Follow @luthfintasudar

09 January 2020

[Life] Letter to Gemini



Dear Gemini,

Aku masih ingat saat terakhir kali kita bertemu. Matamu membesar, bingung melihat kehadiranku yang tidak pernah kamu rencanakan. Tapi mau tidak mau kamu harus menerimaku, karena jika tidak, apa kata dunia terhadap kita nanti?

Aku duduk di sana mendengarkan kamu bercerita tentang dia. Sadarkah kamu? Ini pertama kalinya aku mendengar kamu bercerita begitu detil tentang dia di hadapanku.

Malam itu satu-satunya cara untuk menahan air mataku agar tidak tumpah adalah memasukkan bergelas-gelas air teh ke dalam tubuhku. Jujur, aku belum pernah minum teh sebanyak itu dalam hidupku.

Gemini, percayalah, aku tidak pernah menolak air mata itu. Bahkan, mungkin itu lah alasan dibalik kedatanganku. Dan ya, memang, malam itu telah mengubah segalanya. Malam itu adalah suatu titik balik bagi hidupku.

Aku ingat, beberapa tahun yang lalu, sebelum semua kata hilang di antara kita, kamu pernah bilang, “Aku capek sama tingkahmu yang nggak jelas. Nggak ada apa-apa, aku didiemin tanpa alasan.”

Lalu beberapa waktu kemudian, kamu tahu alasannya: aku cinta sama kamu dan atas segala kedekatan yang kita punya, bahkan setelah beberapa kali kamu memintaku menjadi istrimu dalam pesan-pesan yang kamu tulis, atau kata-kata yang keluar dari mulutmu, toh kita tidak bersama.

Aneh, ya?

Tapi kamu tahu apa yang lebih aneh? Yang lebih aneh adalah bahwa sepertinya sampai saat aku membuat tulisan ini, perasaan itu belum sepenuhnya hilang dari hatiku. Sekarang, ketika hari bahagiamu dapat dihitung jari, perasaan itu menggerogotiku sampai ke seluruh atom di dalam tubuhku.

Gemini, aku sudah berhenti menyalahkan masa lalu. Aku sudah berhenti menelusur dari mana ini semua berawal. Aku sudah berhenti menetapkanmu sebagai tersangka karena, ya, dicintai itu bukan dosa. Membahas masa lalu tidak akan pernah membawaku ke mana-mana kecuali pada ketidakrelaan. Ketidakrelaan bahwa keindahan itu memang pernah ada, tetapi sudah berlalu.

Aku menganggap pelajaran yang Tuhan berikan lewat kamu itu indah, Gemini. Tuhan itu Maha Cinta, dan cinta itu anugerah yang indah.

Dari kamu aku banyak belajar tentang mencintai. Seberapa besar aku mampu bertindak, berkorban, dan memberi. Sampai titik mana aku merasa aku telah berlebihan mencintaimu dan mengorbankan rasa cintaku untuk diriku sendiri. Kapankah perasaan cinta itu lalu berubah menjadi pamrih. Kapan rasa cinta itu berubah menjadi obsesi dan bergeser keluar batas. Bagaimana rasa cinta itu lalu berubah menjadi kata-kata jahat. Bagaimana pengharapan tinggi itu luluh lantak lalu berdiri lagi menjadi benteng kokok penuh amarah dan dijaga oleh prajurit-prajurit berseragamkan harga diri.

Aku belajar banyak, Gemini. Lalu pelajaran itu berpadu dengan energi besar yang bersumber dari amarah, berubah bentuk menjadi karya. Kini, angan-angan masa kecilku untuk melihat namaku ada di rak-rak toko buku telah menjadi nyata. Untuk jasa besarmu itu, aku belum sempat mengucapkan terima kasih.

Gemini, di hari ketika aku memutuskan silaturahmi kita, aku sudah tahu bahwa hari pernikahanmu adalah bom waktu untukku. Tidak pernah kusangka sebelumnya, bahwa bom itu ternyata memiliki kekuatan yang berlipat-lipat lebih dahsyat daripada perkiraanku.

Aku hancur, Gemini. Aku luluh lantak. Kamu membuatnya menjadi jauh lebih sulit daripada yang aku sanggup terima.

Aku tidak memerlukan undanganmu. Aku tidak memerlukan seragam darimu. Aku tidak memerlukan kedatanganmu ke rumahku. Aku tidak memerlukan kebaikanmu meski alasannya adalah demi kebaikan kita berdua. Aku tidak memerlukan semua itu.

Percayalah, semua keanehan yang aku sebabkan ini akarnya karena semua hal yang paling tidak aku perlukan tergeletak di pelupuk mataku. Lalu semua reaksi yang kuberikan ini hanyalah cerminan betapa berantakannya aku saat ini, Gemini.

Namun, aku ingin membereskan semua ini. Aku ingin berdamai. Aku ingin menyelesaikan semuanya tanpa ada yang tersisa lagi. Aku ingin membersihkan isi hati dan kepalaku dari amarah, dendam, ketidak-relaan dan segala emosi negatif lainnya sehingga kata ‘selamat’ bisa mengalir lancar dari bibirku.

Aku tahu aku tidak bisa tidak sedih. Aku tidak bisa berpura-pura baik-baik saja meskipun aku ada dalam kesadaran penuh bahwa yang aku cinta sebenarnya adalah bayanganmu yang ada di kepalaku, bukan sosokmu yang ada hari ini.

Mungkin itu alasannya Tuhan meletakkan perasaan di hati, bukan di kepala. Sebab rasa itu tidak rasional, setidaknya bagiku.

Aku tidak tahu saat ini apa yang aku rasa, mungkin cinta atau bisa juga obsesi. Yang aku tahu, aku menyayangimu, Gemini, tidak peduli peran apapun yang kamu mainkan di hadapanku.

Gemini, rasa sayang itu membuat aku menyadari, bahwa sehancur apapun perasaanku sekarang, setidak ikhlas apapun aku mengucapkan kata ‘selamat’ untukmu nanti, aku tetap ingin kamu berbahagia dengan hidup yang kamu pilih.

Berbahagialah. Pergilah selamanya dari hidupku. Terima kasih sudah bergerak menutup pintu yang ada di antara kita dengan cara terbaik yang bisa kamu pikirkan. Semoga setelah ini, setelah aku selesai dengan segala dukaku, aku benar-benar bisa membuka lembaran yang benar-benar baru.

Yang tersisa ini sudah cukup. Tidak perlu ada kita lagi.

Meski hanya dalam fantasi.





No comments:

Post a Comment

Hai :)
Thank you for reading. Feel free to leave me a comment ya. Anything except spam are welcome. I will definitely reply anything you write for me and visit your site too.