Follow @luthfintasudar

13 March 2020

[Life] Memasak: Sebuah Terapi Psikologis

March 13, 2020 0 Comments
Aku nggak suka masak. Se-enggak suka itu. Lebih parahnya, bahkan aku takut banget sama pisau. Aku bisa merinding banget kalau dekat pisau, jantungku berdetak lebih cepat, terkadang sampai nangis. Orang tuaku tahu mengenai ini, dan mereka nggak pernah memaksaku sekali pun untuk masak. Di rumah, bahkan kami langganan catering. Waktu KKN dulu, kalau ada saat di mana teman-temanku membantu warga di dapur, aku memilih pergi. 

Selama 25 tahun, kata masak bukan suatu kata yang aku bayangkan akan ada dalam kamus hidupku. Sampai pada suatu hari aku memutuskan untuk mengalahkan diriku sendiri dan berakhir benar-benar jatuh cinta dengan kegiatan berbasis di dapur itu.

Kok bisa? 

Iya, semua berawal dari saat aku pergi ke psikolog. Pada saat itu, aku sedang sangat sedih dan depresi. Salah satu terapi yang disarankan oleh sang psikolog adalah suatu hal yang berkaitan dengan menulis. Aku kira melakukan terapi itu akan sangat mudah, mengingat menulis memang selalu menjadi terapiku.

Tapi ternyata nggak, tiba-tiba nggak satu katapun muncul di kepalaku. Bukannya makin fresh, aku malah jadi makin pusing karena nggak bisa menulis. 

Di saat itulah aku jadi teringat ibuku. 

Sudah bertahun-tahun aku nggak tinggal dengan ibuku. Hal itu juga membuat aku jadi nggak pernah lagi merasakan bentuk kehangatan terkecil tapi termanjur yang adalah berupa masakan ibu. 

Jadi, kenapa nggak coba memasak sesuatu yang dulu sering ibu buatkan buat aku? Siapa tahu aku bisa jadi lebih segar. Lagi pula, salah satu pola yang aku punya setiap kali aku merasa sedih adalah aku selalu mencoba untuk mengalahkan diriku sendiri. Mungkin dengan memasak, mengalahkan ketakutanku sendiri terhadap pisau dapur, aku bisa merasa lebih baik.

Langkah pertama, aku menelpon ibuku dan menanyakan seluruh bumbu rahasia dan bagaimana cara membuat makanan favoritku waktu aku kecil dulu. Dan taraaaaaaaaaaaa beberapa jam kemudian, jadilah duplikasi Sup Tomat ala Ibuku versiku!

Sup Tomat ala Ibuku. Gambarnya nggak bagus karena memang nggak terbayang akan kubuatkan blog post. Foto ini diambil hanya dalam rangka untuk dikirimkan ke Ibuku via WA.

Surprisingly, setelah menyantap Sup Tomat itu, aku merasa jauh lebih baik. Rasanya seperti ada yg membuncah di dadaku. Setelah lama nggak bisa senyum dan bahagia, hari itu aku rasanya seperti terlahir kembali.

Aku bisa bilang kalau aku sangat menikmati acara memasakku. Memasak membuatku “being in the moment”, mungkin karena kesadaran sensorik penting dalam menjaga keamanan saat berhadapan dengan benda-benda panas dan tajam. Aku menikmati saat-saat mendebarkanku berinteraksi dengan pisau. Rasanya pikiranku diam di tempat. Aku hanya fokus dan konsentrasi dengan apa yang sedang aku buat.

Setelah prosesnya selesai, aku juga rasanya bahagia sekali karena seperti sudah mencapai suatu milestone tersendiri. Aku merasa mengalahkan diriku sendiri dan completing a mission makes me feel good about myself. Plus rasa masakanku ternyata persis seperti apa yang aku mau, yang aku rindukan.

Sekarang aku benar-benar percaya pada mereka yang bilang kalau memasak bisa menjadi suatu terapi psikologis karena aku benar-benar merasakannya. Sekarang aku jadi memasak setiap weekend. Berpikir mau masak apa, belanja, membersihkan bahan, mengolah dan bahkan membersihkan setelah selesai memasak, semua itu terasa sangat menyenangkan karena dilakukan tanpa paksaan dan tekanan.

Cooking has therapeutic value physically, cognitively, socially and intrapersonally. Physically, cooking requires good movement in shoulders, fingers, wrists, elbow, neck, as well as good overall balance. Adequate muscle strength is needed in upper limbs for lifting, mixing, cutting and chopping.

