskan untuk pulang ke Jogja for good
- Kerja di Rumah Warna
- Masuk pada kisah cinta ke-7 (yang juga berakhir tahun ini)
- Masuk pada kisah cinta ke-8 (yang juga berakhir tahun ini)
- Mengerjakan naskah non-fiksi pertamaku
- Menulis Double Tap dan menerbitkannya via Storial
- Menginisiasi Intuisee bersama sahabat
- Kerja di Geluk
- Manakala terbit
- Mengerjakan non-fiksi kedua dan riset novel berikutnya

Ternyata banyak juga ya yang udah terjadi selama 10 tahun. Harus kuakui, menulis tulisan ini membutuhkan waktu 5 jam lho untuk melihat kembali setiap memori dan pelajaran yang sudah aku lewati. Dengan begini aku jadi bisa melihat sejauh apa aku tumbuh dan berkembang dari 10 tahun yang lalu hingga menjadi aku yang hari ini. Sebenarnya, aku masih tetap Finta yang sama, dengan gaya berpakaian yang sama. Namun, Finta yang hari ini pengalamannya lebih banyak. Itu saja. 

Akhir kata, semoga hidup semakin berwarna, hati dan pikiran semakin dewasa dan bijak untuk menghadapi dekade depan.

Have a great life, pals!





27 December 2019

[Life] December, I'm in Love

December 27, 2019 0 Comments


Awalnya, aku kira, aku akan memulai Desember dengan menyusun to-do-list. Lalu selama bulan ini berjalan, aku akan jadi super sibuk menyelesaikan list yang udah aku buat. Rasanya masih banyak sekali yang harus aku lakukan sebelum tahun 2019 bergerak meninggalkanku. Aku masih belum menyelesaikan satu proyek yang udah kurencanakan sejak awal tahun. Aku masih belum bisa nyetir mobil. Aku masih belum ini dan itu. Aneh sekali rasanya ketika aku masih punya banyak checklist yang belum tercentang padahal deadline yang kutentukan tinggal sebentar lagi. 

Jujur aja aku nggak biasa nggak disiplin kaya gini. Tapi mau gimana lagi, ternyata 2019 nggak selancar itu. Makanya, mau nggak mau aku harus membelah fokusku, bahkan kehilangan fokus, dari hal-hal yang semula aku rencanakan untuk diselesaikan tahun ini.

Aku udah mulai kehilangan fokusku dari kuarter terakhir tahun 2019 ini. Bulan Agustus 2019. Saat itu semua terasa baik. Manakala udah mau naik cetak. Aku bahagia dengan pekerjaanku. Double Tap juga berjalan jauh lebih mulus dari bayanganku. Aku juga punya tim Intuisee yang begitu membuka mata dan hatiku. Rasanya tenang dan semua sesuai dengan plan. 

Lalu di tengah ketenangan itu, datanglah September dan badai besarnya. Sebuah badai yang sesungguhnya udah aku perkirakan kehadirannya, tapi nggak dengan kekuatan sebesar ini. Dan lalu porak poranda-lah semuanya. Perlahan tapi pasti.

Kondisiku semakin hari semakin menurun. Aku jadi gampang sakit. Aku nggak bisa tidur. Aku susah fokus. Puncaknya, akhir November 2019, aku sakit. Penyakitnya belum pernah mampir ke tubuhku sebelumnya. Kata dokter, penyebabnya adalah stress. Maka aku memutuskan untuk membawa diriku ke psikolog. 

Itu adalah keputusan yang terpaksa aku buat karena kondisiku saat itu udah nggak karuan. Aku merasa udah kaya zombie. Dan karena aku tahu segala daya dan upaya yang aku lakukan untuk menyembuhkan diri nggak berlangsung dengan baik, maka aku memberanikan diri untuk ditangani oleh professional.

Dan begitulah awal mengapa rencana Desemberku hanya tinggal jadi rencana belaka. Sesuai dengan diskusiku dan sang psikolog, aku mengenyahkan seluruh keharusan yang kubuat sendiri demi kewarasan mentalku. Jadi yang aku lakukan selama Desember ini adalah hidup bebas, tanpa berpikir. 