Begitu kata salah satu artikel tentang Cooking Therapy yang aku baca di Wall Street Journal. Mungkin kamu harus coba!





Ps: My psychologist shed tears when I told her this story. Like seriously I was super touched by her respond. Its not even a mellow story!

01 March 2020

[Life] Hours to 26: Tentang Menjadi Dewasa

March 01, 2020 0 Comments


1 Maret 2020. Beberapa jam lagi, aku akan mengentaskan diri dari usia 25 ke 26. Itu artinya, aku akan memasuki paruh kedua menuju dekade ketiga hidupku.

Jujur, aku takut menjadi semakin tua. Ternyata, kehidupan orang dewasa itu susah sekali.

Menjadi dewasa memintaku untuk lebih menyadari fisik dan tubuhku sendiri. 

Sebelumnya, aku nggak begitu peduli dengan makanan apa yang masuk ke tubuhku, keharusan untuk olahraga, bahkan pentingnya minum air. Sekarang, aku tahu bahwa mungkin, dari titik ini fisikku akan berubah. Aku bahkan sudah merasakannya. Dulu aku kurus sekali, kini tubuhku membesar. Aku nggak lagi selincah dulu. Jika aku stres, maka kulitku akan muncul jerawat seberapa pun mahal skincare yang aku gunakan. Jika aku kurang tidur, maka tubuhku akan pegal seharian dan aku jadi gampang sakit.

Menjadi dewasa membuatku harus bisa menghasilkan dan mampu bertanggung jawab atas uangku sendiri.

Iya, aku memang masih hidup bersama bapakku. Bapakku mampu secara finansial, tapi bukan berarti aku masih menggantungkan seluruh biaya hidupku pada beliau seperti dulu saat aku masih sekolah dan kuliah. Baktiku pada orang tua nggak sama dengan manja. Ya, ini tahun 2020 di mana kesetaraan gender diteriakkan lantang. Kurasa aku nggak perlu menjelaskan bahwa nggak hanya laki-laki saja yang harus bekerja setelah lulus kuliah, perempuan pun juga. Terlebih ketika aku menjunjung tinggi independensi perempuan dan aku juga perempuan yang punya visi untuk hidupku ke depannya. 

Menjadi dewasa menuntutku untuk selalu baik-baik saja. 

Aku nggak bisa lagi seenaknya bolos kelas kalau aku sedang sangat sedih dan kehilangan mood untuk melakukan apapun seperti saat aku masih sekolah dan kuliah dulu. Dunia kerja nggak sefleksibel itu. Aku nggak bisa lagi dengan mudah mendatangi sahabatku malam-malam karena ingin menangisi hidupku dalam pelukan mereka. Mereka sudah nggak lagi satu kota denganku, selain itu, mereka juga punya masalah hidup yang keras, yang harus mereka hadapi dalam rangka melanjutkan hidup. 

Menjadi dewasa membuat peranku sebagai makhluk sosial semakin banyak, dan aku dituntut untuk menjalankan semua peran itu dengan baik dan bertanggungjawab.

Aku adalah seorang anak, seorang kakak, seorang adik, seorang cucu, seorang keponakan, seorang sahabat, seorang teman, seorang kolega, seorang atasan, seorang bawahan, seorang penulis, seorang karyawan, seorang tante, seorang tetangga, seorang umat beragama, seorang warga negara, dan berbagai peran lainnya

Aku heran, bagaimana seorang manusia bisa menjalankan sebegitu banyak peran dan nggak meledak?

Semakin nggak masuk akal lagi ketika peran-peran itu mempengaruhi keputusan-keputusan yang kuambil dalam hidupku. Lucu, padahal aku kira aku adalah manusia yang independent dan melakukan semua hal sesuai dengan kemauanku. Nyatanya, aku nggak berdaya juga dengan peran-peran yang melekat dalam diriku.

Terkadang, aku membayangkan bangun di suatu tempat yang jauh dan satu-satunya peran yang kusandang adalah sebagai seorang Finta. Di tempat itu, aku bebas mengatakan apa yang ada dalam pikiranku tanpa harus terganggu dengan peran lain yang melekat dalam diriku. Aku bebas mengenakan apapun yang aku inginkan untuk membalut tubuhku. Aku bebas menjadi apapun yang aku mau.

Karena, ternyata semakin lama hidup di bumi ini, semakin susah rasanya melindungi originalitas diri. Ya, originalitas. Sesuatu yang sangat aku banggakan karena hanya diriku yang punya. 