Ya. Aku menghabiskan Desember ini untuk bersenang-senang, reuni dan jatuh cinta. Semua itu kulakukan bersama seseorang yang sangat spesial sekali dalam hidupku. Seseorang yang selama ini aku kira udah kuperlakukan dengan penuh cinta, tapi ternyata belum. Seseorang yang selama ini berjuang keras demi kebaikanku. Seseorang yang paling pantas aku utamakan dan tinggikan di atas semua yang aku kenal.

Seseorang spesial itu adalah Luthfinta Nurul Dzikrina Sudar a.k.a. diriku sendiri.


Bolehkah aku bertanya, kapan terakhir kali kamu melihat bayanganmu di kaca, menatap dalam kedua bola mata yang menatapmu balik, merasakan setiap rasa yang memancar dari kedua bola mata itu dan sambil tersenyum mengatakan pada bayanganmu sendiri bahwa kamu mencintainya? 

Itu yang aku lakukan. Saat aku selesai melakukan itu, satu hal yang aku tahu, aku merasa jatuh cinta. 
Amat sangat jatuh cinta.

Aku ingin mengenal pemilik kedua bola mata itu lebih jauh. Aku ingin tahu apa yang dia sukai dan tidak. Aku ingin tahu apa yang ingin dia lakukan dan apa yang tidak. Aku ingin membuatnya tertawa. Aku ingin dia merasa aman, nyaman, bahagia. Aku ingin melindunginya dari rasa sakit, dari dunia luar yang kejam. Aku ingin ada. Aku ingin dia merasakan kehangatan. Aku ingin mendengar kejujurannya. Aku ingin dia merasa diterima baik kelebihan maupun kekurangannya. 

Lalu Desember ini aku mulai melakukan pendekatan pada Luthfinta Sudar yang aku kira udah aku kenali seutuhnya. Layaknya orang awam yang melakukan PDKT, aku berkonsultasi pada berbagai sumber yang terpercaya, yang aku yakini dapat melancarkan hubunganku dengan Luthfinta Sudar. Aku membaca banyak buku self-help. Aku belajar apa tu self-love yang sesungguhnya, bagaimana cara mempraktikkannya. 

Berikutnya aku mengajak Luthfinta untuk melakukan kegiatan yang menyenangkan. Yang berkesan. Yang sebelumnya dia nggak pernah lakukan. Memasak, berolahraga, memakan-makanan yang selama ini dia hindari, menonton film yang selama ini dia nggak ingin tonton, menyelesaikan semua hal yang ditunda. Untungnya, Luthfinta suka sekali ditantang. Dia akan sangat bahagia ketika dia merasa bisa mengalahkan dirinya sendiri.

Karena dia udah dalam kondisi nyaman, aku juga jadi lebih mudah mengajak Luthfinta bicara heart-to-heart. Dari pembicaraan itu, kami sering memutuskan hal-hal besar seperti meminta maaf kepada orang yang pernah disakiti, memaafkan orang yang pernah menyakiti, menghapus dan mengunfollow orang-orang yang memberikan efek negative dari sosial media.

Selain itu, aku juga mengajak Luthfinta untuk menikmati setiap detik yang dia punya. Aku nggak ingin dia berpikir terlalu banyak. Aku ingin dia hanya berada pada masa di mana dia berada. Aku ingin dia benar-benar mensyukuri langit jingga yang mengantarnya pulang kantor, aku ingin dia merasakan setiap detil rasa pada makanan yang masuk ke mulutnya, aku ingin dia meresapi betapa segarnya air hujan yang menyentuh kulitnya, aku ingin dia merasakan setiap lirik yang dia nyanyikan saat lagu favoritnya diputar. 

Ada kalanya aku melihat Luthfinta menangis. Jika saat itu datang, yang aku lakukan adalah memeluknya dan mendengarkan keluh kesahnya. Aku nggak menghiburnya. Aku nggak menyuruhnya untuk berhenti sedih. Dia adalah manusia, bukan robot. Luthfinta boleh dan sangat dipersilakan untuk sedih kapan pun dia mau. Yang penting dia tahu aku ada, dan aku menerimanya, bagaimana pun emosi dan keadaannya. 

Yang kurasakan setelah menghabiskan hampir sebulan ini dengan jatuh cinta pada diriku sendiri adalah satu hal: bahagia.

Yang sangat kusadari dari seluruh kejadian ini adalah bahwa pertolongan pertama yang bisa menyelamatkanmu dari segala badai yang menerpa sesungguhnya sangatlah dekat. Meskipun kadang terasa begitu berjarak, tapi nyatanya nggak. 

Dan tentang cinta, kamu nggak akan bisa memberikannya kepada siapapun juga, kalau kamu sendiri nggak memilikinya, bahkan untuk dirimu sendiri.

Jadi, sudahkah kamu jatuh cinta pada dirimu sendiri hari ini? 😊




06 December 2019

[Life] Cerita Tentang Manakala

December 06, 2019 0 Comments

manakala/ma·na·ka·la/ p kata penghubung untuk menandai syarat (waktu)

Tepat tanggal 28 Oktober kemarin, aku merayakan suatu hal yang lebih dari Hari Sumpah Pemuda. Yak, novel kedua-ku, Manakala akhirnya terbit!

Senang dan lega semua bercampur aduk menjadi satu di hatiku. Setelah melewati proses yang lumayan panjang, dari mulai riset, penyusunan plot, pembentukan karakter, penulisan, editing dan segala tetek bengeknya, akhirnya jadi juga. Manakala ini memang mengalami proses ‘persalinan’ yang lebih menantang plus menguras perasaan dibandingkan kakaknya, Reminisensi.

Tentang apakah novel Manakala ini sebenarnya? Dan kenapa judulnya Manakala? Oke akan aku ceritakan secara garis besar melalui postinganku kali ini.

Manakala berkisah tentang dua orang sahabat yaitu Karel dan Auri. Mereka bersahabat sudah sangat lama. Mereka terlalu dekat sampai pada suatu hari persahabatan mereka berada di ujung tanduk dan kehilangan arah saat Karel menyatakan cinta kepada Auri. 

Oke.

Itu adalah sekilas yang bisa diambil dari blurb di belakang bukunya. Faktanya, cerita ini sama sekali nggak cheesy dan nggak kaya cerita friendzone pada umumnya.

Auri baru saja kehilangan pacar sekaligus poros hidupnya, yaitu Elang. Dengan kehilangan Elang, kaki Auri limbung selimbung-limbungnya. Selain dilanda kesedihan, Auri juga jadi mempertanyakan jati dirinya dan tujuan hidupnya.

Di sisi lain Karel, hidup Karel mengalir begitu saja seperti air, tanpa kontrol. Dalam aliran itu, banyak sekali riak-riak yang harus dia lewati. Hati Karel penuh ketidakpuasan, ada banyak luka yang ingin dia sembuhkan tetapi menggunakan obat yang salah. 

Seolah belum cukup rumit, perasaan yang mengendap di hati keduanya terhadap satu sama lain juga memperkeruh suasana.

Dan alasan ini lah yang membuat aku suka dengan kata Manakala untuk menjadi judul dalam novelku kali ini. Karena terlalu banyak syarat dan waktu untuk akhirnya Auri dan Karel bisa menuju kepada ketentraman hati dan hidup masing-masing.

Novel ini diceritakan dari dua sudut pandang yang berbeda antara Auri dan Karel. Pembaca kuajak menyelami labirin-labirin pikiran dan rasa mereka. Bagaimana setiap kejadian terjadi dan keputusan dibuat, semua ada justifikasinya. 

Hal yang menarik lagi dari Manakala adalah latar tempatnya yang banyak, baik di luar atau dalam negeri, lalu rentang waktu yang cukup panjang dan lagu Ed Sheeran di setiap pembuka bab.


Jujur, aku sangat menikmati proses penulisannya. Aku masih ingat malam-malam yang kuhabiskan untuk menonton berbagai macam video di YouTube, atau titik-titik air mata yang mengalir di pipiku saat membaca artikel-artikel tentang kehilangan di website-website psikologi dalam rangka riset.

Membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menyusun plotnya yang rumit. Sumpah, rasanya seperti menyusun puzzle. Membingungkan tapi menyenangkan. Aku juga ingat bagaimana rasanya ketika akhirnya cerita itu sampai pada titik terakhirnya. Perasaan yang aneh. Lega sekali tetapi ada sesuatu yang hilang dalam diriku karena lepas dari suatu cerita yang sangat aku sukai.

Manakala menurutku adalah roller coaster. Di dalamnya ada banyak sekali emosi yang bergejolak. Beraneka ragam. 

Saat menuliskannya, rasa itu lah yang aku nikmati. Dan aku berharap, pembaca juga akan menikmati setiap rasa yang disediakan oleh Manakala.

Selamat membaca :)