Bukan. Bukannya aku nggak bersyukur dengan hidupku saat ini. Jujur saja, jika dikatakan puas, aku belum puas dengan pencapaianku di usia ini. Tapi aku nggak kecewa juga. Aku 1000% bangga dengan diriku. Aku sangat sangat sangat bersyukur atas apa yang kumiliki sekarang. Aku teringat malam-malam di mana aku menengadahkan tangan, berdoa untuk segala hal yang aku miliki sekarang. 

Aku hanya kaget saja dengan satu tahapan baru dalam hidupku ini. Tapi di atas kekagetanku, kurasa aku baik-baik saja dan siap berpetualang menyelesaikan berbagai macam misiku dalam hidup yang hanya sekali ini. 

Allah baik sekali padaku di usiaku yang 25 kemarin ini. Walaupun kadang kebaikannya terasa menyakitkan.

Umur 25 adalah umur di mana Allah menjawab banyak sekali permintaan dan pertanyaanku. Maka dari itu, aku merasa umur 26 adalah umur di mana semuanya benar-benar baru. Aku seperti harus meraba lagi dari awal setiap aspek dalam hidupku, termasuk menjadi diriku sendiri. Karena ya, aku tumbuh. Aku berubah. Aku sudah bukan Luthfinta Sudar yang sama lagi dengan Luthfinta yang beberapa tahun lalu. Dan ini sangat-sangatlah menarik.

Menjadi dewasa membuatku tertarik untuk mengenal diriku sendiri, menyelesaikan semua yang belum selesai sebelum membuat keputusan besar baru. Karena, menjadi dewasa artinya aku juga harus bertanggung jawab atas diriku sendiri. Nggak hanya secara finansial, lahiriah, tetapi juga secara batiniah. 

Aku masih hidup dalam motto yang sama sejak bertahun-tahun yang lalu, bahwa kebahagiaanku adalah tanggung jawabku sendiri. Nggak ada hubungannya dengan orang lain. Dan semakin dewasa, aku bersyukur karena sejak remaja, aku sudah hidup dengan cara seperti itu sehingga aku tumbuh menjadi seseorang yang tidak pernah menyesal.

Berkenaan dengan itu, menjadi dewasa juga menuntutku untuk tahu apa itu kebahagiaanku sendiri.

Terkadang aku bingung bagaimana semua itu berjalan. Terlalu tricky. Melakukan apa yang aku mau membuatku bahagia, tetapi melakukan yang aku mau terkadang harus melukai peran-peranku yang lain, yang membuat beberapa orang menjadi kecewa. Dan mengecewakan orang lain tidak pernah ada dalam daftar hal-hal yang bisa membuatku bahagia.

Jadi aku suka bertanya-tanya, bagaimana sih sebenarnya bahagia yang aku mau?

Dan lalu menjadi dewasa mengharuskanku untuk menutup telinga. Nggak membiarkan hal-hal nggak penting seperti standar dan omongan orang lain atas keputusanku menyinggung perasaanku.

Karena aku tahu, pada akhirnya pun aku lah yang menjalani hidupku. 

Aku. Bukan mereka. Mereka nggak tahu apa-apa.

-000-

1 Maret 2020. Beberapa jam lagi, aku akan mengentaskan diri dari usia 25 ke 26.

Di tahun-tahun sebelumnya, tanggal 1 Maret selalu kugunakan untuk ke salon. Pasti. Nggak pernah nggak. 

Baru kali ini aku nggak melakukannya karena untuk tahun ini, aku nggak menemukan satu alasan pun kenapa aku harus ke salon. 

Aku menyukai rambutku yang sekarang. Jadi, aku nggak perlu potong atau mengubah model rambut. Selain itu, tahun ini, karena aku sudah malas sekali nongkrong-nongkrong di kafe atau hang out ke mana pun, setiap aku bosan, aku ke salon (dan bioskop). Jadi, hal itu membuat perawatan ke salon nggak lagi spesial untuk dilakukan lagi. 

Yang kulakukan hari ini justru adalah membuat pesta kecil untuk diriku sendiri, memasakkan makanan untukku, dan menuliskan tulisan ini karena mengeluarkan apa yang ada di pikiranku dengan bebas adalah satu dari sekian hal yang sangat ingin aku lakukan belakangan ini. 

Hanya dengan cara merayakan tanggal 1 Maret yang berbeda saja membuatku semakin sadar bahwa, ya, mungkin aku memang sudah berubah. 

Umur 26 ini akan benar-benar berbeda dengan tahun yang sudah-sudah.

Wish me luck. Bismillah 😊